Memahami OKR untuk Pertumbuhan Bisnis yang Lebih Terarah
Banyak pemilik bisnis menetapkan target, membuat daftar pekerjaan, lalu berharap hasil besar akan datang dengan sendirinya. Namun dalam praktiknya, banyak tim sibuk bekerja tanpa benar-benar bergerak ke arah yang sama. Di sinilah OKR atau Objectives and Key Results menjadi sangat relevan. OKR membantu perusahaan menerjemahkan arah besar bisnis menjadi tujuan yang jelas, hasil yang terukur, dan aktivitas mingguan yang fokus. Menurut eBook ini, OKR adalah kerangka berpikir kritis dan metodologi penetapan tujuan yang membantu perusahaan menyelaraskan sasaran agar semua orang bekerja secara kolaboratif pada hal-hal yang benar-benar penting.
Hal yang menarik dari eBook ini adalah penekanannya bahwa banyak perusahaan merasa sudah menjalankan OKR, padahal yang mereka miliki sebenarnya hanyalah daftar tugas, proyek, atau KPI rutin. Buku ini menjelaskan bahwa kegagalan dalam penerapan OKR sering terjadi bukan karena orang tidak cerdas, tetapi karena mereka masih terjebak pada kebiasaan lama. Implementasi OKR membutuhkan perubahan cara berpikir, perubahan budaya kerja, dan kesiapan untuk beradaptasi. Dengan kata lain, OKR bukan sekadar template, melainkan sistem manajemen fokus dan pertumbuhan.
Apa Itu OKR?
Secara sederhana, Objective adalah tujuan yang ingin dicapai, sedangkan Key Results adalah ukuran hasil yang menunjukkan seberapa dekat tujuan itu tercapai. Objective bersifat kualitatif, inspiratif, dan memberi arah. Key Results bersifat kuantitatif, terukur, dan menunjukkan hasil nyata. Dalam buku ini dijelaskan bahwa tiap Objective biasanya dihubungkan dengan 3 sampai 5 Key Results yang terukur. Progress pada Key Results akan mendorong progress Objective secara keseluruhan. Selain itu, OKR juga ditopang oleh rencana kerja mingguan atau inisiatif yang mendorong pergerakan target.
Artinya, OKR bukan hanya menjawab pertanyaan “apa yang ingin dicapai?”, tetapi juga memaksa tim berpikir “hasil terukur apa yang membuktikan bahwa tujuan itu benar-benar tercapai?”. Ini penting, karena banyak bisnis selama ini hanya sibuk pada aktivitas, bukan pada dampak. Misalnya, membuat konten, menghubungi prospek, atau memperbaiki fitur produk belum tentu berarti ada pertumbuhan. Yang lebih penting adalah apakah semua aktivitas itu menghasilkan peningkatan lead, kenaikan conversion rate, peningkatan engagement, atau pertumbuhan revenue.
Point Penting:
- OKR adalah framework penetapan tujuan berbasis hasil (result-oriented)
- Terdiri dari:
- Objective → arah / tujuan (kualitatif)
- Key Results → ukuran keberhasilan (kuantitatif)
- Fokus utama:
- Bukan aktivitas
- Tapi hasil yang berdampak pada bisnis
- OKR membantu:
- Menyelaraskan tim
- Menentukan prioritas
- Meningkatkan fokus organisasi
Perbedaan Tujuan, KPI, dan OKR
Salah satu bagian penting dari buku ini adalah penjelasan bahwa istilah goal, objective, target, KPI, dan OKR sering tercampur. Buku ini menjelaskan bahwa goal atau tujuan adalah hasil yang ingin dicapai di masa depan. Goal memberi arah dan fokus bagi bisnis. Sementara KPI adalah indikator kinerja yang dipakai untuk melihat apakah bisnis berada dalam kondisi sehat atau tidak. KPI membantu memonitor performa rutin seperti revenue, customer acquisition cost, website traffic, ROI, market share, turnover, kepuasan pelanggan, atau jumlah closing sales.
Namun KPI tidak otomatis menjelaskan apa yang harus diperbaiki untuk mendorong pertumbuhan. KPI hanya menunjukkan kondisi, sedangkan OKR dipakai ketika perusahaan ingin memperbaiki sesuatu, mengejar perubahan, atau melompat ke level pertumbuhan yang lebih tinggi. Jadi KPI dan OKR bukan untuk saling menggantikan. Keduanya justru harus berjalan bersama. KPI memberi sinyal area yang perlu perhatian, lalu OKR menjadi alat untuk memfokuskan upaya perubahan pada area itu. Buku ini menyebut bahwa OKR menjadi jembatan antara posisi bisnis saat ini dan posisi yang ingin dicapai.
Point Penting:
- Goal: arah besar yang ingin dicapai
- KPI: indikator performa (monitor kesehatan bisnis)
- OKR: alat untuk mendorong perubahan & peningkatan
- KPI → menunjukkan kondisi
- OKR → mendorong perbaikan kondisi
- KPI & OKR harus digunakan bersamaan, bukan saling menggantikan
Mengapa OKR Penting bagi Bisnis?
OKR memberi manfaat besar jika diterapkan dengan benar. Pertama, OKR menciptakan fokus yang intens. Perusahaan diajak memilih beberapa area perbaikan yang paling penting untuk satu kuartal, bukan mencoba mengerjakan semuanya sekaligus. Kedua, OKR mendorong tim menjadi result-oriented, bukan hanya activity-oriented. Tim tidak lagi dinilai hanya dari banyaknya pekerjaan yang dilakukan, tetapi dari hasil bisnis yang dihasilkan. Ketiga, OKR memperkuat alignment, sehingga seluruh tim bergerak ke arah yang sama. Keempat, OKR meningkatkan transparansi dan komunikasi, karena tujuan perusahaan dan tim menjadi terlihat jelas. Kelima, OKR mendorong pertumbuhan, perbaikan, dan inovasi, karena seluruh tim dipaksa berpikir apa yang harus diperbaiki, ditingkatkan, atau diubah agar bisnis naik kelas.
Dalam konteks business coaching, manfaat ini sangat besar. Banyak pemilik bisnis merasa timnya tidak sinkron, rapat terlalu banyak, kegiatan terlalu padat, tetapi hasil lambat. Masalah ini sering muncul karena perusahaan tidak punya satu titik fokus yang disepakati bersama. Dengan OKR, arah menjadi lebih jelas, akuntabilitas meningkat, dan percakapan bisnis menjadi lebih strategis. OKR juga membantu pemilik usaha memisahkan antara pekerjaan harian yang sifatnya operasional dengan sasaran perubahan yang sifatnya strategis.
Point Penting:
- Menciptakan fokus pada prioritas utama
- Mengubah budaya kerja menjadi:
- dari sibuk → menjadi produktif
- Meningkatkan:
- Alignment antar tim
- Transparansi target
- Akuntabilitas
- Mendorong:
- Growth
- Inovasi
- Perbaikan berkelanjutan
Cara Memulai Menyusun OKR
Buku ini memberikan alur dasar yang sangat mudah dipahami untuk memulai OKR. Langkah pertama adalah menetapkan 1 Objective perusahaan terlebih dahulu. Saat baru memulai, perusahaan tidak perlu terlalu banyak Objective. Justru terlalu banyak target akan mengaburkan fokus. Setelah Objective perusahaan jelas, tim-tim fungsional seperti sales, marketing, product, atau operation diminta membuat Objective tim yang selaras dengan tujuan perusahaan. Objective harus bersifat ambisius, kualitatif, bisa dicapai dalam satu kuartal, dan dapat ditindaklanjuti.
Langkah kedua adalah menetapkan 3–4 Key Results di bawah setiap Objective tim. Key Results harus terukur dengan format yang jelas, misalnya menaikkan sesuatu dari angka X ke Y, menurunkan persentase tertentu, memperbaiki skor sampai angka tertentu, atau mencapai jumlah tertentu. Setelah itu, OKR harus di-update setiap minggu. Tim perlu menyusun aktivitas mingguan dan melakukan weekly check-in untuk melihat progres, hambatan, dan penyesuaian. Pada akhir kuartal, perusahaan melakukan review untuk melihat apa yang berhasil, apa yang belum, dan pembelajaran apa yang harus dibawa ke kuartal berikutnya.
Point Penting:
- 1 Objective → 3–5 Key Results
- Diturunkan ke:
- OKR perusahaan → OKR tim
- Dijalankan dengan:
- Weekly action plan
- Monitoring progres
- Siklus OKR:
- Set → Execute → Review
Bagaimana Menulis Objective yang Baik?
Objective yang baik tidak boleh sekadar menjadi judul proyek. Objective harus menjawab arah perubahan yang ingin dicapai. Buku ini menekankan bahwa Objective yang baik perlu membantu tujuan perusahaan, memberi nilai bisnis, inspiratif, relevan untuk masalah tim, dapat dijalankan oleh tim tersebut, dan realistis dicapai dalam satu kuartal. Objective juga sebaiknya tidak terlalu mudah. Jika terlalu gampang, tim tidak terdorong untuk berpikir lebih besar. Tetapi jika terlalu besar hingga tidak masuk akal dicapai dalam satu kuartal, itu juga menjadi tidak sehat.
Contoh Objective yang baik adalah seperti “Meningkatkan jangkauan produk di pasar Jerman pada Q3” karena bersifat aspiratif, terikat waktu, dan mendorong bisnis maju. Sebaliknya, Objective seperti “Menulis rencana pemasaran untuk Jerman” tidak ideal karena itu hanyalah sebuah tugas atau proyek. Objective seharusnya menggambarkan hasil yang ingin diwujudkan, bukan daftar pekerjaan yang akan dilakukan. Dalam coaching, bagian ini sangat penting karena banyak owner keliru menetapkan tujuan dalam bentuk aktivitas. Padahal aktivitas hanyalah kendaraan, bukan tujuan akhir.
Point Penting:
- Bersifat:
- Inspiratif
- Kualitatif
- Jelas arah
- Harus:
- Relevan dengan bisnis
- Bisa dicapai dalam 1 kuartal
- Bukan:
- Task
- Project
- Fokus:
- “Apa yang ingin dicapai?” bukan “apa yang dikerjakan”
Bagaimana Menulis Key Results yang Tepat?
Key Results harus spesifik, terukur, objektif, bisa ditindaklanjuti, cukup menantang tetapi tidak mustahil. Salah satu kesalahan terbesar yang dibahas dalam buku ini adalah ketika perusahaan menuliskan Key Results dalam bentuk tugas, bukan hasil. Misalnya, “diskusi strategi marketing”, “membuat video”, atau “update onboarding tips” bukanlah Key Results yang baik. Itu adalah aktivitas. Key Results yang baik harus menunjukkan hasil nyata, misalnya menaikkan conversion rate, menurunkan waktu closing, meningkatkan jumlah MQL, atau menaikkan tingkat penyelesaian onboarding.
Buku ini sangat menekankan perbedaan antara output dan outcome. Output adalah sesuatu yang dilakukan atau dihasilkan, seperti menyusun plan, mengadakan campaign, atau membuat konten. Outcome adalah hasil terukur yang diharapkan dari output tersebut, seperti bertambahnya leads, naiknya engagement, atau lebih cepatnya proses closing. Fokus OKR harus pada outcome. Bila perusahaan terlalu fokus pada output, tim bisa sibuk, tetapi bisnis tidak berubah. Bila perusahaan fokus pada outcome, maka seluruh aktivitas selalu diuji: apakah benar memberi nilai bisnis atau tidak.
Menentukan Key Results yang tepat
Point Penting:
- Output = aktivitas (yang dilakukan)
- Outcome = hasil (yang dihasilkan)
- Kesalahan umum:
- Tim fokus pada output → sibuk tapi tidak berkembang
- OKR harus fokus pada:
- Outcome yang berdampak ke bisnis
Beda Definisi Outcome vs Output
Point Penting:
- Harus:
- Terukur (angka jelas)
- Objektif
- Spesifik
- Berbasis:
- Outcome (hasil), bukan output (aktivitas)
- Contoh:
- ❌ Salah: “membuat campaign”
- ✅ Benar: “meningkatkan conversion rate dari 2% ke 5%”
- KR harus:
- Menjadi indikator keberhasilan nyata
- Output = aktivitas (yang dilakukan)
- Outcome = hasil (yang dihasilkan)
- Kesalahan umum:
- Tim fokus pada output → sibuk tapi tidak berkembang
- OKR harus fokus pada:
- Outcome yang berdampak ke bisnis
Gunakan Pertanyaan “Why” untuk Menemukan Key Results
Salah satu konsep yang sangat kuat dari eBook ini adalah penggunaan pertanyaan “Why?” secara berulang untuk menemukan hasil yang benar-benar penting. Saat tim menulis KR seperti “implement new sales process”, buku ini mengingatkan bahwa itu masih output. Pertanyaan “why” harus diajukan lagi: mengapa proses baru itu perlu? Jika jawabannya karena penjualan terlalu lambat, maka outcome yang sebenarnya adalah mempercepat waktu closing. Maka Key Result yang lebih tepat bisa menjadi “Reduce lead to closed sale average time from 14 to 10 days.” Cara berpikir ini sangat bagus untuk dipakai dalam sesi coaching karena membantu klien keluar dari jebakan aktivitas dan masuk ke logika hasil.
Pendekatan ini relevan sekali untuk para owner maupun leader tim. Banyak orang merasa sudah membuat target, padahal yang dibuat baru rencana kerja. Dengan menanyakan “mengapa ini penting?” beberapa kali, tim akan sampai pada inti kebutuhan bisnis. Dari situlah Key Results yang kuat lahir. Ini juga membantu dalam pengambilan keputusan, karena ketika hasil yang diincar sudah jelas, perusahaan lebih mudah memilih proyek dan aktivitas mana yang layak dijalankan, ditunda, atau dihentikan.
Point Penting:
- Gunakan pertanyaan:
- “Kenapa ini penting?”
- Tujuan:
- Menggali akar masalah
- Menemukan outcome sebenarnya
- Proses:
- Output → ditanya WHY → jadi Outcome
- Membantu:
- Menyaring aktivitas tidak penting
Hubungan OKR dan KPI dalam Praktik Bisnis
Dalam praktiknya, KPI memberi tahu area yang bermasalah atau area yang ingin ditingkatkan. Misalnya target customer baru per bulan adalah 50, tetapi yang tercapai hanya 30. Maka KPI memberi sinyal bahwa ada masalah yang perlu dianalisis. Setelah itu perusahaan perlu bertanya: mengapa angka turun? Apakah produk kalah bersaing? Apakah proses penjualan terlalu lemah? Apakah positioning tidak cukup kuat? Dari jawaban itulah perusahaan menetapkan OKR yang tepat untuk kuartal berikutnya.
Jadi KPI menjaga kesehatan bisnis, sedangkan OKR mendorong perbaikan dan pertumbuhan. Bila KPI turun, OKR membantu bisnis kembali ke jalur. Bila KPI ingin dilompatkan ke level yang lebih tinggi, OKR juga menjadi pendorong utamanya. Ini sangat cocok dengan pola pendampingan coaching, karena coach dapat memakai KPI sebagai bahan diagnosis, lalu membantu klien mengubah diagnosis tersebut menjadi Objective, Key Results, dan action plan yang benar-benar tajam.
Point Penting:
- KPI → mendeteksi masalah
- OKR → menyelesaikan masalah
- Contoh:
- KPI turun → OKR dibuat untuk perbaikan
- OKR = jembatan:
- Kondisi sekarang → target masa depan
Committed OKR dan Aspirational OKR
Buku ini membedakan dua jenis OKR. Committed OKR adalah target yang harus dicapai 100% karena sangat penting bagi keberhasilan perusahaan atau tim. Target ini masih menantang, tetapi harus realistis. Jenis ini cocok digunakan ketika perusahaan baru mulai menerapkan OKR, karena membantu membangun kebiasaan, disiplin, dan kepercayaan diri tim. Sementara itu, Aspirational OKR adalah target yang lebih visioner dan jauh lebih tinggi. Target ini sering kali tidak harus tercapai 100%, tetapi berguna untuk mendorong lompatan besar. Aspirational OKR cocok dipakai ketika perusahaan sudah lebih matang dalam budaya OKR dan siap menghadapi eksperimen, kegagalan, serta pembelajaran.
Buku ini juga mengingatkan agar perusahaan tidak terlalu cepat memakai terlalu banyak aspirational OKR. Jika tim belum siap, hal ini justru membuat orang kewalahan. Karena itu, untuk tahap awal, lebih sehat bila perusahaan mulai dari committed OKR terlebih dahulu, lalu secara bertahap menambahkan beberapa aspirational Key Results saat budaya hasil sudah mulai terbentuk. Bagi klien coaching, ini penting dipahami agar OKR tidak berubah menjadi tekanan yang melemahkan semangat tim.
Point Penting:
Committed OKR:
- Target harus tercapai (±100%)
- Realistis tapi menantang
- Cocok untuk:
- bisnis yang baru mulai OKR
Aspirational OKR:
- Target besar & visioner
- Tidak harus tercapai penuh
- Cocok untuk:
- scaling & innovation
- Disarankan:
- Mulai dari committed dahulu
Mengapa Personal OKR Tidak Selalu Disarankan?
Bagian yang cukup menarik dari buku ini adalah penjelasan bahwa OKR sebaiknya lebih difokuskan pada level tim, bukan level individu. Banyak perusahaan mengira setiap orang harus punya OKR sendiri agar lebih bertanggung jawab. Namun buku ini justru menjelaskan bahwa hal itu sering memunculkan frustrasi dan mendorong orang menetapkan target yang kecil, mudah, dan berbasis tugas. Akibatnya nilai strategis OKR hilang. Yang lebih penting adalah setiap individu berkontribusi pada OKR tim, sementara tujuan personal sebaiknya diarahkan pada pengembangan diri, bukan OKR bisnis.
Dalam dunia coaching, poin ini sangat berguna. Banyak owner terlalu cepat menurunkan sistem target sampai ke level individu, padahal alignment tim belum kuat. Akibatnya yang lahir hanyalah kontrol berlebihan, bukan kolaborasi. Tim yang sehat justru butuh sasaran bersama yang kuat, di mana setiap orang tahu bagaimana kontribusinya terhadap target tim dan target perusahaan. Ini lebih selaras dengan budaya kerja yang kolaboratif dan result-oriented.
OKR untuk Tim vs Individual
Point Penting:
- Fokus utama:
- OKR pada level tim
- Bukan:
- individual OKR terlalu detail
- Risiko individual OKR:
- target terlalu kecil
- fokus ke tugas
- Lebih baik:
- individu berkontribusi ke OKR tim
Weekly Check-in: Kunci Agar OKR Tidak Berhenti di Kertas
Buku ini menegaskan bahwa salah satu kunci implementasi OKR adalah weekly check-in. Setiap minggu, tim perlu mengecek progres terhadap Objective dan Key Results, lalu menetapkan prioritas minggu berikutnya. Check-in ini idealnya singkat, sekitar 15–20 menit, tetapi sangat penting untuk menjaga ritme. Tujuan weekly check-in bukan sekadar update status, melainkan memastikan OKR terus bergerak, tim belajar dari hasil yang ada, dan hambatan cepat diatasi.
Tanpa weekly check-in, OKR mudah berubah menjadi dokumen indah yang tidak pernah hidup. Dalam praktik coaching, weekly check-in juga dapat diadopsi sebagai ritme accountability. Coach bisa mengajarkan leader untuk mengubah rapat mingguan dari sekadar laporan aktivitas menjadi forum refleksi: apa yang sudah dicapai, apa yang belum bergerak, apa hambatannya, dan langkah prioritas apa yang harus dilakukan minggu depan. Dengan begitu, OKR benar-benar menjadi sistem kerja, bukan sekadar format target kuartalan.
Point Penting:
- Dilakukan setiap minggu
- Durasi:
- 15–20 menit
- Tujuan:
- Monitor progres
- Identifikasi hambatan
- Tentukan prioritas minggu depan
- Fungsi utama:
- Menjaga OKR tetap hidup (tidak hanya dokumen)
Review Kuartalan dan Budaya Belajar
Pada akhir kuartal, tim perlu meninjau kembali OKR yang sudah dijalankan. Review ini tidak hanya melihat angka tercapai atau tidak, tetapi juga melihat pembelajaran. Buku ini menekankan bahwa meskipun Objective tidak tercapai 100%, perusahaan bisa saja memperoleh insight yang sangat berharga. Dengan demikian, OKR juga membangun budaya belajar. Kegagalan bukan langsung dianggap buruk, selama perusahaan belajar lebih cepat, memahami kelemahan, dan memperbaiki pendekatan pada kuartal berikutnya.
Bagi klien bisnis, ini adalah pelajaran penting. Banyak perusahaan takut menetapkan target besar karena takut gagal. Padahal jika review dilakukan dengan sehat, kegagalan justru memberi data yang kuat untuk perbaikan berikutnya. Coach dapat membantu klien menumbuhkan budaya evaluasi yang objektif, tidak defensif, dan tidak sekadar mencari siapa yang salah. Fokusnya adalah apa yang berhasil, apa yang tidak, dan apa yang harus diubah. Inilah salah satu nilai besar dari OKR sebagai alat transformasi bisnis.
Point Penting:
- Evaluasi setiap akhir kuartal
- Tidak hanya:
- tercapai / tidak
- Tapi juga:
- insight
- pembelajaran
- Fokus:
- continuous improvement
- Kegagalan = data untuk perbaikan
Kesalahan Umum dalam Penerapan OKR
Dari keseluruhan isi buku, beberapa kesalahan umum yang paling sering terjadi adalah: membuat Objective yang sebenarnya hanya proyek, membuat Key Results yang ternyata daftar tugas, mencampur KPI dengan OKR tanpa memahami perannya, membuat terlalu banyak Objective sekaligus, menetapkan OKR individu terlalu cepat, dan tidak menjalankan check-in mingguan serta review kuartalan. Kesalahan lain yang sangat sering muncul adalah kebiasaan lama perusahaan yang suka “cascading output” dari manajemen ke tim. Artinya manajemen hanya menurunkan daftar proyek, bukan memberi kejelasan hasil yang harus dicapai. Ini membuat tim kehilangan rasa memiliki, kurang paham alasan di balik pekerjaan, dan sering berakhir pada output yang tidak memberi nilai bisnis nyata.
Dalam bahasa yang lebih praktis, OKR gagal ketika perusahaan hanya mengganti istilah, tetapi tidak mengganti cara berpikir. Jika sebelumnya perusahaan sibuk dengan daftar aktivitas, lalu sekarang daftar aktivitas itu hanya diberi nama OKR, maka manfaat OKR tidak akan muncul. Karena itu penerapan OKR harus selalu kembali pada pertanyaan inti: hasil apa yang benar-benar ingin dicapai dan bagaimana kita mengukurnya?
Point Penting:
- Objective = task/project
- Key Results = aktivitas
- Terlalu banyak Objective
- Tidak ada weekly check-in
- Tidak ada review
- Menggunakan OKR tanpa mengubah mindset
- Masih fokus:
- kerja sibuk, bukan hasil
Penutup
OKR adalah alat yang sangat kuat untuk membantu bisnis bertumbuh secara lebih terarah, fokus, dan terukur. Melalui OKR, perusahaan diajak memilih prioritas yang paling penting, menyepakati hasil yang harus dicapai, menyelaraskan kontribusi setiap tim, dan membangun ritme eksekusi melalui weekly check-in dan quarterly review. OKR juga membantu bisnis membedakan mana aktivitas, mana hasil; mana KPI kesehatan bisnis, mana sasaran pertumbuhan; mana target rutin, mana agenda perubahan. Jika diterapkan dengan disiplin, OKR akan membantu perusahaan tidak lagi sekadar sibuk, tetapi benar-benar maju.
Bagi klien business coaching, pemahaman OKR akan sangat membantu dalam membangun perusahaan yang lebih terstruktur, lebih terukur, dan lebih siap bertumbuh. OKR dapat menjadi jembatan antara visi bisnis yang besar dengan tindakan mingguan yang konkret. Dengan cara ini, strategi tidak berhenti di ruang meeting, tetapi benar-benar turun menjadi arah kerja yang dipahami dan dijalankan bersama oleh tim. Itulah sebabnya OKR bukan hanya alat target, tetapi alat kepemimpinan, alat alignment, dan alat pertumbuhan bisnis.Point Penting:
- OKR adalah:
- alat fokus + alat eksekusi + alat growth
- Kunci sukses OKR:
- Fokus pada hasil (outcome)
- Alignment tim
- Disiplin eksekusi
- Monitoring rutin
- OKR bukan template, tapi:
- sistem berpikir & sistem kerja
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

