“Lestarikan Batik Tradisional Sesuai Trend”
bersama Vitalia Pamoengkas (Batik Jinggar, Yogyakarta)
dan Coach Getty (Coach Margetty Herwin).
Topik Utama Pembicaraan dan Diskusi
Diskusi berfokus pada bagaimana melestarikan batik tradisional (motif klasik/kuno) tanpa kehilangan relevansi tren dengan cara mengubahnya menjadi fashion yang lebih wearable, mudah dipadupadankan, dan sesuai gaya hidup generasi muda.
Kunci utamanya: tradisi dijaga, desain diperbarui.
Yang menarik, narasumber menegaskan bahwa batik bukan sekadar “baju batik”, melainkan proses membatik (batik tulis & batik cap).
Ini memperkuat edukasi pasar: pembeli sekarang tidak hanya “suka motifnya”, tapi mulai peduli pada proses, makna motif, dan nilai karya.
Tantangan yang Dihadapi di Awal Memulai Usaha
Beberapa tantangan awal yang menarik:
- Persaingan tinggi di Jogja sebagai pusat batik: produsen banyak, desain beragam, harga bervariasi.
Artinya, brand harus punya pembeda yang jelas. - Stigma batik itu “berat, kaku, dan hanya untuk acara formal”
Membuat anak muda ragu memakai batik untuk aktivitas harian. - Batik klasik dianggap “motif simbah-simbah”
Nilai filosofisnya kaya, tetapi sering ditinggalkan karena terasa tidak “kekinian”. - Kendala produksi musiman
Proses pengeringan saat musim hujan bisa menghambat, terutama pada UMKM yang masih mengandalkan cuaca.
Strategi yang Dijalankan Setelah Ikuti Program Pendampingan Business Coach
Strategi Vitalia (dengan penguatan dari metode Coach Getty) terlihat jelas sebagai “paket lengkap” bisnis kreatif:
- Positioning yang tegas: mengangkat batik klasik menjadi kontemporer
Batik Jinggar memilih fokus pada motif klasik/kuno yang sarat makna, lalu “diterjemahkan” menjadi desain modern agar relevan lintas generasi. - Unique signature brand: warna biru navy (monokrom) sebagai identitas
Saat banyak batik Jogja identik dengan sogan/coklat, Batik Jinggar berani mengambil signature color “biru navy” sebagai pembeda yang mudah dikenali. Ini juga membuat produk lebih mudah dipadukan (jeans, sneakers, gaya kasual). - Desain fashion yang tidak “full motif” agar tidak melelahkan dilihat
Motif klasik (misalnya “alas-alasan”: hutan, daun, bunga, binatang) diambil pada bagian tertentu, sehingga tampilan lebih clean dan modern. - Strategi “wearability”: bahan ringan dan adem
Menggunakan bahan seperti katun sifon, rayon, viskose—agar batik terasa nyaman dipakai bahkan di transportasi publik dan aktivitas mobile. - Produksi hybrid: kombinasi batik tulis + cap pada bagian tertentu
Pola dibuat dulu, bagian-bagian tertentu (kerah/saku/tumpal) bisa diberi cap untuk efisiensi, sementara elemen tulis menjaga nilai seni. - Kolaborasi sosial-ekonomi: bekerja dengan ibu-ibu sepuh (50–80 tahun)
Vitalia membawa ide dan desain; para pengrajin membatik. Ini menciptakan dampak ekonomi sekaligus menjaga keterampilan batik lintas generasi. - Go-digital untuk akses pasar
Brand hadir di Instagram, TikTok, serta marketplace (Shopee, Tokopedia) untuk memperluas jangkauan dan edukasi konsumen.
Hasil yang Diraih Setelah Menjalankan Strategi Program Business Coaching
Hasil yang muncul dari implementasi strategi di atas:
- Brand identity makin kuat lewat signature biru navy + motif klasik yang “dibuat modern”.
- Pasar melebar: dari yang biasanya batik hanya acara formal, menjadi pakaian yang bisa dipakai santai, semi-formal, dan harian.
- Ekspansi pasar geografis: produk sudah menjangkau “seluruh Indonesia” (versi narasumber), dan pernah masuk pasar Malaysia, Singapura, Brunei.
- Kapasitas produksi bertumbuh: dari 1–2 orang menjadi sekitar 7 pengrajin. Output per bulan:
- Batik tulis: ±20–50 pcs/bulan
- Batik cap: ±100–150 pcs/bulan
- Range harga tersegmentasi (membantu masuk berbagai daya beli):
- Batik cap/produk: kisaran Rp400 ribuan
- Batik tulis: ±Rp550 ribu – Rp1 juta
- Kain premium bisa mencapai ±Rp5 juta, baju sampai ±Rp2 juta
Selain itu, ada “kemenangan strategi” yang penting: pembeli makin teredukasi, bukan sekadar beli karena bagus—tapi paham nilai proses dan cerita.
Implementasi dan Ide Besar ke Depan yang Dapat Dilakukan
Beberapa ide implementasi lanjutan yang sangat nyambung dengan pembahasan talkshow:
- Skalakan inovasi operasional (anti-musim hujan) dengan pengering tenaga surya
Vitalia menyebut penggunaan solar dryer dome/pengering batik tenaga surya sehingga produksi tidak terganggu musim hujan.
Konsep pengering “dome” bertenaga surya/panel + baterai ini juga dikenal di ekosistem inovasi industri dan dikaitkan dengan efisiensi biaya pada mitra UMKM. (startup4industry.id) - Perkuat “arsitektur produk” untuk pasar global (muslim fashion & unisex)
Karena respons pasar luar negeri yang dominan muslim, lini tunik, syal, outer pria (jacket/jaz) bisa jadi pilar ekspansi. - Bangun community & loyal customer berbasis cerita motif (story-selling)
Batik klasik punya makna kehidupan—ini bisa diangkat sebagai konten rutin: “motif minggu ini”, “filosofi motif”, “cara mix & match”. - Event strategy: pameran sebagai mesin brand & trust
Batik Jinggar akan hadir di INACRAFT 2026 pada 4–8 Februari 2026 di JCC Senayan—momentum besar untuk memperluas reseller, buyer korporat, dan buyer internasional. (INACRAFT) - Kolaborasi desain lintas sektor
Seperti analogi “distro”: yang mahal adalah ide. Kolaborasi dengan desainer, komunitas kampus seni, atau brand lifestyle bisa membuat batik makin relevan.
Pesan Nara Sumber dan Coach untuk Para Pengusaha yang Menyimak Diskusi Bisnis
Pesan Vitalia Pamungkas (Batik Jinggar):
- Inspirasi ada di mana pun: dari simbah-simbah yang memakai jarik, dari alam (sawah/daun/bunga), dari peristiwa (misalnya era Covid → motif tanaman).
- Lestarikan batik bukan berarti kaku: motif klasik bisa tampil modern dengan cara potong, warna, dan penempatan motif yang tepat.
- Kolaborasi itu kunci: pengrajin sepuh punya skill tinggi, tetapi butuh jembatan desain & pasar.
Pesan Coach Getty:
- UMKM yang bertumbuh bukan yang ikut-ikutan, tetapi yang punya UVP (Unique Value Proposition) yang jelas dan konsisten.
- Untuk menjaga konsistensi dan tidak “buntu ide”, bisnis harus punya visi–misi yang menjadi kompas keputusan: bukan sekadar jual produk, tetapi membawa misi budaya, nilai, dan dampak.
Bonus Insight yang Menginspirasi (Tambahan)
- Brand yang kuat itu mudah dikenali: contoh nyata “warna biru navy” sebagai ciri khas. Ini sederhana tapi sangat efektif untuk positioning.
- Batik + pola potong mengurangi ketakutan konsumen (takut motif “rusak” saat dijahit) dan membantu penjahit menghasilkan produk yang rapi dan bernilai.
- Sustainability angle mulai terasa: bukan hanya motif tradisi, tapi juga proses produksi yang lebih hemat energi lewat pengering tenaga surya—nilai tambah untuk pasar modern.
Silakan Klik Link BATIK JINGGAR di bawah ini:
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

