Memahami PPIC: Kunci Produksi Efisien untuk UMKM
Apa Itu PPIC dan Mengapa Penting
PPIC adalah singkatan dari Production Planning and Inventory Control, atau dalam bahasa Indonesia berarti Perencanaan dan Pengendalian Produksi serta Persediaan.
Fungsinya adalah memastikan bahan baku, proses, dan produk jadi berjalan sesuai kebutuhan pelanggan, tepat waktu, dan dengan biaya minimum.
Dalam usaha kecil, peran PPIC sering kali belum terstruktur, padahal PPIC merupakan “otak” dari sistem produksi yang menentukan kelancaran arus barang dari gudang hingga pelanggan.
Bayangkan sebuah usaha konveksi kecil yang sering kehabisan bahan saat pesanan meningkat.
Atau pabrik makanan ringan yang sering over-stock bahan mentah hingga sebagian rusak. Semua itu adalah tanda lemahnya PPIC.
Dengan sistem PPIC yang baik, pemilik usaha bisa mengatur berapa banyak yang harus diproduksi, kapan memproduksi, dan berapa stok aman yang harus dijaga.
Konsep Dasar Sistem Produksi
Sistem produksi adalah kumpulan kegiatan yang mengubah input (bahan baku, tenaga kerja, mesin, modal, dan informasi) menjadi output (produk atau jasa). Untuk UMKM, sistem ini bisa sederhana—misalnya, pembuatan sabun rumahan—atau kompleks seperti pabrik kemasan plastik. Namun prinsipnya sama: setiap input harus terukur dan dikendalikan.
Jenis sistem produksi terbagi menjadi dua:
- Proses Kontinu – produksi berlangsung terus-menerus untuk produk yang sama (contoh: pabrik air mineral).
- Proses Terputus (Intermittent) – produksi sesuai pesanan, dengan jenis produk yang beragam (contoh: bengkel sablon kaos custom).
Selain itu, sistem produksi juga dikategorikan berdasarkan tujuan operasi seperti:
- Make to Stock (MTS): Produksi untuk stok sebelum ada pesanan.
- Make to Order (MTO): Produksi baru dilakukan setelah ada pesanan.
- Assembly to Order (ATO): Produk dirakit dari komponen standar sesuai permintaan pelanggan.
- Engineering to Order (ETO): Produk dirancang dan dibuat khusus untuk tiap pelanggan.
Untuk UMKM, tipe MTO dan ATO paling banyak diterapkan karena fleksibel terhadap variasi permintaan pasar.
Fungsi dan Tugas Utama PPIC
PPIC memiliki dua fungsi utama:
- Perencanaan Produksi (Production Planning) – menentukan apa yang harus diproduksi, berapa banyak, dan kapan waktunya.
- Pengendalian Produksi (Production Control) – memastikan pelaksanaan produksi sesuai rencana, serta melakukan koreksi bila terjadi penyimpangan.
Fungsi ini saling berkaitan: perencanaan memberi arah, sedangkan pengendalian memastikan kapal tetap di jalur. Dalam praktiknya, PPIC harus berkoordinasi erat dengan bagian pemasaran, pembelian, dan gudang.
Contoh sederhana:
Jika usaha bakery memperkirakan permintaan 500 roti per hari, PPIC harus memastikan bahan (tepung, gula, ragi) tersedia cukup untuk target itu. Jika ternyata penjualan turun 20%, PPIC harus segera menyesuaikan jumlah produksi agar bahan tidak terbuang. Inilah fungsi kontrol yang aktif.
Langkah-Langkah Perencanaan Produksi
Perencanaan produksi yang efektif memiliki delapan prinsip utama:
- Berjangka waktu – rencana dibuat untuk periode tertentu (harian, mingguan, bulanan).
- Berjenjang – dari rencana jangka panjang (kapasitas pabrik), menengah (volume produksi), hingga pendek (jadwal harian).
- Terpadu – melibatkan seluruh bagian: produksi, gudang, tenaga kerja, hingga pembelian bahan.
- Berkelanjutan – hasil pelaksanaan rencana menjadi dasar perbaikan rencana berikutnya.
- Terukur – setiap target memiliki angka jelas (misal: produksi 100 unit per hari).
- Realistis – disesuaikan dengan kemampuan nyata (mesin, tenaga kerja, waktu).
- Akurat – berdasarkan data permintaan dan kapasitas aktual.
- Menantang – mendorong peningkatan efisiensi dan produktivitas.
Sebagai contoh, usaha sablon kaos bisa menetapkan rencana harian: mencetak 50 kaos custom, dengan bahan baku untuk 70 kaos agar aman dari cacat produksi.
Setiap minggu, hasilnya dievaluasi: apakah target tercapai dan bahan cukup?
Bila tidak, PPIC melakukan penyesuaian jadwal dan stok.
Pengendalian Produksi: Menjaga agar Rencana Berjalan
Setelah rencana dibuat, tahap berikutnya adalah pengendalian (control). Tujuannya memastikan kegiatan produksi berjalan sesuai target dan bila terjadi penyimpangan, dilakukan tindakan korektif.
Langkah-langkah pengendalian produksi:
- Mengukur hasil aktual produksi – mencatat output harian/mingguan.
- Membandingkan dengan rencana – apakah target tercapai?
- Menganalisis penyimpangan – mencari akar masalah, misalnya keterlambatan bahan atau kerusakan mesin.
- Melakukan perbaikan (corrective action) – menyesuaikan jadwal, memperbaiki alat, atau mengganti pemasok bahan.
- Evaluasi hasil – menjadi dasar perencanaan berikutnya.
Contoh kasus: usaha mebel kecil menargetkan 100 kursi jadi per minggu, tetapi hanya menghasilkan 80 unit. Setelah diperiksa, ternyata proses pengeringan kayu memakan waktu lebih lama. PPIC kemudian menyesuaikan lead time dan merencanakan buffer stok kayu kering untuk minggu berikutnya.
Pengendalian Persediaan (Inventory Control)
Salah satu inti PPIC adalah mengelola stok bahan baku dan barang jadi agar tidak terlalu banyak atau terlalu sedikit. Terlalu banyak stok akan meningkatkan biaya simpan dan risiko kadaluarsa. Terlalu sedikit akan menghambat produksi dan menyebabkan kehilangan penjualan.
Metode sederhana yang bisa diterapkan oleh UMKM:
- Klasifikasi ABC: Kelompokkan bahan baku berdasarkan nilai dan perputarannya.
- Kategori A: barang bernilai tinggi, diawasi ketat (misal: bahan impor).
- Kategori B: nilai menengah, diawasi periodik.
- Kategori C: barang murah dengan stok banyak (misal: kemasan, lem).
- EOQ (Economic Order Quantity): Menentukan jumlah pembelian optimal agar biaya pemesanan dan penyimpanan minimal.
- FIFO (First In First Out): Barang yang datang lebih dulu harus dipakai lebih dulu—penting untuk bahan makanan atau kimia.
Sebagai contoh, pabrik minuman ringan bisa menetapkan EOQ untuk botol plastik sebesar 10.000 unit per pesanan, karena lebih efisien dibanding memesan 2.000 unit berkali-kali dengan biaya pengiriman tinggi.
Penjadwalan Produksi (Production Scheduling)
Penjadwalan adalah tahap teknis dari perencanaan yang menjawab pertanyaan “kapan produksi dilakukan dan urutan pekerjaan apa yang harus dikerjakan.”
Tujuannya meminimalkan waktu tunggu, menghindari bottleneck, dan menjaga beban kerja mesin serta operator tetap seimbang.
Contohnya, usaha konveksi kecil bisa menggunakan aturan sederhana seperti:
- First Come First Serve (FCFS): pesanan datang pertama dikerjakan dulu.
- Shortest Processing Time (SPT): pesanan dengan waktu pengerjaan tercepat diprioritaskan.
- Earliest Due Date (EDD): pesanan dengan tenggat terdekat didahulukan.
Dengan membuat jadwal visual sederhana di papan produksi atau Trello, pemilik usaha dapat mengawasi progres setiap pesanan, menghindari tumpang tindih, dan meningkatkan kepuasan pelanggan.
Implementasi PPIC di Usaha Sederhana
Langkah implementasi PPIC di skala usaha kecil dapat dimulai dengan:
- Membuat Data Dasar Produksi – daftar produk, waktu proses, kapasitas mesin, kebutuhan bahan baku.
- Menyusun Forecast Penjualan – menggunakan data penjualan 3–6 bulan terakhir untuk memperkirakan permintaan.
- Membuat Rencana Produksi Bulanan & Harian – tentukan target output realistis.
- Menentukan Level Persediaan Aman (Safety Stock) – jaga stok bahan baku minimum untuk menghindari kehabisan.
- Memonitor dan Mengevaluasi Hasil Produksi – bandingkan antara rencana dan realisasi setiap minggu.
- Gunakan Alat Bantu Digital – spreadsheet Excel, aplikasi produksi sederhana, atau software ERP seperti Odoo/MO atau Jurnal.id untuk pencatatan otomatis.
Manfaat PPIC bagi UMKM
Bila diterapkan dengan disiplin, PPIC akan memberi dampak langsung:
- Produksi lebih efisien, karena bahan, tenaga, dan waktu terencana.
- Stok terkendali, tidak kelebihan atau kekurangan bahan.
- Waktu pengiriman tepat, meningkatkan kepuasan pelanggan.
- Biaya produksi menurun, karena pemborosan berkurang.
- Data historis tersimpan rapi, membantu perencanaan jangka panjang.
Kesimpulan
PPIC bukan sekadar teori pabrik besar, tetapi sistem yang bisa diterapkan oleh setiap usaha yang memproduksi barang. Dengan memahami dasar sistem produksi, perencanaan, pengendalian persediaan, dan penjadwalan kerja, seorang pemilik usaha dapat mengubah proses produksinya menjadi lebih sistematis, efisien, dan menguntungkan.
Kunci keberhasilan PPIC bukan pada rumus rumit, tetapi pada disiplin mencatat, mengevaluasi, dan menyesuaikan rencana setiap hari. Dari usaha sablon, bakery, furniture, hingga industri kemasan—semua bisa menjadi lebih produktif dengan penerapan PPIC yang sederhana dan konsisten.
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

