9 Elemen Penting Kesuksesan Bisnis Keluarga

9 Elemen Kunci Kesuksesan Bisnis Keluarga

Oleh: ALLEN E. FISHMAN

Bisnis keluarga memiliki dinamika yang unik karena di dalamnya bercampur dua dunia yang sangat berbeda: hubungan emosional keluarga dan tujuan profesional perusahaan.
Banyak usaha keluarga tumbuh dari semangat dan kerja keras generasi pertama, namun tidak sedikit yang gagal bertahan ke generasi berikutnya.
Menurut Family Business Institute, hanya 30% bisnis keluarga yang bertahan ke generasi kedua, 12% ke generasi ketiga, dan hanya 3% yang mencapai generasi keempat.

Buku ini menguraikan sembilan elemen penting agar bisnis keluarga bisa terus tumbuh sehat, harmonis, dan berkelanjutan.


1. Kepemimpinan dan Identitas Pemilik (FBL – Family Business Leader)

Setiap bisnis keluarga dimulai dari visi dan nilai seorang pendiri. Namun banyak pemilik (FBL) kesulitan melepaskan kendali ketika waktunya tiba untuk regenerasi. Mereka takut kehilangan makna hidup dan merasa tidak lagi dibutuhkan.
Allen E. Fishman menekankan bahwa FBL perlu menyadari bahwa identitas dirinya bukan hanya bisnisnya. Menyerahkan sebagian tanggung jawab kepada penerus bukan berarti kehilangan nilai, melainkan memberi kesempatan bagi generasi berikut untuk berkembang. Saat pemilik mulai mempercayakan kendali, ia justru bisa menikmati hasil dari “mesin” yang telah dibangunnya bersama orang yang ia cintai.


2. Pemilihan dan Pengembangan Penerus

Proses suksesi adalah inti dari keberlangsungan bisnis keluarga. Kesalahan umum yang sering terjadi adalah pemilik menunda memilih penerus karena takut konflik keluarga atau tidak siap kehilangan kontrol.
Pemilihan penerus tidak cukup dengan menunjuk anak atau kerabat; mereka perlu dibimbing dan dilatih secara profesional. Program seperti Strategic Business Leadership (SBL) dapat membantu penerus memahami visi perusahaan, SWOT, dan rencana strategis jangka panjang.
Selain itu, keterlibatan penerus dalam rapat mingguan, perencanaan tahunan, dan proyek strategis akan mempercepat kesiapan mereka memimpin bisnis keluarga di masa depan.


3. Transfer Pengetahuan dan Nilai Bisnis

Banyak pemilik secara tidak sadar menyimpan “rahasia bisnis” hanya di kepala mereka. Padahal, tanpa proses transfer yang sistematis, pengalaman dan kebijaksanaan yang diperoleh selama puluhan tahun bisa hilang ketika sang pemilik tidak lagi aktif.
Oleh karena itu, Fishman menyarankan agar setiap FBL menjadwalkan pertemuan rutin untuk berbagi pengalaman dan insight bisnis dengan penerus. Tidak hanya data finansial dan operasional, tetapi juga filosofi, cara berpikir, dan nilai-nilai etika bisnis yang telah menjadi fondasi keberhasilan perusahaan.


4. Budaya dan Komunikasi dalam Bisnis Keluarga

Budaya keluarga yang terbawa ke bisnis bisa menjadi kekuatan sekaligus hambatan. Emosi masa kecil sering kali ikut terbawa dalam interaksi kerja. Nada bicara, ekspresi wajah, atau bahkan kenangan masa lalu dapat memicu konflik di tempat kerja.
Untuk mengatasinya, Fishman memperkenalkan metode TABenos — singkatan dari temenos (bahasa Yunani: “sanctuary”) — yaitu proses menciptakan ruang komunikasi aman di mana setiap anggota keluarga bisa menyampaikan pendapat tanpa rasa takut atau dihakimi.
Tujuan akhirnya adalah membangun budaya yang menghargai perbedaan, mendengar dengan empati, dan menyelesaikan konflik secara dewasa.


5. Keterbukaan terhadap Inovasi Generasi Baru

Salah satu “Cultural Pothole” terbesar adalah ketika orang tua yang memimpin bisnis tidak terbuka terhadap ide inovatif anak-anak mereka.
Kebiasaan masa kecil di mana anak selalu diarahkan untuk “menuruti” orang tua sering berlanjut ke tempat kerja. Akibatnya, ide segar sering diabaikan, dan generasi muda kehilangan semangat berkreasi.
Pemimpin keluarga perlu memberi ruang bagi generasi berikut untuk berinovasi, tanpa merasa posisinya terancam. Inovasi adalah bahan bakar pertumbuhan jangka panjang bisnis keluarga.


6. Menghindari Rivalitas Saudara

Pertikaian antar-saudara adalah sumber konflik klasik dalam bisnis keluarga. Persaingan yang dimulai sejak kecil bisa berubah menjadi pertarungan kekuasaan di kantor. Fishman menekankan pentingnya pembagian peran dan deskripsi kerja yang jelas agar tidak terjadi kebingungan peran atau perebutan wilayah.
Bila perlu, libatkan pihak ketiga (coach atau konsultan) untuk membantu membangun sistem kerja objektif yang menilai kinerja berdasarkan kontribusi, bukan hubungan darah.


7. Etika dan Kerahasiaan Internal

Dalam bisnis keluarga, pembicaraan informal di meja makan sering kali membocorkan informasi sensitif perusahaan. Oleh karena itu, setiap anggota keluarga perlu memahami batas antara hubungan keluarga dan profesionalisme kerja.
Membocorkan data internal kepada pihak luar—bahkan sesama anggota keluarga yang tidak bekerja di bisnis—bisa merusak kepercayaan dan menciptakan konflik internal.


8. Mengelola Konflik dan Rasa Tidak Adil

Sering kali muncul rasa iri antaranggota keluarga: siapa yang digaji lebih tinggi, siapa yang mendapat jabatan penting, atau siapa yang dianggap favorit. Kasus seperti Todd dan ibunya, Kelly, dalam buku ini menunjukkan bahwa ketegasan dan keadilan adalah kunci menjaga hubungan dan budaya organisasi.
Konflik tidak boleh dibiarkan membusuk. Pemimpin harus berani menghadapinya dengan sikap profesional dan menyusun mekanisme penyelesaian konflik yang jelas.


9. Menyatukan Visi dan Budaya Keluarga

Akhirnya, kesuksesan bisnis keluarga bergantung pada penyelarasan antara visi perusahaan dan nilai-nilai keluarga. Tidak ada budaya yang sempurna, namun semua anggota keluarga harus memahami aturan main yang disepakati bersama.
Buku ini menutup dengan ajakan untuk menyusun Family Culture Statement—panduan tertulis tentang nilai, norma, dan perilaku yang diharapkan dari setiap anggota keluarga yang terlibat di bisnis.
Ketika visi perusahaan dan budaya keluarga bersinergi, hubungan menjadi lebih harmonis, keputusan bisnis lebih bijak, dan kesinambungan usaha lebih terjamin.


Kesimpulan

9 Elements of Family Business Success bukan sekadar panduan manajemen, melainkan peta perjalanan emosional dan strategis bagi keluarga yang ingin membangun bisnis lintas generasi.
Allen E. Fishman mengingatkan bahwa keberhasilan sejati bukan hanya diukur dari laba, tetapi dari kemampuan keluarga untuk tetap utuh dan bahagia sambil menjalankan bisnis bersama.
Dengan komunikasi yang terbuka, kepemimpinan yang rendah hati, serta komitmen untuk belajar dan beradaptasi, bisnis keluarga tidak hanya dapat bertahan — tetapi juga tumbuh menjadi warisan yang membanggakan lintas generasi.

Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin  menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

Margetty Herwin is a Certified Master Coach of: Life Coach, Executive Coach, Business and Money Coach, NLP Coach, Time Line Therapy, Green Belt Six Sigma Coach, Master Trainer STRATEGYZER Business Model

Related Posts

Tips Melatih Critical Thinking Skills dalam Jalankan Bisnis Anda

Sudah dilihat: 33 Apa itu Critical Thinking Skills? Critical Thinking Skills adalah kemampuan berpikir secara mendalam, logis, dan sistematis untuk menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, serta membuat keputusan atau kesimpulan berdasarkan…

Read more

GEN-Z Generasi Pertama Abad 21 Telah Hadir

Sudah dilihat: 37 GEN Z: Generasi Realistis, Kreatif, dan Siap Mengubah Dunia Karya: Sarah Sladek dan Alyx Grabinger, Selamat datang di era baru! Generasi Z atau biasa disebut Gen Z…

Read more

Mengungkap 5 Disfungsi Tim dan Cara Mengatasinya

Sudah dilihat: 42 The Five Dysfunctions of a Team karya Patrick Lencioni, Mengungkap 5 Disfungsi Tim dan Cara Mengatasinya Dalam buku fenomenal The Five Dysfunctions of a Team, Patrick Lencioni…

Read more

6 Tahapan Membangun Bisnis Terstruktur (Bagian 01)

Sudah dilihat: 15 Salam Sukses Sejahtera SMARTpreneur Sukses Indonesia,…. Pada Artikel bagian pertama ini saya akan share tentang Tahapan awal dalam Membangun Bisnis secara Terstruktur dengan Metode Coaching karya Brad…

Read more

Leave a Reply