Sate Inyiak Datuak Bukittinggi:
Strategi Sukses Mengembangkan Usaha Warisan Keluarga hingga Buka Cabang Lintas Provinsi
Ketika “Pelengkap” Justru Jadi Penyelamat Usaha
Tidak semua bisnis keluarga berhasil bertahan lintas generasi. Banyak yang besar di masa orang tua, lalu redup ketika diteruskan anak.
Namun kisah Sate Inyiak Datuak dari Bukittinggi, Sumatera Barat, membuktikan hal sebaliknya: dari kegagalan, keterbatasan modal, hingga membangun jaringan outlet lintas provinsi.
Dalam talkshow Energi Sukses Bisnis RRI Pro 3 episode ke-83, Coach Margetty Herwin (Coach Getty) berbincang dengan Pak Andre Viali, generasi kedua yang meneruskan dan mengembangkan usaha kuliner keluarga.
Cerita ini kuat karena tidak hanya membahas “jualan sate”, tetapi juga mindset dagang, strategi fokus, diferensiasi rasa, momentum inovasi, hingga tantangan SDM saat usaha bertumbuh.
Mengembangkan Usaha Warisan Keluarga Menjadi Brand yang Tumbuh
Inti pembahasan talkshow menyoroti perjalanan Sate Inyiak Datuak dari usaha kecil menjadi brand yang pernah memiliki banyak outlet. Narasi besarnya adalah transformasi bisnis warisan yang bertahan bukan karena “nama besar”, tetapi karena:
- kemampuan membaca peluang pasar,
- keberanian mengambil keputusan fokus,
- konsistensi kualitas rasa,
- serta pelayanan yang membuat pelanggan kembali.
Pak Andre menjelaskan usaha ini dirintis bersama orang tua sejak 2008. Awalnya orang tua beliau berpengalaman di kuliner dan fokus di rumah makan sejak era 90-an.
Namun usaha rumah makan sempat gagal hingga modal habis. Di titik terendah itulah keluarga memulai kembali dari kecil, dan justru menemukan “harta” baru: sate yang awalnya hanya pelengkap, ternyata paling dicari.
Tantangan Awal Memulai Usaha: Bangkrut, Minim Modal, dan Memulai dari Nol
Kesuksesan jarang lahir dari jalur yang mulus. Pada fase awal, tantangan yang dihadapi keluarga Pak Andre sangat nyata:
- Kegagalan usaha rumah makan dan kehilangan modal
Keluarga mengalami kegagalan sehingga tidak memiliki modal memadai untuk melanjutkan skala besar. - Memulai dari tempat sederhana
Mereka membuka warung ukuran kurang lebih 2×3, bahkan sempat “menumpang” di dekat rumah saudara. Ini menggambarkan fase paling penting dalam bisnis: bertahan dan tetap bergerak, meski kecil. - Sate hanya pelengkap, bukan produk utama
Pada awalnya, sate dibuat sebagai pelengkap di sore hari. Namun respons pasar berkembang dari hari ke hari, promosi berjalan mulut ke mulut, hingga orang tua mulai kewalahan membagi fokus antara rumah makan dan sate. - Tantangan ekspansi: perbedaan selera daerah
Saat cabang pertama dibuka di Bandung (2017), muncul pelajaran besar: membawa kuliner tradisional ke provinsi lain berarti berhadapan dengan budaya makan yang berbeda. Contoh sederhana namun krusial: banyak pelanggan bertanya, “Kenapa tidak ada nasi?” karena terbiasa sate dengan nasi, sedangkan konsep sate Padang identik dengan ketupat. - Tantangan terbesar berikutnya: pandemi COVID-19
Saat usaha sedang bagus dan sudah berkembang, pandemi menghantam. Dari total 10 outlet di 4 provinsi, mereka kehilangan 5 outlet dan bertahan dengan sisa outlet yang masih memungkinkan.
Strategi yang Dijalankan: Fokus, Diferensiasi, dan Momentum
Walau talkshow tidak menyebut “program coaching formal” yang diikuti Pak Andre, strategi yang dijalankan sangat selaras dengan pola pikir business coaching: analisa, fokus, ukur, lalu bertumbuh bertahap.
- Mengambil keputusan fokus pada produk dengan respon pasar terbaik
Ketika rumah makan tidak berkembang, sate justru makin diminati. Mereka melakukan langkah penting: menggeser fokus bisnis dari rumah makan menjadi sate. Ini keputusan yang sering sulit dilakukan karena banyak pengusaha terjebak mempertahankan “rencana awal”, padahal pasar memberi sinyal jelas. - Diferensiasi produk: sate tidak sekadar “Sate Padang”
Salah satu kekuatan Sate Inyiak Datuak adalah pemahaman bahwa sate di Sumatera Barat punya karakter daerah yang berbeda. Pak Andre menjelaskan:- Ada sate berkuah merah yang identik dengan Pariaman dan Padang
- Ada sate berkuah kuning di beberapa daerah seperti Padang Panjang, Payakumbuh, Batusangkar (daging rebus)
- Sate Inyiak Datuak mencerminkan Bukittinggi–Agam: kuah kuning tetapi pembeda ada di daging yang memakai serundeng
- Mereka juga memiliki varian kuah kacang, yang menjadi ciri khas tertentu di Bukittinggi.
- Ini penting untuk branding: pelanggan tidak hanya membeli rasa enak, tapi membeli keunikan yang sulit ditiru.
- Menjaga rasa agar diterima semua kalangan
Pak Andre menyebut karakter rasa Inyiak Datuak cenderung lebih “soft”, tidak terlalu pedas, sehingga bisa dinikmati anak-anak sampai orang tua. Ini strategi segmentasi: bukan melawan kompetitor dengan “lebih pedas”, tetapi dengan “lebih ramah semua usia”. - Ilmu penting dari Coach Getty: jangan nafsu inovasi, ukur dampaknya
Coach menekankan poin yang sangat relevan bagi UMKM kuliner: menambah menu baru bisa berbahaya jika tidak menambah pelanggan, karena akhirnya penjualan hanya berpindah dari menu lama ke menu baru dan menimbulkan sisa bahan (pemborosan).
Kuncinya: momentum + analisa- Apakah menu baru benar-benar menambah pangsa pasar?
- Apakah waktunya tepat?
- Apakah kapasitas operasional dan SDM siap?
- Pelajaran dari pandemi: ekspansi besar tidak selalu bijak
Coach juga memberi contoh umum: ada usaha yang “jor-joran” buka banyak cabang, lalu pandemi membuat semua biaya sewa dan setup hangus. Karena itu strategi pertumbuhan harus selalu punya pertimbangan risiko dan skenario terburuk.
Hasil yang Dicapai: Dari Warung Kecil Menjadi Jaringan Outlet
Dengan strategi fokus dan diferensiasi, Sate Inyiak Datuak mencapai pertumbuhan yang nyata:
- Usaha dirintis sejak 2008, lalu mulai dikelola lebih serius setelah Pak Andre resign pada 2010
- Eksplorasi konsep jaringan/franchise berjalan bertahap sampai akhirnya cabang pertama dibuka di Bandung (2017)
- Cabang berikutnya menyusul (Cimahi, Pekanbaru, dan lainnya)
- Pernah mencapai 10 outlet di 4 provinsi sebelum pandemi
- Setelah COVID-19, bertahan dengan 5 outlet
Outlet yang disebut masih bertahan:
- Pekanbaru (2 outlet)
- Padang (2 outlet)
- Bukittinggi (outlet awal/utama)
Ini menunjukkan bisnis yang bertahan bukan yang paling cepat ekspansi, tetapi yang paling mampu memelihara kualitas dan adaptasi saat krisis.
Rencana & Ide Besar 2026: Outlet Kecil, Lebih Tahan Banting, dan Fokus SDM
Saat ditanya target 2026, Pak Andre mengungkap tantangan utama ekspansi: SDM.
Dalam bisnis multi-cabang, kualitas rasa dan layanan bisa turun jika:
- standar operasional tidak seragam,
- pelatihan tidak konsisten,
- turnover tinggi,
- loyalitas rendah.
Karena itu strategi 2026 yang disiapkan adalah model outlet kecil:
- operasional lebih sederhana,
- tidak membutuhkan tim besar,
- lebih mudah menjaga standar,
- bisa jadi alternatif membuka lapangan kerja,
- sambil menunggu momen yang tepat untuk ekspansi lebih besar.
Di saat yang sama, mereka juga menyiapkan:
- beberapa varian kuah dan menu tambahan,
- namun akan dirilis saat momentum tepat agar tidak mengganggu penjualan inti.
Pesan Penting untuk Pengusaha: Warisan, Mindset, dan Pelayanan
Pesan Pak Andre: bisnis itu “menjiwai”, bukan teori
Pak Andre menekankan bahwa jiwa dagang tidak terbentuk instan. Sejak kecil ia dilibatkan orang tua:
- ikut aktivitas jualan,
- ikut memasak,
- ikut belanja ke pasar saat libur sekolah.
Kini hal yang sama ia lakukan pada anak-anaknya (SD kelas 1 dan TK):
- diajak melihat proses dagang,
- ikut melihat proses menghitung uang,
- ditanamkan semangat agar generasi berikutnya bisa melampaui generasi sebelumnya.
Kalimat kuncinya: setiap generasi idealnya selangkah lebih maju dari orang tuanya.
Pesan Coach Getty: pelayanan membuat pelanggan kembali
Coach menggarisbawahi bahwa dalam bisnis kuliner, orang bisa meniru resep, tapi tidak bisa meniru “rasa + jiwa pelayanan” secara persis. Faktor yang membuat bisnis bertahan belasan tahun adalah owner yang:
- melayani pelanggan dengan hati,
- memperlakukan karyawan dengan baik,
- menjaga budaya layanan.
Saat pelanggan sudah “mencari produk kita”, harga bukan masalah utama—yang dicari adalah pengalaman rasa dan layanan yang konsisten.
Pelajaran Praktis untuk UMKM Kuliner
Agar artikel ini bisa langsung diimplementasikan, berikut ringkasan pelajaran yang bisa Anda terapkan:
- Ikuti sinyal pasar: fokus pada produk yang paling dicari, bukan yang paling kita suka.
- Bangun diferensiasi yang jelas: bukan hanya “enak”, tapi “punya karakter khas”.
- Ukur sebelum inovasi: menu baru harus menambah pelanggan, bukan menambah sisa bahan.
- Pahami momentum: strategi bagus bisa gagal jika waktunya tidak tepat.
- SDM adalah pondasi ekspansi: semakin banyak outlet, semakin penting SOP, training, dan kontrol kualitas.
- Warisan keluarga perlu sistem: resep penting, tapi sistem dan budaya layanan yang membuatnya tahan lama.
Penutup: Warisan yang Naik Kelas Karena Fokus dan Ketekunan
Kisah Sate Inyiak Datuak menunjukkan bahwa usaha warisan keluarga bukan sekadar meneruskan resep. Ia adalah perjalanan membangun sistem, menjaga kualitas, membaca pasar, dan mengelola pertumbuhan dengan bijak.
Berawal dari keterbatasan, mereka memilih fokus pada produk unggulan, membangun diferensiasi rasa khas Bukittinggi–Agam, pernah berekspansi lintas provinsi, terpukul pandemi, lalu kembali menyusun strategi 2026 yang lebih tahan banting melalui outlet kecil dan penguatan SDM.
Jika Anda pelaku UMKM kuliner, cerita ini adalah pengingat kuat: yang membuat bisnis bertahan bukan hanya rasa, tetapi fokus, momentum, dan kualitas pelayanan yang konsisten.
Jika Anda ingin bisnis kuliner Anda “naik kelas” dengan strategi yang terukur—mulai dari fokus produk unggulan, SOP cabang, hingga sistem kontrol kualitas & SDM—Anda bisa jadikan kisah ini sebagai studi kasus dan mulai menyusun rencana 90 hari implementasi.
Silakan Klik Link SATE INYIAK DATUAK di bawah ini:
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

