Personal Development

Etika Karyawan dalam Berbisnis

Anda mungkin sudah memahami bahwa kalau ingin memiliki kekayaan, Anda perlu menjadi seorang pebisnis. Karena menjadi karyawan terdapat batasan atas mendapatkan income. Robert T Kiyosaki sejak buku pertamanya Rich dad Poor Dad selalu menuliskan seg...


Mungkin Anda sudah memahami, bahwa jika ingin memiliki kekayaan, maka Anda harus menjadi seorang pebisnis. Pasalnya, menjadi karyawan biasa tentunya memiliki batasan dalam mendapatkan income.

Robert T Kiyosaki dalam buku pertamanya berjudul ‘Rich Dad Poor Dad,’ menuliskan: Segeralah pindah kuadran. Dari kuadran kiri yaitu Employee (E) dan Self Employee (SE) ke kuadran sebelah kanan yaitu Business Owner (BO) dan Investor (I). Juga sangat dianjurkan sebelum terjun menjadi seorang investor, sebaiknya menjadi Business Owner terlebih dahulu, agar lebih memahami tentang sistem dan mentalitas yang sangat penting untuk menjadi seorang investor.

Saya ingin share perspektif saya tentang etika berbisnis seseorang yang masih aktif bekerja sebagai karyawan. Saya yakin Anda juga sering mendengar kisah seorang karyawan yang resign dan mendirikan bisnis sendiri setelah bekerja beberapa waktu di sebuah perusahaan. Bisnis yang mereka dirikan sama dengan yang dikerjakannya saat berstatus sebagai karyawan dulu. Artinya, mereka mendirikan bisnis untuk menjadi kompetitor perusahaan tempat mereka pernah bekerja dulu. Bagaimana dengan etika berbisnis seperti ini?

Sebelum memulai bisnisnya, pada umumnya mereka sudah mulai mengambil kesempatan untuk melakukan pendekatan kepada klien/customer perusahaan tempat mereka bekerja. Ketika sudah mendirikan bisnis sendiri, mereka akan menawarkan service yang sama, tetapi dengan harga yang lebih murah.

Dimulai dari mendapatkan satu klien/customer, kemudian terus bergerilya untuk mengambilalih klien/customer yang selama ini merupakan klien/customer perusahaan tempat mereka bekerja.

Menurut saya, contoh di atas adalah contoh berbisnis tanpa etika. Tanpa etika, dikarenakan mereka mendapatkan keuntungan yang berasal dari transaksi bisnis dengan klien/customer perusahaan tempat mereka masih aktif bekerja sementara mereka masih mendapatkan gaji. Keuntungan tersebut seharusnya bisa masuk ke rekening perusahaan yang akan digunakan untuk operational perusahaan tersebut, salah satunya untuk membayar gaji karyawan.

Dalam beberapa kesempatan saya berdiskusi dengan beberapa orang tentang starting business. Ketika saya sharing tentang etika bisnis ini, entah kenapa saya sering menemukan jawaban yang sama. Mereka bilang kira-kira seperti ini: “Jadi saya harus melakukan bisnis apa? Karena saya telah bekerja sekian lama, maka saya hanya mengerti tentang area bisnis ini saja.”

Menanggapi jawaban tersebut, saya percaya Tuhan membuat dunia ini sebegitu luasnya, sehingga jika mau menggunakan kekuatan pikiran sedikit lebih banyak, pasti akan menemukan solusinya. Solusi untuk starting business tanpa harus menjadi kompetitor perusahaan yang selama ini memberikan nafkah untuk kehidupan keluarga mereka.

Memang tidak mudah menemukan bisnis yang sesuai dengan kelebihan dan kekurangan kita dan tidak menjadi kompetitor perusahaan tempat kita bekerja. Sementara ketika kita bekerja dengan performa tinggi, kita telah menghabiskan waktu dan tenaga untuk mencapai target-target yang ditentukan perusahaan dan tiba-tiba kita merasa sudah menjadi spesialis di bidang kerja tersebut.

Dari banyak seminar dan buku-buku yang pernah saya baca, saya menarik kesimpulan untuk saya sendiri, bagaimana bisa memulai bisnis dan tidak menjadi kompetitor dengan perusahaan tempat kita bekerja, antara lain:

1. Setiap Bisnis Mempunyai Bagian Hulu dan Hilir.

Bagian hulu biasanaya diartikan sebagai bagian produksi dan bagian hilir adalah bagian pembeli (buyer). Anda bisa berbisnis dari bagian hulu maupun bagian hilir. Di mana ‘strengthens’ Anda? Jika kekuatan Anda memiliki akses di bagian hulu, maka Anda bisa memulai bisnis di bagian itu.  Anda tinggal mencari siapa yang membutuhkan produk atau jasa tersebut. Sebaliknya, jika kekuatan Anda berada di bagian buyer, maka Anda bisa memulai bisnis Anda di bagian hilir dan mencari siapa yang bisa menyediakan barang atau jasa yang dibutuhkan buyer Anda.

2.   Sesuaikan Kekuatan dengan Keterbatasan Anda:

Waktu. Karyawan tentu memiliki keterbatasan dengan waktu. Apakah bisnis yang akan Anda lakukan bisa dikerjakan di sisa-sisa waktu kerja Anda?

Finansial.   Bagaimana dengan keterbatasan finansial? Apakah Anda tetap bisa memulai bisnis Anda dengan keterbatasan finansial tersebut? Satu hal tentang keterbatasan finansial, modal utama Anda adalah IDE. Jika Anda memiliki ide cemerlang, tapi modal Anda terbatas, maka Anda tetap bisa memulai bisnis dengan cara OPM (Other People Money). Yang perlu Anda lakukan adalah menyiapkan konsep kerja sama yang menarik, sehingga Anda bisa mendapatkan investor yang bersedia menginvestasikan uang mereka untuk menjalankan bisnis Anda.

Mobilitas. Apakah bisnis yang akan Anda lakukan dapat dioperasionalkan di lebih dari satu tempat? Hal ini berhubungan dengan banyaknya waktu dan uang yang harus Anda keluarkan.

3.   Ilmu

Robert Kiyosaki selalu menuliskan tentang sistem. Menjadi Business Owner (BO) berarti membuat sistem, sehingga bisnis Anda bisa berjalan tanpa tergantung atas kehadiran Anda secara fisik. Kehadirian fisik inilah yang membedakan BO dengan Self Employee (SE). Robert juga menuliskan bagaimana cara mengetahui apakah Anda seorang BO atau SE dengan melakukan uji coba sederhana. Anda tinggalkan perusahaan Anda selama lima tahun. Kalau omset perusahaan Anda terus naik, maka Anda adalah seorang BO, karena sistem Anda telah berhasil menggantikan kehadiran fisik Anda.

4.   Jangan Pernah Melupakan Kesenangan Anda

Bisnis adalah program jangka panjang, di mana Anda ingin memiliki bisnis yang bisa menjadi mesin uang yang tidak pernah berhenti. pastikan bisnis yang Anda pilih sesuai dengan keinginan dan sesuatu yang Anda senangi. Jika Anda melakukan bisnis dan Anda merasa tidak enjoy, maka biasanya bisnis Anda tidak akan berjalan lama. Perhatikan bagaimana pebisnis kelas dunia membangun kerajaan bisnis mereka. Biasanya didasari sesuatu yang membuat mereka enjoy untuk melakukan bisnis tersebut.

 

Dari beberapa penjelasan di atas, saya yakin Anda dapat mulai membangun diri Anda menjadi orang yang terbaik dan bahagia menuju ke impian Anda selama ini.

 

Great Success

Coach Margetty Herwin

Jika Anda seorang pebisnis, professional yang ingin menjadi pebisnis ataupun personal yang ingin menemukan potensi terbaik yang ada dalam diri Anda, silahkan hubungi Master Coach Margetty Herwin, di margetty@smartbisniscoach.com

Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topic seminar kami di 2012, silahkan contact via email margetty@yahoo.com atau telpon +6221 7502788, SMART Business Coaching Firm. Atau join di website saya www.smartbisniscoach.com

Margetty Herwin is a Certified Master Coach: 1. Life Coach, 2. Executive Coach, 3. Business and Money Coach, 4. NLP Coach & Time Line Therapy, 5. Green Belt Six Sigma Coach. 6. Master Trainer STRATEGYZER Business Model 7. Graphology My Vision: Wealth, Abundance and High Performance through Coaching My Mission: "Making Many People Happier, Wealthy and Abundance in life and business, with Coaching and Business Re-education “ "Creating 1 Million Billionaire in Indonesia" My Positive Value and Culture: 1. Success 2. Meaningful 3. Accountable 4. Result Oriented 5. Trust

0 comments on “Etika Karyawan dalam Berbisnis

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: