Kenapa Masakan Tradisional Perlu Dilestarikan Sekarang?
Di tengah tren makanan modern dan gempuran kuliner global, masakan tradisional sering kalah panggung—padahal ia menyimpan identitas budaya, sejarah, dan kekayaan rasa yang sangat khas. Menariknya, masakan tradisional justru punya peluang bisnis yang besar ketika dikemas dengan strategi yang tepat: otentik, punya cerita, dan mampu “naik kelas” lewat digitalisasi.
Itulah benang merah yang dibahas dalam talkshow Radio Republik Indonesia (program Energi Sukses Bisnis) bersama Coach Margetty Herwin dan narasumber pengusaha kuliner khas Aceh, Pak Alexander Wiwit, pemilik House of Timpan.
Melestarikan Masakan Tradisional Sebagai Peluang Bisnis
Talkshow ini mengangkat tema “Lestarikan Masakan Tradisional Asli Daerah”—bukan hanya sebagai wacana budaya, tetapi sebagai strategi ekonomi. Pesan utamanya jelas: produk tradisional punya tempat tersendiri di hati masyarakat, terutama ketika pemilik usaha mampu menjaga keaslian rasa dan memberi pengalaman yang lebih modern dalam cara penyajian, kemasan, serta pemasaran.
Dalam episode ini, kuliner Aceh menjadi contoh yang kuat. Salah satunya adalah timpan, kudapan tradisional berbahan ketan berisi srikaya, yang di Aceh memiliki nilai budaya dan sering hadir pada momen-momen penting seperti acara keluarga atau perayaan. Nilai budaya inilah yang membuat produk tradisional “berbeda kelas” dibanding sekadar makanan biasa—asal pemilik usaha mampu mengkomunikasikannya.
Tantangan di Awal Memulai Usaha Kuliner Tradisional
Bisnis kuliner tradisional terlihat “sederhana”, tetapi tantangannya khas dan tidak ringan. Dari kisah usaha House of Timpan, ada beberapa tantangan yang sangat relevan bagi UMKM kuliner:
Pasar belum luas, produk belum familier
Tidak semua konsumen mengenal timpan. Bahkan banyak restoran atau warung Aceh yang menjual mie Aceh pun tidak menyediakan timpan. Artinya, edukasi pasar menjadi pekerjaan awal: memperkenalkan bahwa produk ini ada, unik, dan layak dicoba.
Produksi tidak bisa serampangan
Produk tradisional sering dibuat dengan cara manual dan membutuhkan keterampilan khusus. Ada detail bahan, teknik, hingga waktu produksi yang membuat kapasitas tidak bisa “digenjot” tanpa persiapan.
Produk fresh, daya tahan pendek
Karena umumnya tidak menggunakan pengawet, banyak kue tradisional bergantung pada sistem PO (pre-order). Ini memengaruhi ritme penjualan, arus kas, hingga pengaturan stok bahan baku.
Daya beli fluktuatif
Saat kondisi ekonomi turun, konsumen sering mengutamakan kebutuhan pokok. Produk camilan bisa terdampak lebih dulu, sehingga UMKM perlu strategi bertahan: menjaga repeat order, efisiensi produksi, dan memperkuat positioning agar tidak mudah tergeser.
Cara Mengembangkan Kuliner Tradisional di Era Digital
Bagian ini adalah “inti pelajaran bisnis” dari talkshow. Strateginya sederhana, tetapi sangat kuat kalau dijalankan konsisten.
1. Jangan hanya jual produk—jual cerita (storytelling)
Salah satu insight paling tajam dari talkshow adalah:
Banyak orang menjual kue tradisional hanya sebagai “kue”, padahal setiap kue punya sejarah, makna, dan cara masak yang khas.
Ketika Anda menjelaskan asal-usul makanan, kapan biasanya disajikan, kenapa bahan dan prosesnya seperti itu, Anda sedang membangun nilai budaya sekaligus membuat orang penasaran.
Di sinilah muncul istilah yang menarik: “marketing penasaran”—orang membeli karena ingin mengalami cerita dan rasa yang unik.
2. Positioning: otentik, spesifik, dan beda dari yang lain
Pak Alex memilih timpan karena melihat celah pasar: restoran Aceh banyak, tapi timpan jarang tersedia. Ini pelajaran penting: pilih produk yang tidak “kebanyakan pemainnya” agar kompetisi lebih terkendali dan positioning mudah dibangun.
3. Kanal penjualan online yang konsisten
Model bisnis House of Timpan berjalan secara online melalui media sosial dan jaringan komunikasi (seperti WA/IG/FB). Kuncinya bukan sekadar “punya akun”, tetapi konsisten dalam menginformasikan produk, menerima pesanan, merespons pelanggan, dan menjaga ritme promosi.
4. Adaptasi rasa tanpa kehilangan identitas
Ini strategi yang sering dilematis: bagaimana tetap otentik tapi diterima pasar luas? Jawabannya adalah adaptasi terukur: modifikasi sedikit untuk menyesuaikan selera sebagian konsumen, namun tetap mempertahankan ciri khas.
5. Inovasi kemasan: “kemasan kota, isi kampung”
Kemasan bukan hanya “bungkus”—ia adalah bagian dari persepsi kualitas. Kemasan yang rapi, cantik, cocok untuk hampers, membuat produk tradisional lebih percaya diri masuk pasar modern. Strategi ini juga membuka peluang penjualan musiman (Lebaran, event keluarga, parcel, dll).
6. Komunitas & bazar sebagai cara menciptakan pasar
Untuk produk tradisional, pasar sering bukan “sudah ada”—tetapi dibangun. Mengikuti komunitas UMKM, bazar kue tradisional, event kuliner, menjadi cara efektif untuk:
- mengenalkan produk,
- menguji respon pasar,
- mengumpulkan pelanggan baru,
- bahkan bertemu calon partner.
Hasil yang Terlihat: Kenapa Bisnis Tradisional Bisa Bertahan?
Dari cerita perjalanan House of Timpan, terlihat beberapa hasil nyata dari strategi di atas:
- Repeat order kuat – begitu konsumen cocok, mereka cenderung pesan lagi.
- Dikenal sebagai produk berkualitas – muncul persepsi “kualitas resto, rasa kampung”.
- Membangun jaringan B2B – menjadi pelengkap menu di restoran/warung Aceh.
- Bisnis tetap berjalan meski naik-turun ekonomi – karena diferensiasi kuat dan pelanggan loyal.
- Mulai ada regenerasi – pengetahuan produksi ditransfer ke anak, sehingga keberlanjutan lebih terjaga.
Ide Besar ke Depan: Dari Online Menuju Outlet & Kolaborasi Partner
Rencana pengembangan yang dibahas menarik untuk UMKM kuliner: mencari partner/investor agar bisa membuka outlet atau gerai yang lebih dekat ke pasar (misalnya food court atau mall). Namun, talkshow menekankan syarat penting:
1. Partner butuh bisnis yang siap, bukan sekadar ide
Sebelum mencari partner, UMKM perlu menyiapkan:
- kapasitas produksi harian,
- standar kualitas,
- proses kerja yang konsisten,
- proyeksi pasar,
- strategi promosi.
Jika partner datang saat bisnis belum siap, peluang bisa hilang karena partner mencari yang lebih siap.
2. Cari partner yang sevisi
Untuk bisnis berbasis budaya, partner yang hanya melihat “cuan” bisa berisiko menekan kualitas dan mengorbankan keotentikan. Partner ideal adalah yang sejalan: mendukung misi pelestarian, kualitas, dan pertumbuhan jangka panjang.
Pesan Penting untuk Pengusaha: Mulai dari Produk Asli Daerahmu
Talkshow ini menutup dengan pesan yang relevan untuk siapa pun yang ingin membangun usaha:
- Mulailah dari produk asli daerah — Anda punya sumber daya, akses bahan, dan legitimasi cerita.
- Jaga kualitas rasa — rasa adalah fondasi repeat order.
- Bangun nilai lewat cerita — budaya adalah diferensiasi yang tidak mudah ditiru.
- Manfaatkan online untuk membuka pasar global — produk lokal bisa mendunia.
- Kecil dulu tidak masalah — yang penting konsisten, terukur, dan terus membaik.
Checklist Implementasi untuk UMKM Kuliner Tradisional
Agar artikel ini bisa langsung dipakai untuk belajar dan eksekusi, berikut checklist ringkasnya:
Tentukan 1 produk tradisional paling khas (spesifik, tidak pasaran)
Tulis “cerita produk” (asal-usul, momen budaya, proses, bahan)
Buat konten rutin: edukasi + testimoni + behind the scenes
Terapkan sistem PO & jadwal produksi rapi (fresh tanpa pengawet)
Tingkatkan kemasan (bukan mahal, tapi rapi & layak hadiah)
Gabung komunitas UMKM & ikut bazar (market creation)
Siapkan SOP produksi & proyeksi sebelum cari partner
FAQ (Pertanyaan yang Sering Muncul)
1) Apakah bisnis kuliner tradisional masih prospektif?
Ya, sangat prospektif, terutama jika dibangun dengan storytelling, kualitas rasa konsisten, dan pemasaran digital.
2) Bagaimana cara bersaing dengan produk yang “kekinian”?
Jangan meniru tren. Menangkan pasar lewat keunikan budaya, cerita, dan diferensiasi rasa yang otentik.
3) Apa tantangan terbesar produk kue basah tradisional?
Daya tahan pendek dan produksi manual. Solusinya: PO, jadwal produksi, dan manajemen bahan baku yang rapi.
4) Kapan waktu tepat mencari partner/investor?
Saat Anda sudah punya bukti pasar (repeat order), proses produksi stabil, dan proyeksi pertumbuhan jelas.
Tradisi yang Dijaga, Bisnis yang Tumbuh
Masakan tradisional bukan “masa lalu”—ia justru bisa menjadi masa depan bila dipelihara dengan cerdas.
Ketika UMKM memadukan keotentikan rasa, kekuatan cerita, inovasi kemasan, dan strategi digital, maka yang dilestarikan bukan hanya resep, tapi juga ekonomi keluarga, komunitas, bahkan identitas daerah.
Silakan Klik Link HOUSE OF TIMPHAN di bawah ini:
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

