The Five Dysfunctions of a Team
karya Patrick Lencioni,
Mengungkap 5 Disfungsi Tim dan Cara Mengatasinya
Dalam buku fenomenal The Five Dysfunctions of a Team, Patrick Lencioni mengungkap lima akar masalah utama yang sering menyebabkan tim gagal bekerja secara efektif.
Buku ini tidak hanya menjelaskan sumber konflik dan ketidakefektifan dalam tim, tapi juga menawarkan solusi yang nyata dan aplikatif.
Melalui pengalamannya membimbing ribuan eksekutif perusahaan besar, Lencioni merumuskan bahwa keberhasilan tim bukan soal strategi yang canggih, tetapi seberapa kuat fondasi kepercayaan dan kolaborasi dibangun.
Berikut ini lima disfungsi utama yang sering merusak tim, beserta solusi dan inspirasi praktis untuk mengatasinya:
1. Absennya Kepercayaan (Absence of Trust)
Tanpa kepercayaan, anggota tim akan saling curiga, enggan terbuka, dan lebih fokus pada perlindungan diri daripada tujuan bersama. Hal ini menciptakan lingkungan kerja yang dingin dan penuh kecemasan. Untuk membangun kepercayaan, pemimpin harus menjadi teladan: jujur, konsisten, dan mau menunjukkan kerentanan pribadi.
Contoh Sukses:
Di awal pendiriannya, perusahaan Pixar mendorong budaya “candor” di mana siapa pun bisa memberi masukan, termasuk kepada pimpinan seperti Ed Catmull dan John Lasseter. Keterbukaan ini menjadikan Pixar sebagai rumah bagi kolaborasi kreatif yang produktif dan penuh kepercayaan.
Solusi:
Gunakan sesi ice-breaking yang mendorong saling mengenal, adakan forum berbagi kesalahan dan pelajaran, serta rayakan keberhasilan tim, bukan hanya individu.
2. Takut pada Konflik (Fear of Conflict)
Tim yang menghindari konflik biasanya terjebak dalam “sopan santun semu.” Mereka menahan pendapat, menyembunyikan ketidaksetujuan, dan akhirnya melewatkan solusi terbaik. Padahal, konflik yang sehat bisa jadi katalis inovasi.
Contoh Sukses:
Tim pengembang Google Chrome dikenal mendorong “constructive disagreement” dalam sesi review mereka. Hasilnya? Produk yang lebih baik dan tim yang tangguh secara intelektual.
Solusi:
Dorong debat sehat dalam rapat, berikan pelatihan resolusi konflik, dan buat aturan dasar bahwa konflik yang menyerang ide (bukan pribadi) adalah bagian dari pertumbuhan tim.
3. Kurangnya Komitmen (Lack of Commitment)
Tim yang tak berani ambil keputusan atau terlalu banyak menunda karena ingin semua orang setuju justru akan kehilangan momentum. Komitmen lahir ketika setiap anggota merasa telah dilibatkan dan didengar dalam proses pengambilan keputusan.
Contoh Sukses:
Saat menghadapi krisis produksi, tim di Toyota dikenal dengan sistem “consensus with responsibility.” Meski tidak semua setuju, keputusan tetap dijalankan secara penuh karena semua merasa telah terlibat dalam prosesnya.
Solusi:
Buat sistem pengambilan keputusan yang transparan, minta masukan semua anggota, tetapkan tenggat waktu tegas, dan evaluasi hasil bersama.
4. Menghindari Akuntabilitas (Avoidance of Accountability)
Ketika tanggung jawab hanya dibebankan kepada atasan, tim akan kehilangan rasa kepemilikan. Akuntabilitas harus menjadi budaya bersama di mana tiap anggota bisa saling menegur dan mendukung pencapaian standar tinggi.
Contoh Sukses:
Di Netflix, budaya “Freedom and Responsibility” membuat setiap karyawan tahu bahwa mereka tidak hanya bertanggung jawab pada atasan, tapi juga kepada rekan tim. Ini menciptakan budaya saling menegur yang sehat demi menjaga mutu.
Solusi:
Gunakan team charter, buat KPI kolektif, beri ruang feedback antaranggota, dan berikan reward atas pencapaian tim.
5. Tidak Fokus pada Hasil Tim (Inattention to Results)
Ketika anggota lebih fokus pada pencapaian pribadi atau gengsi tim, mereka kehilangan arah terhadap tujuan organisasi. Akibatnya, tim mudah terpecah dan kehilangan semangat kolektif.
Contoh Sukses:
Tim Salesforce berhasil mengatasi ego divisi dengan menerapkan OKR (Objectives and Key Results) terpadu lintas departemen. Fokusnya: semua bergerak dalam arah yang sama, bukan menunjukkan siapa paling hebat.
Solusi:
Komunikasikan visi dan misi secara konsisten, gunakan indikator tim untuk mengukur performa, dan buat penghargaan berdasarkan hasil kolektif, bukan individu semata.
Kesimpulan: Tim Hebat Dibangun, Bukan Ditemukan
Lima disfungsi tim ini bukan hal yang langka. Namun dengan kepemimpinan yang sadar dan terlatih, setiap tim punya peluang untuk menjadi lebih solid, produktif, dan kolaboratif. Mulailah dari membangun kepercayaan, lalu dorong dialog terbuka, ambil keputusan secara kompak, bangun budaya akuntabilitas, dan arahkan semua energi menuju tujuan bersama.
Ingat: Pemimpin sejati tidak hanya mengelola strategi, tapi juga membangun tim yang mampu memenangkan pertandingan jangka panjang.
Jika Anda ingin mendalami tools dan strategi membangun tim efektif, pelajari lebih lanjut melalui sumber seperti:
Team Canvas Toolkit
Five Behaviors® of a Cohesive Team by Wiley
Patrick Lencioni’s Table Group Resources
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

