Strategi Membangun Bisnis 90 Hari – Panduan Praktis Pengusaha Millennials

Strategi Membangun Bisnis 90 Hari:
Panduan Praktis untuk Pengusaha Modern

Di era digital dan penuh disrupsi seperti sekarang, cara membangun bisnis tidak bisa lagi hanya mengandalkan intuisi dan keberuntungan. Setiap langkah perlu disusun dengan strategi yang terukur, sistematis, dan mampu beradaptasi dengan perubahan perilaku konsumen yang serba online.
Dalam 90 hari pertama, seorang entrepreneur dapat membangun fondasi bisnis yang kokoh dengan prinsip go online, go structured, go measurable.

Coach Margetty Herwin menguraikan bahwa masa 90 hari ini adalah momentum emas bagi para pengusaha untuk mempercepat transformasi bisnis — mulai dari digitalisasi penjualan, pembentukan tim bermental performa, hingga kontrol keuangan yang presisi.


Go Online:
Pastikan Bisnismu Dikenal, Ditemukan, dan Dipercaya

Langkah pertama adalah memastikan bahwa bisnis dapat ditemukan secara online. Dunia digital bukan lagi pilihan, tapi kebutuhan utama.
Interaksi pelanggan kini berlangsung di layar ponsel: mulai dari pencarian informasi, pemesanan, hingga transaksi.
Itulah sebabnya setiap bisnis wajib memiliki digital presence yang kuat — bukan sekadar akun media sosial, tetapi ekosistem online yang saling terhubung.

Ada enam fondasi penting online marketing yang perlu dibangun:

  1. Email marketing untuk menjaga komunikasi otomatis dan edukatif dengan pelanggan.
  2. Social media bisnis, bukan akun pribadi yang bercampur-campur.
  3. Blog dan website yang menampilkan kredibilitas serta kemudahan transaksi.
  4. Marketplace presence dengan diferensiasi harga dan pelayanan, bukan sekadar ikut perang murah.
  5. Online advertising seperti Google, Facebook, dan TikTok Ads untuk memperluas jangkauan.
  6. SEO strategy agar produk dan jasa muncul di halaman pertama pencarian.

Digitalisasi bisnis bukan hanya “pindah online”, melainkan membangun sistem yang memudahkan pelanggan membeli kapan pun dan di mana pun.


Cash Flow Control:
Menata Uang agar Bisnis Tidak Sekadar Berjalan, Tapi Tumbuh

Banyak bisnis yang gagal bukan karena kurang laku, melainkan karena tidak mampu mengelola arus kas.
Coach Margetty menegaskan bahwa cash flow control berbeda dengan sekadar pencatatan jurnal. Pengusaha harus mampu memprediksi kapan uang masuk (cash-in) dan keluar (cash-out), serta membedakan antara pendapatan operasional, investasi, dan pembiayaan.

Buatlah Cash Flow Budgeting sederhana:

  • Prediksi pemasukan bulanan dari tiap produk atau channel.
  • Catat pengeluaran rutin, modal kerja, dan rencana investasi.
  • Analisis periode ramai dan sepi (seasonal) agar strategi promosi lebih tajam.

Dari analisis ini, Anda bisa mengetahui kapan waktu yang tepat untuk belanja stok, kapan harus menunda pengeluaran, dan kapan perlu menyiapkan cadangan modal.


Tentukan Revenue Model:
Pahami Sumber Pendapatan Utama

Tahap berikutnya adalah menyusun Revenue Model Canvas — alat yang membantu Anda mengenali sumber utama penghasilan bisnis.
Coach Margetty mencontohkan toko home hardware yang memiliki empat revenue stream:

  1. Penjualan keramik (60%)
  2. Produk sanitary (15%)
  3. Home appliances (15%)
  4. Material bangunan (10%)

Dengan model seperti ini, tim penjualan dapat lebih fokus mengejar target di tiap kategori, bukan sekadar menunggu pembeli datang. Revenue Model juga membantu menentukan target transaksi, rata-rata nilai penjualan, hingga kebutuhan stok dan tenaga kerja.

Gunakan prinsip 80–100% confidence target, di mana 80% adalah target realistis dan 100% adalah target ambisius yang memacu performa tim.


Evaluasi Channel Marketing:
Hindari “Persaingan Mematikan” (Red Ocean)

Channel pemasaran adalah jembatan utama antara bisnis dan pelanggan. Sayangnya, banyak bisnis hanya bergantung pada marketplace dan terjebak dalam perang harga (red ocean).
Solusinya adalah diversifikasi channel:

  • Marketplace untuk volume transaksi.
  • Website untuk edukasi dan loyalitas pelanggan.
  • Media sosial untuk engagement dan storytelling.
  • Podcast, radio, atau influencer untuk membangun kepercayaan publik.
  • Aplikasi mobile untuk kenyamanan transaksi.

Setiap channel memiliki strategi, metrik, dan pengelola yang berbeda.
Pastikan tim Anda melakukan review mingguan untuk menganalisa efektivitas tiap saluran.


Bangun Value Proposition:
Jual Nilainya, Bukan Sekadar Produknya

Produk boleh serupa, tapi value membuat pelanggan memilih Anda.
Value adalah manfaat nyata dan emosional yang dirasakan pelanggan.
Coach Margetty menegaskan: “Jelaskan value, bukan hanya fitur produk.”

Pelajari apa yang disukai dan tidak disukai pelanggan Anda. Gunakan customer feedback sebagai panduan perbaikan.
Dengan value proposition yang kuat — seperti kecepatan layanan, desain unik, kualitas tinggi, atau pengalaman pelanggan yang berkesan — Anda bisa keluar dari jebakan harga murah.


Bangun Mindset dan Tim yang Seirama

Bisnis tidak akan berkembang tanpa tim yang memiliki mindset pemenang.
Coach Margetty membedakan empat komponen pembentukan tim bermental performa:

  1. Mindset: keyakinan positif terhadap tujuan bisnis.
  2. Knowledge: pemahaman mendalam terhadap produk dan pelanggan.
  3. Skill: kemampuan komunikasi, negosiasi, dan presentasi.
  4. Attitude: tanggung jawab, disiplin, dan semangat kolaboratif.

Tim yang baik bukan sekadar tahu sistem, tetapi memiliki heart and spirit dalam menjalankan perannya.
Ketika identitas dan visi perusahaan tertanam di hati mereka, performa meningkat bukan karena diperintah, tapi karena memiliki rasa memiliki.


90-Day Action Plan:
Wujudkan Impian dengan Langkah Nyata

Mengacu pada konsep Breakdown Entrepreneur Dream to Action, impian besar harus dipecah menjadi langkah-langkah terukur:

  1. Dream – definisikan visi besar bisnis Anda.
  2. Goals – tetapkan target SMART dalam 90 hari.
  3. Learn – pelajari strategi baru, tools digital, dan perilaku pasar.
  4. Plan – susun rencana operasional dan marketing mingguan.
  5. Action – lakukan dan evaluasi hasilnya setiap minggu.

Dengan prinsip ini, 90 hari pertama akan menjadi momentum discipline untuk memperkuat pondasi bisnis, menata sistem, dan mengukur performa tim.


The Entrepreneur Formula: THINKING × BEING × DOING = RESULTS

Salah satu formula penting dari Smart Business Coaching adalah menghubungkan cara berpikir (thinking), menjadi (being), dan bertindak (doing).
Hasil besar tidak lahir dari ide semata, tapi dari sinergi antara mindset, karakter, dan eksekusi yang konsisten.

Gunakan prinsip 4D Time Management (Do, Delegate, Delay, Dump) untuk mengelola aktivitas harian dan menjaga fokus pada hal yang berdampak langsung terhadap revenue.


From Comfort Zone to Growth Zone

Setiap pengusaha harus menyadari bahwa kenyamanan adalah jebakan tersembunyi.
Sebagaimana disebutkan dalam Five Disciplines of Entrepreneurs, banyak bisnis stagnan karena kehilangan disiplin dalam strategi, pengembangan bisnis, tim, eksekusi, dan emosi.
Disiplin dalam lima hal ini menciptakan bisnis yang sustainable, predictable, stable, consistent, dan emotionally connected — fondasi utama pertumbuhan eksponensial.


Penutup:
Sukses Itu Dirancang, Bukan Kebetulan

Membangun bisnis bukan soal nasib, tapi tentang desain dan disiplin.
Dalam 90 hari, Anda bisa mengubah arah bisnis sepenuhnya — dari konvensional menjadi digital, dari reaktif menjadi strategis, dari bertahan menjadi tumbuh.
Gunakan waktu, sistem, dan mindset Anda secara terukur.
Karena seperti kata Coach Margetty,

“Bisnis yang sukses bukanlah bisnis yang besar, melainkan bisnis yang terus bertumbuh dengan cara yang benar.”

Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin  menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

Margetty Herwin is a Certified Master Coach of: Life Coach, Executive Coach, Business and Money Coach, NLP Coach, Time Line Therapy, Green Belt Six Sigma Coach, Master Trainer STRATEGYZER Business Model

Related Posts

Bangun Co-Creating Value Collaboration untuk Keberlanjutan Bisnis

Sudah dilihat: 22 Salam sehat sukses sejahtera SMARTpreneur Indonesia,….? Ketidakpastian ekonomi global, perubahan perilaku konsumen, dan percepatan teknologi menciptakan kondisi dunia bisnis yang serba VUCA — Volatile, Uncertain, Complex, Ambiguous….

Read more

Legalitas Penting yang Perlu Dimiliki oleh UMKM untuk Naik Kelas

Sudah dilihat: 23 LEGALITAS PENTING YANG PERLU DIMILIKI OLEH UMKM Oleh: Coach Margetty Herwin Narasumber: Nurul Amalia, SmartLegal.id Pendahuluan: Legalitas Bukan Beban, Tapi Investasi Masih banyak pelaku UMKM yang menganggap…

Read more

Restrukturisasi Fondasi Bisnis untuk Bangun Kekuatan Baru

Sudah dilihat: 22 Restrukturisasi Fondasi Bisnis: Langkah Awal Membangun Kekuatan Baru ke Masa Depan Dalam dunia bisnis, tidak ada satu pun fase yang berjalan tanpa perubahan. Pandemi yang lalu, disrupsi…

Read more

Membangun Fondasi Usaha UKM yang Kuat untuk Tumbuh dan Berkembang (Bagian 02)

Sudah dilihat: 18 Strategi Blueprint Bisnis (Bagian 2): Membangun Strategi Penjualan dan Pertumbuhan Bisnis yang Terukur Pada bagian kedua Strategi Blueprint Bisnis, Coach Margetty Herwin membawa para peserta masuk ke…

Read more

Leave a Reply