“The Truth About Company Culture, Trust & AI at Work”
antara Chris Dyer (pakar budaya perusahaan) dan Brad Sugars (business coach)
Topik Utama Pembicaraan:
Diskusi ini membahas tentang peran budaya perusahaan (company culture) dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat dan produktif, pentingnya transparansi, cara membangun kepercayaan dalam organisasi—terutama di era kerja hybrid/remote—dan pengaruh AI terhadap hubungan manusia di tempat kerja.
Chris Dyer memperkenalkan 7 Pilar Budaya Hebat, yang menjadi fondasi utama dalam menciptakan budaya kerja berkinerja tinggi.
Tantangan yang Dihadapi dalam memimpin perusahaan:
Chris mengakui bahwa awalnya perusahaannya sukses secara finansial, dengan klien besar dan ribuan karyawan, namun ia dan timnya merasa tidak bahagia.
Budaya kerja yang buruk dibiarkan berkembang karena kurangnya kesadaran dan kepemimpinan.
Ia menyadari bahwa kesalahan budaya berasal dari dirinya sendiri sebagai pemimpin yang tidak transparan, terlalu mengontrol, dan tidak memberi ruang bagi orang lain untuk berkembang.
Strategi yang Dijalankan Setelah Mengikuti Transformasi Kepemimpinan dan Pengembangan Budaya:
Chris mulai melakukan transformasi menyeluruh pada organisasinya, dimulai dari:
- Radical Transparency: Membuka laporan keuangan, alasan pengambilan keputusan, hingga alasan pemecatan karyawan secara terbuka kepada tim.
- Positivity & Recognition: Fokus pada apa yang berhasil dan mengapresiasi pencapaian kecil.
- Curiosity & Listening: Lebih banyak mendengar daripada mengontrol, serta memperhatikan orang-orang yang berkinerja tinggi dan menjadikan mereka sumber pembelajaran bagi yang lain.
- Delegasi Tugas Lemah: Fokus hanya pada kekuatan pribadi dan segera mendelegasikan area yang bukan keahliannya (contoh: akuntansi).
- Empati dalam Hybrid/Remote: Menerapkan metode “How are you showing up?” di setiap meeting tim agar terjadi bonding emosional.
Hasil yang Diraih Setelah Menjalankan Strategi Transformasi Budaya:
Setelah mengimplementasikan 7 pilar dan mengubah pendekatan kepemimpinan, hasilnya sangat signifikan:
- Karyawan lebih bahagia dan loyal.
- Konflik internal menurun.
- Produktivitas meningkat drastis.
- Perusahaan bertumbuh pesat secara penjualan.
- Pemimpin bisa fokus pada strategi jangka panjang, bukan hanya “memadamkan api”.
Implementasi dan Ide Besar ke Depan yang dapat Dilakukan:
Chris menekankan pentingnya membangun budaya kerja yang relevan dengan konteks zaman:
Remote/Hybrid Work membutuhkan pendekatan manajemen baru, bukan metode lama yang dipaksakan.
AI akan membawa tantangan besar terhadap kepercayaan karena bisa menimbulkan ketidakpastian apakah komunikasi yang terjadi adalah asli atau buatan.
Solusinya adalah kembali ke aspek manusiawi: koneksi emosional, tatap muka saat penting, dan menjadi “sense maker” dalam era kelebihan informasi.
Fokus masa depan adalah mengurangi error, bukan hanya menghindari kesalahan, dan menciptakan lingkungan yang mendukung pengambilan risiko yang sehat.
Pesan Penting untuk Para Pengusaha yang Menyimak Diskusi Bisnis ini:
“Apa yang tidak Anda ubah, itu berarti Anda memilih untuk membiarkannya tetap terjadi.”
“Jangan paksa budaya kerja lama pada sistem kerja baru. Temukan cara baru yang sesuai dengan kebutuhan tim Anda saat ini.”
“Budaya bukan tentang membuat semua orang sama, tapi memberi ruang untuk perbedaan dan keberanian mencoba.”
“Fokuslah pada kekuatan Anda, dan delegasikan kelemahan Anda sesegera mungkin.”
“Jika Anda ingin membangun loyalitas karyawan, tunjukkan empati dan kehadiran Anda saat mereka membutuhkannya.”
7 Pilar Membangun Budaya Perusahaan yang Hebat:
- Transparansi
- Kepemimpinan Positif
- Pengukuran Kinerja yang Relevan
- Keunikan dan Keberagaman Gagasan
- Kemampuan Mendengarkan
- Apresiasi dan Pengakuan
- Pendekatan terhadap Kesalahan (bukan Error)
Dampak AI terhadap Budaya Kerja:
Adopsi AI di Tempat Kerja
75% pekerja menggunakan AI di tempat kerja pada tahun 2024, dengan 46% di antaranya mulai dalam 6 bulan terakhir.
85% pekerja di AS telah menggunakan alat AI generatif seperti ChatGPT untuk menyelesaikan tugas kerja.
93% CHRO Fortune 500 melaporkan bahwa organisasi mereka telah mulai menggunakan teknologi AI untuk meningkatkan praktik bisnis. (AIPRM, Checkr, Gallup.com)
Kekhawatiran Karyawan terhadap AI
74% pekerja AS khawatir atau ragu-ragu bahwa AI dapat menggantikan pekerjaan mereka.
71% karyawan AS merasa cemas tentang AI, dengan 48% lebih khawatir dibandingkan tahun sebelumnya.
69% pekerja takut memberi tahu atasan mereka tentang penggunaan AI karena khawatir akan digantikan oleh alat tersebut. (Pew Research Center, EY, Checkr)
Pengaruh AI terhadap Budaya dan Keterlibatan Karyawan
Di organisasi dengan adopsi AI yang terstruktur dan dipimpin oleh kepemimpinan, 79% karyawan percaya bahwa AI berdampak positif pada budaya kerja mereka.
Sebaliknya, di organisasi tanpa pendekatan AI formal, hanya 10% karyawan yang merasakan dampak positif tersebut.
62% karyawan di organisasi dengan strategi AI yang dipimpin oleh kepemimpinan sepenuhnya terlibat, dibandingkan dengan 50% di organisasi dengan adopsi AI yang tidak terstruktur. (Perceptyx Blog)
AI dan Kesejahteraan Karyawan
Penggunaan AI yang berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial di tempat kerja, meningkatkan perasaan isolasi, dan berdampak negatif pada kesehatan mental karyawan.
AI dapat mengikis cara tradisional kolaborasi, mengurangi jaringan sosial, dan memengaruhi motivasi untuk bekerja sama. (Financial Times)
Kesimpulan
Integrasi AI di tempat kerja membawa manfaat dan tantangan. Sementara AI dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas, penting bagi organisasi untuk:
- Mengembangkan strategi adopsi AI yang terstruktur dan dipimpin oleh kepemimpinan.
- Meningkatkan transparansi dan komunikasi tentang penggunaan AI.
- Memberikan pelatihan dan dukungan kepada karyawan untuk beradaptasi dengan perubahan.
- Memastikan bahwa penggunaan AI tidak mengorbankan kesejahteraan dan keterlibatan karyawan.
- Dengan pendekatan yang tepat, AI dapat menjadi alat yang memberdayakan karyawan dan memperkuat budaya kerja yang positif.
Referensi:
- AIPRM. (2024). AI in the Workplace Statistics 2024.
- Checkr. (2023). Insights from American Workers: A Comprehensive Survey on AI in the Workplace.
- Gallup. (2024). AI in the Workplace: Answering 3 Big Questions.
- Perceptyx. (2025). AI’s Cultural Impact: New Data Reveals Leadership Makes the Difference.
- Financial Times. (2025). Overreliance on AI tools at work risks harming mental health. (AIPRM, Checkr, Gallup.com, Perceptyx Blog, Financial Times)
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

