Bayangkan Anda punya produk camilan yang “kelihatannya sederhana” misalnya keripik pisang, namun bisa menembus pasar Malaysia, Selandia Baru, bahkan sudah mengantongi LOI (Letter of Intent) ke Jepang.
Ini bukan cerita “kebetulan viral”, melainkan hasil dari fokus strategi, kualitas, branding yang kuat, legalitas rapi, dan kolaborasi yang cerdas.
Dalam talkshow bisnis di RRI Pro 3 bertema Persiapan Produk UMKM Siap Ekspor, Coach Margetty Herwin (Coach Getty) membedah proses UMKM binaannya dari Lampung, BanaBee, yang dimiliki oleh Andrianto.
Dari diskusi ini, kita bisa menarik pelajaran praktis untuk Anda yang menargetkan UMKM go global di 2026.
Kenapa UMKM Perlu Menyiapkan Ekspor Mulai Sekarang?
Ekspor bukan hanya soal “mengirim barang ke luar negeri”. Ekspor adalah standar baru: menuntut UMKM untuk lebih rapi, lebih konsisten, lebih berkualitas, dan lebih terpercaya.
Ketika bisnis Anda siap ekspor, biasanya dampaknya ikut terasa di pasar lokal: brand naik, harga lebih kuat, dan peluang kolaborasi makin terbuka.
Namun masalahnya, banyak UMKM gagal bukan karena produknya jelek—melainkan karena:
- tidak fokus pada produk unggulan,
- tidak punya positioning,
- tidak siap legalitas dan dokumen,
- dan tidak membangun jaringan/channel.
Nah, BanaBee adalah contoh bagaimana UMKM memutar keadaan dengan strategi yang tepat.
Studi Kasus Banabi Lampung: Produk Lokal, Standar Global
BanaBee adalah brand camilan dari Lampung berbahan pisang muli (pisang kecil khas Lampung).
Uniknya:
- bentuk produk stik (bukan slice tipis seperti keripik pisang pada umumnya),
- menggunakan pisang matang,
- diproses dengan vacuum frying,
- tanpa gula tambahan, tanpa pewarna, tanpa perasa (mengandalkan rasa alami pisang).
Awalnya, BanaBee sempat berjalan sebagai pemasok toko oleh-oleh tanpa brand (maklon).
Tapi ketika COVID datang, channel penjualan berhenti—dan ini menjadi titik balik: “kalau hanya bergantung pada satu titik, bisnis bisa tutup.”
6 Tahap Persiapan Produk UMKM Siap Ekspor
1) Tentukan Produk Unggulan: Fokus Dulu, Baru Ekspansi
Salah satu kalimat kunci dari talkshow ini: fokus satu produk dulu sampai kuat.
Banyak UMKM ingin cepat menambah varian, padahal risikonya besar: pelanggan bukan bertambah, tapi hanya pindah dari produk lama ke produk baru—akhirnya penjualan total “segitu-segitu saja”.
BanaBee menahan diri selama bertahun-tahun untuk memperkuat produk inti, baru kemudian meluncurkan varian tambahan setelah market-nya matang.
Checklist praktis:
- Produk mana yang bisa diproduksi stabil sepanjang tahun?
- Bahan baku mudah didapat di daerah Anda?
- Apakah ada keunikan yang mudah dijelaskan dalam 10 detik?
2) Bedakan “Pedagang” vs “Pebisnis”: Jangan Bertarung di Harga
Coach Getty menekankan: pedagang fokus “yang penting laku”.
Pebisnis fokus kualitas, kebutuhan pasar, dan keberlanjutan.
Kalau Anda hanya bermain di harga, cepat atau lambat Anda akan “habis” karena perang harga tidak pernah selesai.
Sebaliknya, kalau Anda membangun kualitas dan cerita, Anda bisa punya harga yang lebih kuat—dan justru dicari pasar.
Prinsip penting untuk ekspor:
- Ekspor tidak mencari produk termurah.
- Ekspor mencari produk yang konsisten, aman, dan bisa dipercaya.
3) Naikkan Nilai Produk Lewat Inovasi yang Tepat Sasaran
BanaBee tidak sekadar menambah rasa “asal ramai”. Mereka melakukan riset dan menjaga positioning kesehatan.
Varian yang diluncurkan pun selaras dengan konsep premium:
- Sea Salt Bali Organik
- Gula Aren
- Cokelat & kopi asli (Lampung juga produsen kakao)
Di sini pelajarannya jelas: inovasi yang kuat adalah inovasi yang nyambung dengan market dan konsisten dengan identitas brand.
Pertanyaan riset sederhana:
- Segmen Anda lebih suka asin atau manis?
- Target keluarga muda? Anak-anak? Profesional?
- Konten dan promosi Anda sudah “ngomong” ke segmen yang tepat?
4) Kemasan Bukan Cuma Cantik: Harus Bercerita dan Menjual
Kemasan BanaBee dibuat cerah dan penuh ikon pariwisata Lampung (Krakatau, gajah, kelapa).
Ini cerdas karena:
- kemasan menarik perhatian,
- mudah direkomendasikan sebagai oleh-oleh,
- membawa identitas daerah (local pride),
- dan membantu positioning sebagai produk khas yang “punya cerita”.
Ingat: untuk ekspor, kemasan juga adalah alat kepercayaan.
Di balik desain yang menarik harus ada hal wajib: informasi komposisi, label, dan standar yang relevan.
5) Rapikan Legalitas dan Standar: Halal, BPOM, HACCP, dan Dokumen
Ekspor makanan/minuman sangat terkait dengan kepercayaan dan kepatuhan.
Dalam talkshow, disebutkan bahwa program pemerintah dan lembaga pendamping banyak membantu UMKM untuk menuntaskan legalitas (asal mau belajar dan aktif ikut program).
BanaBee membangun kelengkapan bertahap:
- sertifikasi halal,
- BPOM,
- HACCP,
- pembinaan dari dinas, BI, hingga kementerian terkait program ekspor.
Tip penting: UMKM yang naik kelas biasanya bukan yang paling pintar, tapi yang paling konsisten belajar.
6) Strategi Modal dan Penjualan: Gunakan Kolaborasi + DP Buyer
Bagian ini sangat relevan untuk UMKM yang merasa “belum punya modal ekspor”.
BanaBee menembus pasar luar negeri lewat business matching dan kolaborasi yang difasilitasi lembaga (contoh: buyer diaspora Indonesia di Selandia Baru).
Yang menarik: buyer membayar DP 50–70% terlebih dahulu sehingga produksi bisa berjalan tanpa mengandalkan utang berbunga.
Coach Getty menekankan strategi sederhana namun powerful:
- Jika produk Anda unik dan kredibel, minta DP.
- UMKM jangan “sok bisnis besar” dengan utang yang membebani.
- Yang penting: komitmen kualitas dan ketepatan waktu.
Kenapa Ada UMKM yang Ikut Program, Tapi Tetap Gagal?
Dari diskusi, penyebab kegagalan bukan karena tidak ada program—program justru banyak—melainkan:
- tidak punya impian besar (visi)
- problem dianggap masalah, bukan peluang
- terlalu banyak alasan (terlalu muda, terlalu tua, tidak pintar, dll.)
- tidak konsisten fokus
- enggan belajar kalau tidak “dibayar”
Ini poin mentalitas yang sering tidak disadari: ekspor dimulai dari karakter pebisnisnya, bukan dari produknya saja.
Rangkuman Praktis: Checklist “UMKM Siap Ekspor”
Jika Anda ingin menargetkan ekspor di 2026, mulai dari 7 checklist berikut:
- Pilih 1 produk unggulan yang paling kuat dan stabil produksinya
- Pastikan bahan baku mudah dan berkelanjutan
- Buat diferensiasi produk yang jelas (bentuk, proses, manfaat, rasa)
- Rapikan kemasan + storytelling yang sesuai segmen
- Lengkapi legalitas & standar (Halal, BPOM, dll sesuai kategori)
- Bangun kredibilitas lewat komunitas, dinas, program pendampingan
- Buka jalur ekspor melalui kolaborasi + business matching dan gunakan DP buyer untuk modal produksi
Penutup: Anda Bukan “Penjual Produk”, Anda Membawa Nilai Daerah Anda ke Dunia
BanaBee membuktikan bahwa “produk sederhana” bisa jadi produk global, asalkan dipimpin dengan cara berpikir pebisnis: fokus, kualitas, riset, legalitas, dan jaringan.
Kalau Anda serius ingin produk UMKM Anda siap ekspor, mulailah dari satu langkah paling penting: pilih satu produk unggulan, rapikan standar, dan bangun kredibilitas.
Silakan Klik Link BANA BEE di bawah ini:
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

