Dari Lapak Harian Menjadi Ekosistem Bisnis
Di tengah gempuran marketplace, media sosial, dan tren belanja online, pasar tradisional sering dianggap “kuno” dan ketinggalan zaman. Padahal, jika dilihat lebih dekat, pasar tradisional justru menyimpan kekuatan besar untuk menggerakkan ekonomi lokal dan menaikkan omset pelaku UKM.
Melalui Dialog XBIS RRI Pro 3 yang menghadirkan Coach Margetty Herwin (Smart Business Coaching Firm) dan Ibu Veronika Ambar Ismuwardani (Kepala Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta), kita mendapat gambaran konkret bagaimana pasar tradisional bisa menjadi panggung penting bagi pertumbuhan UKM – terutama di kota wisata seperti Yogyakarta.
Pasar Tradisional Bukan Sekadar Tempat Jual Beli
Pasar tradisional adalah ekosistem hidup ekonomi rakyat.
Di Kota Yogyakarta saja, terdapat 29 pasar rakyat dengan lebih dari 13.500 pedagang yang dikelola Dinas Perdagangan. Angka ini belum termasuk pelaku UKM yang menitipkan produk, pemasok, distributor, dan berbagai pihak lain yang terhubung di dalamnya.
Pasar tradisional berperan sebagai:
- Showroom produk UKM:
Menampung produk UKM lokal maupun dari berbagai daerah di Indonesia. - Ruang budaya dan wisata:
Di pasar, orang bisa menikmati kuliner lokal, menyaksikan adat kebiasaan, dan merasakan suasana khas daerah. - Panggung ekonomi kreatif:
Fotografi, videografi, fesyen, kuliner, sampai advertising dapat dikembangkan di lingkungan pasar.
Bagi wisatawan, pasar bukan hanya tempat belanja. Ia menjadi destinasi wisata pengalaman: mencicipi makanan tradisional, ngobrol dengan pedagang, hingga menikmati atmosfer khas yang tidak ditemukan di mall modern.
Tantangan Pasar Tradisional dan UKM di Era Digital
Meski potensinya besar, pasar tradisional dan UKM menghadapi beberapa tantangan nyata:
1. Citra Pasar yang Masih “Becek dan Kumuh”
Banyak orang masih menyimpan bayangan lama tentang pasar: becek, sempit, berantakan.
Citra inilah yang membuat sebagian masyarakat, terutama generasi muda, enggan datang ke pasar jika tidak ada perbaikan fasilitas dan tata kelola.
2. Perubahan Perilaku Belanja Akibat Digital
Maraknya belanja via media sosial dan marketplace membuat sebagian pasar di beberapa daerah terasa lebih sepi.
Banyak pelaku UKM akhirnya berjualan:
- Dari rumah,
- Lewat pesanan online,
- Atau hanya titip di warung-warung kecil, tanpa memanfaatkan pasar sebagai pusat interaksi dan promosi produk.
3. Kualitas Transaksi Online yang Belum Konsisten
Ada pengalaman pembeli yang merasa kecewa: barang yang datang tidak sesuai foto, kualitas menurun, sulit komplain, dan tidak ada tanggung jawab dari penjual.
Jika dibiarkan, hal ini merusak kepercayaan masyarakat terhadap belanja online dan berdampak langsung pada reputasi UKM.
4. Tata Kelola yang Masih Perlu Dibenahi
Beberapa pasar tradisional ramai, tetapi:
- Menyebabkan kemacetan,
- Area parkir kurang tertata,
- Sirkulasi orang dan barang kurang nyaman.
Ini menunjukkan pasar punya magnet kuat, namun masih perlu penataan serius agar pengunjung betah dan mau kembali.
Strategi Kota Yogyakarta Menghidupkan Pasar Tradisional
Yogyakarta sebagai kota wisata memberikan contoh menarik bagaimana pasar tradisional ditata agar tetap relevan dan berdaya saing:
1. Perbaikan Fasilitas Fisik dan Kenyamanan
Dinas Perdagangan memperbaiki:
- Kebersihan dan sanitasi,
- Kenyamanan ruang jual beli,
- Keamanan bagi pedagang dan pengunjung.
Citra pasar pun bergeser: dari becek menjadi bersih, tertata, dan ramah untuk keluarga maupun generasi muda.
2. Digitalisasi Transaksi: QRIS, E-Payment, dan E-Retribusi
Pedagang di pasar-pasar utama seperti Pasar Beringharjo sudah banyak menggunakan:
- QRIS dan e-payment untuk pembayaran,
- E-retribusi untuk memudahkan penarikan dan pencatatan iuran.
Bahkan dalam periode 3 bulan, transaksi via QRIS di Pasar Beringharjo tercatat hingga puluhan miliar rupiah.
Ini menunjukkan bahwa pasar tradisional bisa modern tanpa kehilangan jiwa tradisionalnya.
3. Edukasi UKM: Packaging, Perizinan, dan E-Commerce
Pemerintah daerah bersama berbagai mitra menjalankan pelatihan untuk:
- Packaging & branding produk agar lebih menarik dan layak masuk ritel modern.
- Perizinan usaha, termasuk badan hukum dan izin edar.
- Pelatihan WhatsApp Business dan marketplace bersama Meta, UKM Indonesia, dan platform seperti Tokopedia.
Hasilnya, banyak pedagang dan UKM di pasar tradisional yang kini aktif berjualan:
- Offline di lapak pasar,
- Sekaligus online di marketplace, media sosial, dan chat commerce.
4. Kerja Sama dengan Ritel Modern
Pemerintah Kota Yogyakarta juga mewajibkan beberapa ritel modern untuk:
- Menyediakan gerai khusus produk UKM lokal,
- Melakukan kurasi tahunan,
- Menjadikan produk UKM sebagai bagian dari ekosistem ritel modern.
Dengan cara ini, produk UKM tidak hanya beredar di pasar tradisional, tetapi juga masuk ke jaringan distribusi yang lebih luas.
5. Platform Resmi: Beringharjo Official Store
Untuk memperkuat kehadiran pasar di dunia digital, dibuat:
- Beringharjo Official Store sebagai toko online resmi.
- Produk yang masuk dikurasi ketat kualitas dan mutunya, karena membawa nama baik pasar dan Pemkot.
Ke depan, platform ini akan dikembangkan menjadi landing page dan terintegrasi dengan aplikasi belanja milik perbankan, sehingga jangkauan pasar dan UKM semakin luas.
Peran UKM: Dari Pedagang Menjadi Pebisnis Pasar
Dalam dialog, Coach Margetty menekankan satu pesan penting:
“Ayo naikkan level dari pedagang menjadi pebisnis.”
Artinya, pelaku UKM di pasar tradisional perlu mengubah cara pandang:
- Bukan hanya jualan hari ini laku atau tidak,
- Tetapi membangun konsep bisnis yang jelas,
- Membentuk nilai tambah (value) di mata pelanggan,
- Menciptakan pengalaman belanja yang bikin rindu.
Contohnya:
- Penjual makanan tradisional yang selalu menyajikan produk fresh from the oven, dengan kemasan bersih, ramah di media sosial, dan menerima pesanan online.
- Penjual batik atau kebaya di pasar yang mengkombinasikan display rapi, pelayanan konsultasi gaya, serta katalog digital untuk pemesanan jarak jauh.
Langkah Praktis UKM: Cara Memanfaatkan Pasar Tradisional untuk Naik Omset
Berikut langkah step-by-step yang bisa langsung dipraktikkan pelaku UKM:
1. Pahami Karakter Pasar di Daerah Anda
- Pelajari jam ramai pengunjung, segmen pembeli, dan jenis produk yang paling laku.
- Amati kompetitor: apa yang mereka jual, bagaimana cara melayani, dan apa yang disukai pembeli.
2. Tentukan Diferensiasi Produk
Jawab jujur: apa bedanya produk saya di mata pelanggan?
- Rasa yang khas?
- Kemasan yang lebih menarik?
- Cerita produk yang kuat (heritage, resep turun-temurun, bahan lokal)?
- Layanan yang lebih cepat, lebih bersih, atau lebih ramah?
Semakin jelas diferensiasi, semakin mudah pembeli mengingat dan memilih produk Anda.
3. Ciptakan Pengalaman Belanja yang Menggoda
Di pasar, pembeli sangat dipengaruhi oleh pengalaman langsung:
- Aroma masakan yang sedang dimasak,
- Proses pembuatan yang bisa dilihat,
- Suasana hangat dan interaksi personal.
Pastikan lapak:
- Bersih dan tertata,
- Ada papan nama dan daftar harga,
- Memberi kesan profesional namun tetap bersahabat.
4. Gabungkan Offline dan Online (O2O)
Jangan pilih salah satu – lakukan keduanya:
- Di lapak:
- Sediakan QRIS, terima pembayaran digital.
- Ajak pembeli follow WhatsApp Business atau Instagram Anda.
- Di online:
- Cantumkan lokasi lapak di pasar, jam buka, dan menu lengkap.
- Tawarkan layanan kirim (delivery) atau titip barang dulu, bayar di lokasi tertentu.
Dengan cara ini, pasar menjadi titik sentuh utama, sementara online memperluas jangkauan dan menjaga hubungan dengan pelanggan.
5. Manfaatkan Program Pemerintah dan Komunitas
Aktiflah mencari informasi:
- Pelatihan packaging, legalitas, dan digital marketing,
- Program kurasi produk untuk masuk gerai ritel modern,
- Pameran tingkat lokal maupun nasional.
Jangan ragu menghubungi:
- Dinas Perdagangan / Dinas Koperasi & UKM,
- Pengelola pasar, asosiasi pedagang,
- Komunitas bisnis dan coach yang bisa membantu merancang strategi bisnis.
6. Jaga Konsistensi Kualitas dan Layanan
Terutama untuk penjualan online:
- Pastikan barang yang dikirim sesuai foto dan deskripsi,
- Jika ada komplain, respon cepat dan bertanggung jawab,
- Bangun reputasi positif melalui testimoni, review, dan repeat order.
Kolaborasi Semua Pihak: Kunci Pasar Tradisional Tetap Hidup
Agar pasar tradisional benar-benar menjadi motor peningkatan omset UKM, semua pihak perlu bergerak bersama:
- Pemerintah & pengelola pasar: menyediakan fasilitas, regulasi, dan program pendukung.
- Asosiasi pedagang: menjaga ketertiban, kolaborasi, dan solidaritas antar pedagang.
- UKM & pedagang: menghadirkan produk berkualitas, layanan terbaik, dan inovasi berkelanjutan.
- Komunitas, media, dan perusahaan: menguatkan promosi, event, dan literasi belanja di pasar.
- Masyarakat sebagai pembeli: rutin berbelanja ke pasar, bukan sekadar jalan-jalan.
Call to Action: Yuk, Kembali Belanja ke Pasar Tradisional!
Pada akhirnya, sekuat apa pun program pemerintah dan UKM, pasar tradisional hanya akan hidup jika kita datang dan belanja di sana.
Dari langkah kecil itu, kita ikut membesarkan pasar, menguatkan UKM, dan menjaga denyut ekonomi kerakyatan di kota kita masing-masing.
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

