WENINGSLINE – Fashion Batik Tradisional Desain Kekinian dari Jogja

Topik Utama Pembicaraan dan Diskusi:

Talkshow ini mengangkat kisah inspiratif dari WENINGSLINE, brand fashion batik dari Yogyakarta yang berhasil memadukan batik tradisional dengan desain kekinian.
Dibahas bagaimana transformasi bisnis dari pengrajin kain batik menjadi brand fashion yang dikenal di pasar lokal hingga internasional.
Fokus utamanya adalah menjaga DNA brand, konsistensi desain, dan menjaga kualitas produk.


Tantangan yang Dihadapi di Awal Memulai Usaha:

Awalnya memulai dari usaha kain batik bernama “Wening Batik” sejak 2005.

Tantangan besar di awal adalah menemukan DNA brand yang kuat dan membedakan dari brand batik lain.

Inkonsistensi dalam desain akibat terlalu banyak inspirasi menjadi hambatan dalam menjaga identitas brand.

Perlu waktu dan proses panjang untuk menyelaraskan visi, gaya desain, dan segmentasi pasar yang tepat.


Strategi yang Dijalankan Setelah Ikuti Program Pendampingan Business Coach:

Menguatkan visi sebagai pengusung wastra (kekayaan tekstil tradisional Indonesia) dengan pendekatan modern.

Mengembangkan produk melalui riset dan pengembangan (R&D), serta memahami kebutuhan pasar.

Berkolaborasi dengan pengrajin batik dan tim internal untuk menjaga inovasi produk.

Menerapkan strategi diferensiasi, yaitu memodifikasi motif batik klasik seperti kawung menjadi desain urban yang unik.

Konsisten pada positioning “casual-elegan” dan menjaga ciri khas visual yang langsung dikenali konsumen.


Hasil yang Diraih Setelah Menjalankan Strategi Program Business Coaching:

WENINGSLINE berhasil tampil di berbagai ajang fashion show nasional dan internasional, termasuk B2B di Istanbul.

Produk premium WENINGSLINE kini memiliki penggemar loyal, terutama wanita aktif usia 30–60 tahun.

Mampu menjaga kualitas dengan quality control ketat (3-4 tahap), bahkan untuk produk ekspor dan pesanan korporasi.

Tetap bertahan dan berkembang di industri dengan menghindari perang harga (red ocean) dan menonjolkan value produk.


Implementasi dan Ide Besar ke Depan yang Dapat Dilakukan:

Strategi tematik seperti “Outfit Back to Work” pasca Lebaran sebagai bentuk pivot marketing.

Peluncuran desain baru pada bulan Mei dan keikutsertaan dalam “Jogja Fashion Trend”.

Kampanye digital melalui media sosial, testimoni, dan behind-the-scenes produksi.

Memperluas segmentasi pasar internasional sambil tetap menjaga akar budaya dan kualitas premium produk.

Menjalankan bisnis berbasis ekosistem, memberdayakan SDM sekitar, dan terus aktif dalam asosiasi seperti Dekranasda dan komunitas fashion nasional.


Pesan Narasumber dan Coach untuk Para Pengusaha yang Menyimak Diskusi Bisnis:

Coach Margetty Herwin:
“Jangan sekadar jadi pedagang batik yang hanya mengejar cuan dan banting harga. Jadilah pebisnis yang memiliki identitas kuat, bangun ekosistem usaha, dan terus berinovasi agar pelanggan yang mencari Anda, bukan sebaliknya.”

Wening Angga:
“Jaga kualitas, pahami filosofi produk, dan konsistenlah terhadap DNA brand. Edukasi pasar itu penting, karena tidak semua orang tahu perbedaan batik tulis, cap, atau printing.”


Insight Tambahan yang Menginspirasi:

Membuat produk batik tidak hanya soal motif, tapi juga tentang nilai, filosofi, dan cerita budaya yang melekat.

Bisnis fashion berbasis budaya memiliki peluang besar jika dikelola dengan konsep kreatif dan manajemen modern.

Keberhasilan tidak hanya datang dari desain bagus, tapi dari proses yang terstruktur, konsistensi, serta kemauan untuk terus belajar dan berkolaborasi.

Silakan Klik Link WENNINGS LINE di bawah ini:

Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin  menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

Margetty Herwin is a Certified Master Coach of: Life Coach, Executive Coach, Business and Money Coach, NLP Coach, Time Line Therapy, Green Belt Six Sigma Coach, Master Trainer STRATEGYZER Business Model

Related Posts

Lestarikan Masakan Tradisional Asli Daerah Tumbuh di Era Digital – Kuliner Aceh “Timphan”

Sudah dilihat: 19 Kenapa Masakan Tradisional Perlu Dilestarikan Sekarang? Di tengah tren makanan modern dan gempuran kuliner global, masakan tradisional sering kalah panggung—padahal ia menyimpan identitas budaya, sejarah, dan kekayaan…

Read more

Rumah Batik Jinggar Lestarikan Batik Tradisional Sesuai Trend

Sudah dilihat: 11 “Lestarikan Batik Tradisional Sesuai Trend” bersama Vitalia Pamoengkas (Batik Jinggar, Yogyakarta) dan Coach Getty (Coach Margetty Herwin). Topik Utama Pembicaraan dan Diskusi Diskusi berfokus pada bagaimana melestarikan…

Read more

Bana Bee Produk UKM Makanan Ringan asal Lampung siap Ekspor asal Lampung

Sudah dilihat: 6 Bayangkan Anda punya produk camilan yang “kelihatannya sederhana” misalnya keripik pisang, namun bisa menembus pasar Malaysia, Selandia Baru, bahkan sudah mengantongi LOI (Letter of Intent) ke Jepang….

Read more

Pasar Rakyat: Kunci Pemerataan Ekonomi dan Kebangkitan UMKM Lokal Indonesia

Sudah dilihat: 16 Pasar Rakyat: Kunci Pemerataan Ekonomi dan Kebangkitan UMKM Lokal Indonesia Pasar rakyat memegang peran penting dalam pemerataan ekonomi Indonesia. Simak insight talkshow bisnis RRI Pro 3 tentang…

Read more

Leave a Reply