Identitas dan Value Generasi Millennial di Era Transformasi Digital

Identitas dan Value Generasi Millennial di Era Transformasi Digital

Perubahan besar dalam dunia bisnis dan kehidupan sosial hari ini tidak bisa dilepaskan dari peran generasi milenial. Mereka lahir dan tumbuh di era digital, di mana kecepatan informasi, konektivitas global, dan perubahan gaya hidup menjadi hal yang wajar. Generasi ini tidak hanya menjadi konsumen utama berbagai inovasi teknologi, tetapi juga menjadi penggerak munculnya banyak bisnis baru yang disruptif dan kreatif.

Namun, untuk benar-benar memahami potensi besar generasi milenial, kita perlu menelusuri bagaimana identitas dan value (nilai) mereka terbentuk — serta bagaimana nilai-nilai ini bisa diarahkan untuk membangun masa depan yang lebih kuat, beretika, dan berkelanjutan.


1. Dunia Digital dan Perubahan Cara Hidup

Coach Margetty membuka pemaparannya dengan refleksi menarik: pandemi mempercepat perubahan dunia menuju sistem online dan digitalisasi total. Jika dulu konferensi daring dianggap mahal atau rumit, kini menjadi kebutuhan pokok. Zoom, Google Meet, hingga media sosial telah menjadi ruang interaksi baru yang membuka peluang besar bagi siapa pun untuk belajar, bekerja, bahkan membangun bisnis dari rumah.

Fenomena ini menandai babak baru: transformasi digital bukan lagi sekadar tren, tapi gaya hidup. Generasi muda saat ini terbiasa belajar secara daring, bekerja lintas wilayah, dan membangun relasi sosial secara virtual. Mereka adalah generasi yang menguasai alat, bukan sekadar menggunakannya.


2. Pembentukan Identitas dan Nilai dari Lingkungan Keluarga

Coach Margetty menekankan bahwa identitas dan karakter juara dibentuk sejak dini dari lingkungan keluarga. Anak-anak yang dilibatkan dalam aktivitas positif — olahraga, seni, kompetisi, atau kegiatan sosial — akan membangun kepercayaan diri dan rasa tanggung jawab. Nilai tidak bisa diajarkan hanya dengan kata-kata; nilai harus dilibatkan dalam pengalaman.

Beliau mencontohkan bagaimana keluarganya menerapkan pola pembinaan karakter lewat olahraga, kedisiplinan, dan kejuaraan. Dari sinilah tumbuh nilai-nilai seperti keberanian, tanggung jawab, dan integritas — fondasi utama yang kelak menentukan kesuksesan seseorang di dunia kerja maupun bisnis.


3. Timeline of Life: Menghadapi Ketakutan dan Mengejar Impian

Salah satu bagian paling inspiratif adalah analogi “Timeline of Life.” Banyak orang berjalan menuju masa depan dengan pandangan menghadap ke belakang — sibuk memikirkan ketakutan, kesalahan, dan masalah masa lalu. Padahal, cara berpikir itu membuat seseorang “jalan mundur menuju impiannya.”

Coach Margetty mengajak kita berbalik badan dan melihat ke depan. Fokus pada impian, bukan ketakutan. Karena masa depan memang misteri, tetapi misteri itu bisa dijinakkan dengan keyakinan dan tindakan nyata. Ia mengingatkan: “Carilah solusi untuk mendapatkan peluang, bukan sekadar solusi untuk mengatasi masalah.” Inilah pergeseran mindset yang membedakan orang sukses dari mereka yang stagnan.


4. Thinking – Being – Doing: Formula Pembentuk Hasil

Kesuksesan bukan hanya soal berpikir positif, tetapi juga soal keselarasan antara pikiran (Thinking), diri (Being), dan tindakan (Doing).

  • Thinking: pola pikir yang strategis dan terbuka terhadap perubahan.
  • Being: nilai dan karakter diri yang jujur, konsisten, dan beretika.
  • Doing: tindakan nyata yang disiplin, terukur, dan berkelanjutan.

Ketika ketiganya berjalan harmonis, hasil luar biasa akan tercipta. Namun, banyak orang hanya mengandalkan “thinking” tanpa memperkuat “being” dan “doing.” Akibatnya, mereka cerdas secara intelektual tapi gagal secara moral atau eksekusi. Dunia membutuhkan generasi yang tidak hanya pintar, tapi juga memiliki integritas dan kemampuan mengeksekusi ide menjadi hasil.


5. Membangun Value Generasi Milenial

Generasi milenial memiliki keunggulan besar: adaptif terhadap teknologi, kreatif dalam menciptakan solusi baru, dan terbuka pada kolaborasi. Tetapi keunggulan ini bisa menjadi bumerang jika tidak dibekali nilai spiritual, etika, dan tanggung jawab sosial.

Coach Margetty mengingatkan pentingnya kecerdasan emosional dan spiritual dalam membentuk manusia yang seimbang. Banyak generasi muda kini kehilangan arah karena mengejar popularitas tanpa nilai, atau sukses materi tanpa keseimbangan batin. Karena itu, pendidikan nilai menjadi investasi utama bagi bangsa yang ingin maju.

Nilai-nilai baru yang harus ditanamkan antara lain:

  • Kecerdasan emosional untuk mengelola perasaan dan empati terhadap sesama.
  • Kebebasan berpikir tanpa kehilangan rasa hormat terhadap perbedaan.
  • Kemampuan berkomunikasi dan membangun relasi yang sehat.
  • Sensitivitas antarbudaya di tengah keberagaman global.
  • Spiritual intelligence, yaitu kesadaran bahwa ilmu dan teknologi harus tetap berpijak pada nilai kemanusiaan dan ketuhanan.

6. Tantangan dan Peluang di Era Industri 5.0

Coach Margetty menjelaskan bahwa evolusi industri — dari 1.0 (mesin uap), 2.0 (listrik), 3.0 (komputerisasi), hingga 4.0 (internet & digitalisasi) — kini sedang memasuki babak Industri 5.0, di mana manusia dan teknologi berkolaborasi secara lebih cerdas melalui artificial intelligence (AI).

Generasi milenial menjadi aktor utama dalam transisi ini. Dunia kerja berubah drastis: pekerjaan-pekerjaan baru bermunculan, dari data analyst, digital marketer, software developer, hingga environmental engineer. Semua berorientasi pada solusi, kreativitas, dan keberlanjutan.

Namun, seiring kecanggihan teknologi, manusia dituntut untuk semakin manusiawi. Teknologi boleh cerdas, tetapi nilai dan empati manusia harus tetap menjadi pengarah utamanya.


7. Refleksi Akhir: Membangun Generasi Visioner

Coach Margetty menutup dengan pesan penting: “Kita tidak bisa menggunakan cara lama untuk menghasilkan generasi baru.”
Perubahan zaman menuntut kombinasi antara ilmu lama (kearifan, pengalaman, moral) dan metodologi baru (teknologi, digitalisasi, dan kreativitas). Pendidikan karakter dan spiritualitas menjadi fondasi agar kemajuan teknologi tidak melahirkan generasi yang kehilangan arah.

Generasi milenial harus belajar belajar, harus memiliki imajinasi yang visioner, dan harus menghargai manusia serta Tuhan sebagai pusat nilai kehidupan. Dengan begitu, mereka tidak hanya akan sukses dalam karier dan bisnis, tetapi juga menjadi penerus bangsa yang beretika, kreatif, dan berjiwa pemimpin.


Kesimpulan

Identitas dan value generasi milenial bukan hanya ditentukan oleh seberapa jauh mereka mampu menguasai teknologi, tetapi seberapa dalam mereka memahami jati diri dan nilai kemanusiaan.
Era digital memberi peluang tanpa batas, namun hanya mereka yang memiliki keseimbangan antara Thinking – Being – Doing yang akan bertahan dan memimpin perubahan.

Seperti pesan Coach Margetty,

“Bangunlah generasi yang tidak hanya pintar, tapi juga berkarakter. Karena masa depan bukan milik yang paling cepat, tapi milik yang paling siap.”

Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin  menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

Margetty Herwin is a Certified Master Coach of: Life Coach, Executive Coach, Business and Money Coach, NLP Coach, Time Line Therapy, Green Belt Six Sigma Coach, Master Trainer STRATEGYZER Business Model

Related Posts

Tingkatkan Pola Pikir, Pola Diri, dan Pola Kerja untuk Kinerja Tumbuh Berkelanjutan

Sudah dilihat: 14 Tingkatkan Pola Pikir, Pola Diri, dan Pola Kerja Framework Thinking–Being–Doing untuk Pertumbuhan Bisnis dan Kepemimpinan Berkelanjutan Oleh Coach Margetty Herwin Banyak pelaku bisnis dan Leaders bekerja keras…

Read more

Thinking Challenge: 7 Tantangan Pola Pikir Leaders yang Menghambat Performa dan Pertumbuhan Bisnis

Sudah dilihat: 1       Thinking Challenge: 7 Tantangan Pola Pikir Leaders yang Menghambat Performa dan Pertumbuhan Bisnis Oleh Coach Margetty Herwin Dalam perjalanan menjadi seorang Leader dan Entrepreneur,…

Read more

Tren Bisnis 2026 bagi Pemula: Begini Cara Jadi Pengusaha Sukses (Tanpa Nekat, Tanpa Drama)

Sudah dilihat: 18 Salam Sukses Sejahtera para SMARTpreneur Indonesia,…! Selamat Tahun Baru 2026 Memasuki 2026, makin banyak orang ingin menjadi business owner. Ada yang lelah bekerja, ada yang ingin kebebasan…

Read more

Coach vs Consultant: Perbedaan Peran, Tanggung Jawab, dan Dampaknya bagi Bisnis

Sudah dilihat: 11 https://youtu.be/6T02PkHox8Y?si=HCqlyo4ULVvc7sni Coach vs Consultant: Perbedaan Peran, Tanggung Jawab, dan Dampaknya bagi Bisnis Oleh Coach Margetty Herwin Dalam dunia pengembangan bisnis dan kepemimpinan, dua profesi yang paling sering…

Read more

Leave a Reply