Dari Employee ke Business Owner: Menapaki Tangga Pertumbuhan Entrepreneur
Menjadi seorang entrepreneur sejati bukanlah proses yang terjadi secara instan. Brad Sugars dalam salah satu sesi edukasinya menjelaskan tentang “Entrepreneurial Ladder” atau tangga pertumbuhan wirausaha, sebuah kerangka yang menggambarkan bagaimana seseorang berkembang dari pelajar hingga mencapai level tertinggi sebagai entrepreneur sejati. Pola ini sangat relevan untuk siapa saja yang ingin menapaki jalan bisnis, karena setiap tahap memiliki konteks pembelajaran yang berbeda.
1. Student – Belajar untuk Dibayar Sambil Belajar
Tahapan pertama adalah student, yaitu saat kita masih menjadi pelajar atau mahasiswa. Namun menurut Brad, konteksnya bukan sekadar duduk di bangku sekolah atau kuliah. Seorang student adalah apprentice employee—seseorang yang sedang mempersiapkan diri untuk masuk ke dunia kerja. Di tahap ini, tujuan utama bukan mencari penghasilan, melainkan belajar keterampilan dasar yang kelak akan menjadi bekal membuka bisnis sendiri.
Brad bahkan menekankan bahwa pekerjaan pertama seharusnya dipilih bukan karena gaji, melainkan karena kesempatan belajar. Dengan bekerja, kita justru dibayar untuk belajar—baik itu skill penjualan, pemasaran, keuangan, atau manajemen. Semakin banyak skill yang dipelajari sejak dini, semakin siap kita untuk naik ke tahap berikutnya.
2. Employee – Dibayar untuk Belajar Skill Hidup dan Bisnis
Setelah menjadi student, kita naik ke tahap employee atau karyawan. Di sini, konteksnya lebih luas. Peran karyawan bukan hanya menyelesaikan tugas, tetapi juga laboratorium belajar kehidupan nyata. Kita belajar bagaimana dunia bisnis berjalan, bagaimana perusahaan menghasilkan profit, bagaimana sebuah tim bekerja, hingga bagaimana menghadapi tekanan target.
Sayangnya, banyak orang berhenti di tahap ini karena terjebak dalam “zona nyaman gaji”. Padahal, bagi calon entrepreneur, tahap employee seharusnya dilihat sebagai investasi pengalaman. Dengan menjadi karyawan, kita bisa mempelajari sistem perusahaan tanpa harus mengeluarkan biaya besar, karena perusahaanlah yang menanggung biaya pembelajaran kita.
3. Self-Employed – Semua Dilakukan Sendiri
Tahap berikutnya adalah self-employed. Di sinilah seseorang mulai membuka usaha sendiri. Konteksnya adalah belajar tanggung jawab penuh atas penghasilan pribadi. Namun pada fase ini, hampir semua pekerjaan dilakukan sendiri: dari marketing, penjualan, produksi, pelayanan pelanggan, bahkan sampai hal sederhana seperti membuang sampah kantor.
Fase ini sering digambarkan sebagai “jual → kerjakan → jual → kerjakan”. Setelah berhasil menjual, kita harus mengerjakan sendiri, lalu kembali mencari penjualan baru. Siklus ini melelahkan, tapi sangat mendidik. Self-employed mengajarkan disiplin, kerja keras, dan kemampuan multitasking. Namun, jika terlalu lama bertahan di sini, bisnis hanya akan menjadi “pekerjaan lain” yang menyita waktu, bukan jalan menuju kebebasan.
4. Manager – Belajar Memimpin dan Membangun Tim
Setelah melewati fase self-employed, langkah berikutnya adalah menjadi manager. Konteks utama di tahap ini adalah belajar kepemimpinan dan manajemen tim. Kita mulai merekrut karyawan, melatih, membangun sistem, dan mengatur strategi. Awalnya, justru terasa lebih sulit. Banyak pengusaha pemula merasa bekerja lebih keras hanya untuk membayar gaji karyawan mereka.
Brad membagikan pengalaman pribadinya: ketika ia mengeluh sulit menemukan orang yang bagus, ayahnya menjawab tegas, “You get the people you deserve.” Artinya, kualitas karyawan yang kita tarik sangat dipengaruhi oleh kualitas kepemimpinan dan manajemen kita sendiri. Tahap ini menguji kemampuan membangun budaya kerja, sistem yang rapi, serta kemampuan memberi visi.
5. Owner – Membangun Bisnis yang Bekerja Tanpa Kita
Tahap kelima adalah owner. Konteksnya: memiliki bisnis yang berjalan tanpa harus kita hadir setiap hari. Brad mendefinisikan bisnis sejati sebagai “a commercial profitable enterprise that works without you.” Jika bisnis masih bergantung pada kehadiran pemilik, maka sejatinya kita hanya menciptakan pekerjaan baru untuk diri sendiri, bukan membangun bisnis.
Sebagai owner, kita mulai membeli kembali waktu dan kebebasan. Sistem bekerja, tim solid, dan bisnis menghasilkan profit meskipun pemilik tidak selalu berada di tempat. Inilah momen di mana banyak orang merasakan manfaat nyata dari membangun bisnis: kebebasan waktu dan kualitas hidup yang lebih baik.
6. Investor – Menumbuhkan Aset dan Kekayaan
Setelah mencapai posisi owner, tahap berikutnya adalah investor. Konteksnya bukan lagi sekadar menjalankan bisnis, melainkan menumbuhkan aset. Profit dari bisnis digunakan untuk berinvestasi ke berbagai arah: membuka cabang baru, membeli perusahaan lain, masuk ke properti, saham, atau peluang usaha lain.
Investor belajar prinsip leverage dan diversifikasi. Di sini, fokusnya bukan lagi pada operasional sehari-hari, tetapi pada bagaimana modal bisa menghasilkan modal baru. Investor sejati adalah mereka yang mampu melihat peluang pertumbuhan jangka panjang dari hasil kerja keras bisnisnya.
7. Entrepreneur – Menciptakan Nilai Besar
Tahap tertinggi dari tangga pertumbuhan ini adalah entrepreneur sejati. Konteks utamanya adalah value creation atau penciptaan nilai besar. Entrepreneur menciptakan kesepakatan besar, membangun perusahaan yang bisa melantai di bursa saham (IPO), membuka jaringan franchise, atau menciptakan model lisensi global.
Di tahap ini, seorang entrepreneur bukan hanya mengelola aset, tetapi juga menciptakan peluang besar bagi orang lain. Ia menggerakkan ekosistem bisnis, melibatkan investor, karyawan, mitra, dan pasar dalam skala luas. Entrepreneur sejati menjadi arsitek dari sistem bisnis yang berpengaruh jauh melampaui dirinya sendiri.
Filosofi Penutup – Bisnis Membentuk Diri Kita
Brad Sugars menutup dengan pesan yang sangat kuat:
“It doesn’t take time to build a great business. It takes time to build a great business person.”
Membangun bisnis besar bukan soal seberapa lama kita berjualan atau membuka cabang, melainkan seberapa besar kita bertumbuh sebagai pribadi yang layak memimpin bisnis tersebut.
Setiap tahap—student, employee, self-employed, manager, owner, investor, entrepreneur—adalah proses pembentukan karakter dan kapasitas diri.
Dengan terus belajar, beradaptasi, dan mengembangkan skill, maka perjalanan dari karyawan hingga menjadi business owner sejati akan terasa lebih jelas dan terarah.
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

