Salam Sukses Sejahtera para SMARTpreneur Indonesia,…!
Selamat Tahun Baru 2026
Memasuki 2026, makin banyak orang ingin menjadi business owner. Ada yang lelah bekerja, ada yang ingin kebebasan waktu, ada yang tergiur gaya hidup entrepreneur.
Namun satu hal penting perlu diluruskan sejak awal: semua orang bisa menjadi business owner, tetapi tidak semua orang siap menjadi business owner.
Karena bisnis bukan soal “kelihatan keren”, melainkan soal mengubah cara berpikir, mengelola diri, dan membangun langkah kerja yang benar.
Dalam sesi talkshow ini, saya membagikan kerangka yang sering saya gunakan saat mendampingi pebisnis, profesional, UKM, hingga korporasi: Thinking – Being – Doing.
Artikel ini saya tulis untuk Anda yang:
- baru ingin memulai bisnis di 2026,
- sedang bekerja tapi mulai mempertimbangkan usaha,
- atau sudah punya bisnis namun “gitu-gitu aja” dan ingin naik kelas.
Semua Orang Bisa Jadi Business Owner—Tapi Jangan Tinggalkan Modal Terbesar Anda: Pengalaman
Banyak orang ingin memulai bisnis dengan cara ekstrem: keluar kerja, banting setir total, lalu mulai bisnis yang sama sekali berbeda dari pengalaman hidupnya.
Misalnya, selama bertahun-tahun Anda ahli digital marketing, lalu karena bosan bekerja Anda tiba-tiba membuka usaha kuliner dari nol.
Bukan tidak boleh, tetapi Anda harus sadar: Anda sedang membuang “modal pengalaman” yang paling berharga.
Bisnis owner itu tidak harus jualan produk. Bisnis jasa pun bisa. Yang paling penting: jangan keluar dari kekuatan Anda.
Contoh cara berpikir yang benar:
- Anda pernah di sales TV → bukan berarti bisnisnya harus TV, tetapi mungkin passion Anda adalah berinteraksi dengan banyak orang, membangun trust, dan meyakinkan orang.
- Anda orang produksi yang detail → kekuatan Anda bukan “jualan”, tetapi membangun proses yang rapi dan konsisten.
- Anda tidak jago marketing → jangan pura-pura bisa sendiri, justru carilah partner yang memang kuat di marketing.
Intinya: bisnis bukan tentang produk saja, tapi tentang siapa Anda dan apa kekuatan Anda.
Thinking – Being – Doing: Tiga Fondasi Wajib Jika Anda Mau Naik Level di 2026
Kalau Anda ingin target baru di 2026, Anda tidak cukup hanya “ganti strategi”. Anda harus bertumbuh dalam 3 hal:
A. THINKING (Cara Berpikir)
Banyak orang masuk bisnis dengan pikiran emosional:
- karena tidak naik pangkat,
- karena stres di kantor,
- karena iri melihat teman sukses,
- karena ikut tren (misal coffee shop) tanpa hitung risiko.
Padahal, keputusan emosional di bisnis sering menjadi awal kegagalan.
B. BEING (Cara Mengelola Diri & Nilai)
Yang membuat bisnis tahan lama bukan hanya skill—tetapi nilai dan karakter.
Misalnya:
- apakah Anda siap melayani pelanggan yang komplain?
- apakah Anda siap ditagih vendor, ditunda klien, dan tetap tenang?
- apakah Anda punya mental “melayani”, bukan “dilayani”?
C. DOING (Langkah Kerja Bertahap)
Bisnis itu bukan ide saja. Bisnis adalah tindakan yang dibuat sistematis:
- mulai dari kecil,
- uji pasar,
- bangun jaringan,
- baru scale-up.
Tanpa Doing yang benar, thinking bagus pun akan berhenti sebagai wacana.
Jangan “Jualan Telur Langsung Bikin Peternakan”: Mulai dari Tes Pasar dan Kolaborasi
Saya sering mengatakan ini untuk pemula:
Kalau mau jual telur, jangan bikin peternakan dulu. Jual telurnya dulu laku, baru pikirkan peternakannya.
Karena banyak bisnis tumbang bukan karena produknya jelek, tetapi karena:
- masuk pasar di waktu yang salah,
- kapital belum siap,
- pasar belum terbentuk,
- beban investasi terlalu besar sejak awal.
Strategi aman untuk pemula:
- mulai sebagai sampingan,
- atau minta pasangan/keluarga menjalankan operasional awal,
- Anda tetap bekerja sampai profit bisnis mampu menggantikan penghasilan tetap Anda.
Dan jika Anda belum punya resource:
- kolaborasi dulu
- partner dulu 1–2 tahun
- belajar sambil membangun network
- setelah kuat, barulah mandiri
Kolaborasi itu bukan berarti kalah. Kolaborasi adalah cara cerdas mengurangi risiko.
4 Hal yang Membuat Bisnis Bertahan: Keuangan, Pasar, Proses, People
Dari pengalaman mendampingi ratusan hingga ribuan pelaku bisnis, ada 4 aspek yang paling sering menentukan apakah bisnis bertahan melewati tahun kedua (dan tidak tutup sebelum 5 tahun):
1) Keuangan
Anda harus paham:
- investasi awal,
- modal kerja,
- biaya operasional 3–6 bulan (bahkan 1 tahun),
- dan skenario cashflow.
Banyak bisnis tutup bukan karena tidak laku, tetapi karena cashflow tidak kuat membayar sewa, gaji, dan kebutuhan operasional di tahun berikutnya.
2) Pasar
Sebelum Anda investasi besar, pastikan:
- pasar jelas,
- segmen jelas,
- dan Anda tahu cara mendapatkan pelanggan.
3) Proses Bisnis
Kalau order naik, proses Anda siap atau tidak?
Banyak orang bilang “scale up”, tapi ketika order meledak, justru itu awal kejatuhan karena proses belum rapi.
4) People
Membangun tim hebat tidak gampang. Yang cari kerja banyak, yang siap kerja dengan standar bisnis tidak selalu banyak.
Maka sistem, budaya kerja, dan leadership Anda harus siap.
Modal Itu Bukan Hanya Uang: Ada 4 Modal yang Harus Anda Bangun
Banyak pemula berpikir “saya tidak punya modal”. Padahal modal itu tidak cuma uang.
4 modal utama:
- Modal SDM / People (siapa yang bisa bantu Anda)
- Modal Skill & Keahlian (apa yang Anda kuasai)
- Modal Network (siapa yang Anda kenal dan bisa kolaborasi)
- Modal Uang (baru terakhir)
Jika Anda tidak punya uang, Anda bisa:
- cari partner yang punya dana,
- Anda membawa 3 modal lain (skill, network, sistem, operasional),
- dan membangun bisnis bersama.
Inilah konsep bisnis yang benar: bukan sekadar “punya uang”, tetapi punya ekosistem.
Rahasia Modal Terbesar: Bukan “Pinjaman”, Tapi TRUST
Saya sering bertemu UKM yang bilang masalah mereka adalah modal karena klien bayar belakangan. Saya tanya:
“Sudah coba minta DP di depan belum?”
Banyak yang jawab: “Belum.”
Padahal dalam banyak kasus, ketika UKM membangun trust dan menawarkan value yang jelas, pelanggan mau bayar DP, bahkan ada yang mau bayar 100% di depan.
DP itu adalah “modal gratis”—tanpa bunga bank, tanpa tekanan investor.
Tetapi syaratnya jelas:
- produk Anda unik,
- kualitas berbeda,
- Anda tidak mudah digantikan.
Maka kuncinya adalah: jangan jadi UKM yang berlomba murah. Jadilah UKM yang berlomba kualitas.
Red Ocean vs Blue Ocean: Jangan Rebutan di Inti—Masuk ke Bisnis Pendukung
Contoh paling relevan 2026: banyak orang ingin bisnis kopi.
Kalau Anda masuk ke “inti” coffee shop, Anda masuk red ocean. Energinya besar, persaingannya brutal.
Strategi yang lebih cerdas: Masuk ke bisnis support-nya:
- cup & packaging,
- gula/sirup,
- sedotan ramah lingkungan,
- bahan baku, peralatan, supplier, hingga jasa konten & marketing.
Prinsipnya: Jangan selalu ngotot jadi pemain inti. Kadang jadi bisnis penunjang justru lebih cuan dan lebih aman.
Mindset Pedagang vs Mindset Pebisnis: Ini Pembeda Utama
Mindset pedagang:
- “ada yang kosong, saya jual”
- fokus beli murah jual mahal
- cepat laku tapi cepat hilang
Mindset pebisnis:
- melihat kekurangan dari yang sudah ada
- memperbaiki dengan sistem
- membangun demand melalui edukasi dan positioning
- membuat bisnis beradaptasi
Karena bisnis yang bertahan bukan yang paling hebat, melainkan yang paling adaptif.
Contoh Nyata yang Menguatkan: Bisnis Kecil Bisa Meledak Jika Berpikir Pebisnis
Saya beri contoh dari pengalaman pendampingan:
- Bisnis sablon yang dianggap “pinggir jalan”, omzetnya bisa 1,6 miliar per bulan. Kuncinya bukan hanya sablon, tapi sistem order, segmentasi, konsistensi quality, dan channel penjualan.
- Bisnis korden yang awalnya sederhana, setelah dibenahi sistem dan strateginya, omzet bisa naik sampai 3 miliar per bulan.
- Bisnis madu yang semula hanya jual madu botolan (mentok omzet), lalu diubah mindsetnya menjadi bisnis value: dibuat menjadi hampers sehat untuk souvenir pernikahan. Sekali order bisa ribuan paket karena value-nya jelas dan kolaborasinya kuat (kemasan, tas, produk pendukung).
Pelajarannya: Bukan industrinya yang menentukan Anda sukses, tapi cara berpikir bisnis yang menentukan industri itu menjadi besar.
6 Pertanyaan Bisnis Ideal:
Kenapa Bisnis “Gitu-Gitu Aja”?
Untuk Anda yang sudah punya bisnis tetapi stagnan, jawab 6 pertanyaan ini:
- Apakah bisnis Anda terarah?
- Apakah bisnis Anda terkontrol?
- Apakah bisnis Anda terstruktur?
- Apakah bisnis Anda ter-sistem?
- Apakah bisnis Anda terukur?
- Apakah bisnis Anda konsisten dijalankan?
Jika Anda tidak bisa menjawabnya dengan jelas, biasanya bisnis akan terus berada di mode “survive”.
Penutup:
2026 Bukan Tahun untuk Nekat, Tapi Tahun untuk Bertumbuh Terstruktur
Jika Anda ingin memulai bisnis di 2026, langkah awalnya sederhana namun krusial:
Belajar, ..!
- kenali kekuatan (thinking–being–doing),
- mulai kecil (tes pasar),
- bangun trust dan ekosistem,
- dan jalankan bisnis dengan sistem.
Dan yang paling penting: saya bukan motivator. Saya komporator.
Karena bisnis yang tumbuh bukan hasil semangat sesaat—tetapi hasil sistem yang dijalankan konsisten.
Call to Action (CTA) untuk Coach Margetty
Jika Anda merasa:
- ingin mulai bisnis tetapi bingung dari mana,
- atau bisnis Anda sudah jalan tapi stagnan,
Tuliskan di kolom komentar:
“Saya siap belajar.”
Nanti saya siapkan seri pembahasan lanjutan tentang cara memulai bisnis dengan lebih terarah dan terukur.
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

