Soft Skills adalah Kunci:
Mempersiapkan Generasi Pemimpin Masa Depan
Di era disrupsi teknologi dan transformasi digital yang semakin cepat, pertanyaan penting muncul:
“Apakah kita telah membekali generasi muda dengan kemampuan yang tepat untuk menjadi pemimpin masa depan?”
Jawabannya tidak hanya ada pada kecakapan teknis (hard skills), tetapi lebih dalam pada kemampuan non-teknis: soft skills.
Mengapa Soft Skills Menjadi Penentu Masa Depan?
Soft skills mencakup kemampuan interpersonal seperti komunikasi, kepemimpinan, empati, adaptabilitas, hingga berpikir kritis. Laporan dari World Economic Forum tahun 2023 menyebutkan bahwa 6 dari 10 keterampilan yang paling dibutuhkan dunia kerja adalah soft skills—termasuk analytical thinking, resilience, motivation, dan emotional intelligence.
Dalam dunia yang tak pasti, cepat berubah, dan penuh kompleksitas (VUCA world), soft skills menjadi fondasi utama untuk:
- Mengambil keputusan secara sadar.
- Membangun hubungan kerja yang sehat.
- Menyampaikan visi dengan empati dan persuasi.
Coaching sebagai Metodologi untuk Pengembangan Diri
Dalam program coaching yang dirancang oleh Coach Margetty Herwin, pendekatan pengembangan soft skills dilakukan melalui 4 pilar transformasi:
- Thinking (Pola Pikir): Bagaimana seseorang menyusun keyakinan, logika, dan cara pandangnya terhadap dunia.
- Being (Pola Diri): Karakter, identitas, dan nilai-nilai yang membentuk cara seseorang hadir dalam kehidupan.
- Doing (Pola Kerja): Aksi nyata dan kebiasaan kerja yang mencerminkan kualitas pribadi.
- Results: Hasil yang dicapai bukan hanya secara kuantitatif, tetapi juga secara kualitas dan dampak.
Pendekatan ini selaras dengan konsep Transformational Learning dari Jack Mezirow, yang menyatakan bahwa perubahan perilaku jangka panjang hanya akan terjadi ketika seseorang mampu merefleksi dan mengubah perspektif dirinya.
Adaptive, Agile, Innovative – Tiga Syarat Sukses di Era Industri 5.0
Era Industry 5.0 menuntut manusia tidak sekadar beradaptasi terhadap teknologi, tetapi menjadi mitra aktif dari inovasi digital. Untuk itu, 3 kondisi mutlak yang harus dikembangkan:
- Adaptability: Mampu berubah cepat saat kondisi berubah.
- Agility: Bergerak gesit dalam membuat keputusan.
- Innovation: Menciptakan solusi baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.
Sebuah studi oleh McKinsey Global Institute (2021) menunjukkan bahwa perusahaan yang mengembangkan budaya agile dan inovatif tumbuh 2 kali lebih cepat dari pesaingnya.
Membedah Coaching, Training, dan Mentoring: Apa Bedanya?
| Aspek | Coaching | Training | Mentoring |
|---|---|---|---|
| Fokus | Potensi Diri & Refleksi | Transfer Ilmu & Skill | Transfer Pengalaman |
| Metode | Pertanyaan & Observasi | Materi Terstruktur | Diskusi & Role Model |
| Tujuan | Transformasi Diri | Pengetahuan Teknis | Pembentukan Karakter |
Coaching menjadi pendekatan yang paling strategis untuk memetakan dan menggali potensi seseorang agar menjadi pemimpin otentik.
Kualitas Diri Pemimpin Masa Kini
Coach Margetty menyampaikan bahwa kualitas pemimpin masa depan harus dibangun dari fondasi berikut:
- Kualitas Guru (Teacher Quality) – mampu menginspirasi.
- Kualitas Ilmu (Knowledge Depth) – terbuka terhadap pembelajaran baru.
- Kualitas Impian (Vision Clarity) – berani bermimpi besar dan menularkannya.
- Kualitas Evaluasi (Self-Assessment) – mampu mengukur dan memperbaiki diri.
- Kualitas Aksi (Consistent Execution) – tidak sekadar tahu, tapi mampu bertindak.
Millennial Workforce dan Peran Soft Skills
Berdasarkan data BPS 2017, lebih dari 46% angkatan kerja di Indonesia berasal dari generasi millennial. Mereka tumbuh di era digital, cepat, dan penuh distraksi.
Oleh karena itu, metode pengembangan kapasitas tidak bisa lagi bergantung pada sistem otoritatif tradisional.
Yang dibutuhkan adalah model pembelajaran kolaboratif yang melibatkan:
- Personal coaching untuk penggalian potensi.
- Group mentoring untuk penguatan komunitas.
- Training spesifik berbasis kebutuhan industri.
Kesimpulan: Investasi Soft Skills adalah Investasi Masa Depan
Mempersiapkan pemimpin masa depan tidak cukup dengan memberi pelatihan teknis. Kita perlu mengasah sisi manusiawi dari para talenta muda—empatinya, imajinasinya, keberaniannya mengambil keputusan, serta komitmennya untuk bertumbuh.
Dengan pendekatan coaching yang tepat, generasi millennial bisa menjadi changemaker dan value creator—bukan hanya bagi dirinya sendiri, tetapi juga bagi perusahaan dan masyarakat.
“Leadership is not about titles, it’s about impact, influence, and inspiration.”
Robin Sharma
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

