Tantangan Coaching Program Bisnis, Eksekutif, dan Profesional untuk Handal dan Kompeten

COACHING CHALLENGE:
Mengurai Tantangan Pola Pikir, Pola Diri, dan Pola Aksi untuk Membangun Kinerja Unggul

Dalam dunia bisnis dan pengembangan manusia, peran seorang coach bukan sekadar memberikan saran atau nasihat, tetapi menuntun seseorang menemukan potensi terbaik dalam dirinya.
Coaching adalah proses perubahan yang melibatkan kesadaran berpikir, pemahaman diri, serta konsistensi tindakan.
Dan dalam perjalanan itu, baik coach maupun coachee akan sama-sama diuji, karena setiap sesi coaching sejatinya adalah cermin pembelajaran dua arah.

Materi Coaching Challenge ini, Coach Margetty Herwin memaparkan dengan tajam bahwa keberhasilan seseorang dalam hidup maupun bisnis selalu ditentukan oleh tiga pola utama: pola pikir (Thinking Pattern), pola diri (Self Pattern), dan pola aksi (Action Pattern).
Ketiga hal inilah yang menjadi fondasi dari perubahan yang sesungguhnya, bukan sekadar perubahan hasil, tetapi perubahan kesadaran dan perilaku yang melahirkan keberlanjutan.


1️⃣ Tantangan Pola Pikir:
Dari Reaktif Menjadi Reflektif

Tantangan pertama yang sering muncul dalam proses coaching adalah mindset.
Bagaimana seseorang berpikir tentang masalah dan peluang sering kali menentukan arah hidupnya.
Coach Margetty menguraikan tujuh tantangan pola pikir utama yang perlu disadari dan diubah oleh siapa pun yang ingin bertumbuh.

  1. Bingung membedakan sebab dan akibat.
    Banyak orang terlalu fokus membereskan akibat — masalah, hambatan, hasil buruk — tanpa menyadari akar sebab yang menimbulkannya.
    Dalam coaching, fokus harus bergeser ke root cause thinking.
    Perubahan yang efektif tidak dimulai dari efek, tapi dari sebab.
  2. Hidup dalam ketakutan dan bukan dalam rasa aman.
    Ketika seseorang menjalani pekerjaan dengan rasa takut, kreativitas mati. Coach harus menumbuhkan secure environment — suasana aman yang mendorong eksplorasi ide tanpa rasa dihakimi. Karena hanya pikiran yang tenang yang mampu mencipta gagasan besar.
  3. Training versus learning.
    Pelatihan (training) sering kali hanya menambah pengetahuan, tetapi tidak selalu mengubah perilaku. Sementara learning adalah proses internal — kesadaran untuk belajar dari dalam diri. Coaching yang efektif bukan sekadar mengajar, tetapi membangkitkan niat belajar dari dalam individu.
  4. Telling versus asking.
    Seorang coach bukanlah “pemberi jawaban”, melainkan “penyusun pertanyaan yang memantik kesadaran.” Pertanyaan-pertanyaan berkualitas justru menuntun coachee menemukan jawaban terbaiknya sendiri. Dengan begitu, solusi menjadi milik mereka, bukan hasil tempelan dari orang lain.
  5. Problem versus opportunity.
    Kita sering sibuk mencari solusi atas masalah, padahal setiap masalah menyimpan peluang. Fokuslah mencari solution for opportunity, bukan sekadar solution for problem. Karena ketika kita memecahkan peluang, kita menutup banyak masalah sekaligus.
  6. Activity versus action.
    Aktivitas adalah rutinitas tanpa arah; aksi adalah tindakan penuh nilai. Banyak orang sibuk, tapi tidak produktif. Seorang coach membantu mengubah rutinitas tanpa energi menjadi tindakan yang bermakna dan bernilai.
  7. Comfort zone versus challenge zone.
    Ketika seseorang sudah merasa nyaman, ia berhenti tumbuh. Coach harus berani mendorong klien keluar dari zona nyaman — bukan untuk membuatnya gelisah, tapi agar ia kembali merasakan semangat tantangan untuk berkembang. Karena pertumbuhan hanya terjadi di luar batas kenyamanan.

Pola pikir ini adalah pintu pertama dari perubahan. Ia menentukan cara seseorang memaknai dunia, memutuskan, dan bertindak. Seperti yang dijelaskan dalam Four Learning Stages, seseorang akan bertransformasi dari tidak sadar bahwa ia tidak tahu, menuju tahu secara otomatis, hanya bila ia bersedia memperbarui cara berpikirnya setiap hari.

 

2️⃣ Tantangan Pola Diri: Membangun Kesadaran Identitas dan Nilai

Pola diri berbicara tentang siapa kita sebenarnya. Tentang nilai, keyakinan, dan identitas yang menjadi dasar perilaku sehari-hari. Banyak orang bekerja keras tanpa mengenal dirinya sendiri — tanpa sadar bahwa keberhasilan luar hanyalah pantulan dari keseimbangan dalam.

Ada tujuh tantangan pola diri yang perlu dikenali oleh setiap pribadi yang ingin bertumbuh.

  1. Profile Identity
    Apakah seseorang bangga dengan perannya di tempat kerja, atau hanya menjadi penumpang yang menunggu gaji? Mereka yang memiliki identitas positif akan lebih mudah berkontribusi dan menciptakan inovasi baru. Identitas menumbuhkan rasa memiliki.
  2. Internal Value.
    Nilai-nilai yang dibawa dari keluarga dan lingkungan akan sangat memengaruhi keputusan dan perilaku. Coach membantu coachee menemukan nilai mana yang membangun, dan mana yang justru membatasi.
  3. Belief system.
    Keyakinan adalah peta yang menentukan bagaimana seseorang melihat dunia. Keyakinan yang salah bisa membatasi potensi. Coach menuntun klien untuk mengganti “Saya tidak bisa” menjadi “Saya sedang belajar untuk bisa.”
  4. Confidence level.
    Rasa percaya diri bukan datang dari bakat, tapi dari pengalaman sukses kecil yang diulang terus-menerus. Keberanian membuat keputusan kecil membangun keyakinan besar. Dalam 12 Value Karakter Entrepreneur, percaya diri bahkan disebut sebagai nilai pertama seorang pengusaha sejati.
  5. Procrastination atau penundaan.
    Menunda berarti menolak peluang. Pola diri yang menunda membuat individu kehilangan momentum. Coach harus membantu klien mengubah “nanti” menjadi “sekarang.”
  6. Communication skill.
    Banyak hambatan komunikasi muncul bukan karena kurangnya kata, tapi karena ketakutan dalam diri. Kemampuan berbicara, mendengar, dan berempati adalah refleksi dari kepercayaan diri.
  7. Adaptability.
    Perubahan adalah keniscayaan. Orang yang tidak mau beradaptasi akan tertinggal. Dalam dunia bisnis, adaptabilitas menjadi kunci bertahan dan bertumbuh.

Pola diri ini menentukan kualitas hubungan seseorang — dengan dirinya sendiri, tim, dan lingkungannya. Seorang coach yang baik tidak hanya menumbuhkan kemampuan teknis, tetapi juga awareness akan nilai dan identitas pribadi yang menuntun setiap keputusan hidup.

 

3️⃣ Tantangan Pola Aksi: Dari Ide ke Implementasi

Jika pola pikir dan pola diri adalah fondasi, maka pola aksi adalah bukti nyata. Inilah tahap “DOING” — saat seseorang mengeksekusi rencana dan ide menjadi hasil terukur.
Namun, banyak orang gagal bukan karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, tapi karena tidak mampu melakukannya secara konsisten.

Coach Margetty menyebut ada beberapa tantangan penting dalam pola aksi:

  1. Big Goals vs SMART Goals.
    Banyak orang punya impian besar, tetapi tanpa rencana spesifik. Coaching membantu mengubah mimpi menjadi SMART GoalsSpecific, Measurable, Achievable, Relevant, Time-bound. Dari impian besar menjadi langkah konkret yang bisa dijalankan.
  2. Planning dan Structuring.
    Pola kerja yang berantakan membuat tim mudah bingung. Setiap rencana harus memiliki struktur, tahapan, dan timeline yang jelas agar energi tidak terbuang.
  3. System Development.
    Bisnis yang hebat berjalan dengan sistem, bukan sekadar mengandalkan orang. Sistem memastikan pekerjaan tetap berjalan meski individu berganti. Ini sejalan dengan karakter System-Oriented dalam 12 Value Entrepreneur.
  4. Efficiency & Effectiveness.
    Aktivitas belum tentu produktif. Efisiensi adalah melakukan sesuatu dengan benar, sementara efektivitas adalah melakukan hal yang benar. Keduanya harus berjalan seimbang.
  5. Consistency.
    Konsistensi adalah pembeda antara orang biasa dan mereka yang luar biasa. Sekali dua kali berhasil tidak cukup; keberhasilan sejati datang dari ketekunan yang terus dilakukan setiap hari.

Dalam konteks ini, Breakdown Your Dream to Actions mengajarkan lima tahap penting: Dream → Goals → Learn → Plan → Action.
Seseorang yang hanya bermimpi tanpa bertindak akan tetap berada di tempat yang sama. Tapi yang berani melangkah, sekecil apa pun langkahnya, sedang berjalan menuju masa depan impiannya.

 

4️⃣ Refleksi: Coach Sebagai Cermin Perubahan

Menariknya, Coach Margetty menutup pembahasan ini dengan refleksi yang menyentuh:

“Ketika Anda punya klien yang terus menghadapi masalah serupa, periksalah diri Anda — mungkin Anda sedang melihat cerminan diri sendiri.”

Kalimat ini sederhana, namun sangat dalam. Karena dalam coaching, perubahan sejati bukan hanya terjadi pada klien, tetapi juga pada coach-nya. Coach yang terstruktur akan menghasilkan coachee yang sistematis. Coach yang berani berubah akan menularkan keberanian itu kepada orang lain.

Coaching bukan hanya tentang metode, tapi juga tentang presence — kehadiran sadar, empatik, dan reflektif.
Ketika seorang coach hadir sepenuh hati, ia menjadi katalis perubahan bagi orang lain, sekaligus bagi dirinya sendiri.

 

5️⃣ Kesimpulan: The Art of Transformational Coaching

Coaching Challenge mengingatkan kita bahwa pertumbuhan sejati lahir dari keseimbangan antara Thinking, Being, dan Doing.

  • Thinking melatih cara kita memahami dunia.
  • Being meneguhkan nilai dan identitas diri.
  • Doing membuktikan komitmen melalui tindakan nyata.

Seorang coach yang hebat tidak hanya membantu klien mencapai target, tapi juga membangkitkan kesadaran dan tanggung jawab terhadap potensi terbaik mereka. Coaching bukan proses instan — ia adalah perjalanan menemukan makna, disiplin, dan arah hidup.

Karena pada akhirnya, tantangan terbesar dalam coaching bukanlah mengubah orang lain, tapi menuntun mereka untuk mampu mengubah dirinya sendiri.
Dan seperti yang diungkap Coach Margetty,

“Ketika pola pikir, pola diri, dan pola kerja mulai sejalan, maka hasil luar biasa bukan lagi mimpi — tapi konsekuensi alami dari perubahan yang terencana.”

Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin  menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

Margetty Herwin is a Certified Master Coach of: Life Coach, Executive Coach, Business and Money Coach, NLP Coach, Time Line Therapy, Green Belt Six Sigma Coach, Master Trainer STRATEGYZER Business Model

Related Posts

The Entrepreneur Brain: From Survival Mode to Successful Business

Sudah dilihat: 9 Otak Entrepreneur: Antara Bertahan Hidup dan Bertumbuh Sebagian besar pengusaha mengira tantangan terbesarnya adalah modal, kompetitor, atau pasar. Padahal, tantangan terbesar sering kali justru berasal dari dalam…

Read more

Meningkatkan Produktivitas Tim Melalui Group Coaching

Sudah dilihat: 21 Meningkatkan Produktivitas Tim Melalui Metode Coaching secara Group Dalam dunia bisnis yang dinamis, kesuksesan tidak hanya ditentukan oleh strategi atau teknologi, tetapi juga oleh seberapa efektif tim…

Read more

10 Pilar Fondasi Perusahaan Sukses – Pilar Strategis Menuju World-Class Company

Sudah dilihat: 47 10 Pilar Fondasi Perusahaan Sukses: Pilar Strategis Menuju World-Class Company Setiap perusahaan yang sukses memiliki satu kesamaan: fondasi yang kokoh dan nilai-nilai inti yang hidup dalam budaya…

Read more

Strategi Meningkatkan Closing dan Komunikasi Empatik Tim Penjualan Perusahaan Travel Umrah

Sudah dilihat: 34 Strategi Meningkatkan Closing dan Komunikasi Empatik Tim Penjualan Travel Umrah  Dalam dunia bisnis yang mengedepankan pelayanan spiritual seperti travel umrah, menjual bukan hanya soal angka. Ini tentang…

Read more

Leave a Reply