De Luceat Spesialis Video Production asal Binjai Sumatera Utara

Dari Hobi Menjadi Bisnis Profesional:

Perjalanan De Luceat Membangun Video Production dari Binjai

Banyak orang berpikir bahwa untuk membangun sebuah bisnis diperlukan modal besar, pendidikan yang sesuai, peralatan yang lengkap, dan perencanaan yang sangat matang. Padahal dalam banyak kisah entrepreneur, bisnis justru dimulai dari sesuatu yang jauh lebih sederhana: hobi, keterampilan, pertemanan, keberanian menerima pekerjaan pertama, dan kemauan untuk terus belajar.

Kisah De Luceat, sebuah usaha video production yang tumbuh dari Binjai, Sumatera Utara, menjadi salah satu contoh menarik tentang bagaimana kemampuan yang awalnya hanya dijalankan sebagai hobi dapat berkembang menjadi jasa profesional.

Dalam talkshow XBIS – Energi Sukses Bisnis RRI Pro 3, bersama Coach Margetty Herwin, Lukmantara, dan Rei Akbar Mandega Hasmi, dibahas perjalanan membangun usaha video production, bagaimana mendapatkan pelanggan, tantangan menjalankan bisnis kreatif, perubahan teknologi, hingga pentingnya membangun bisnis yang semakin profesional.

Menariknya, perjalanan tersebut tidak berawal dari pendidikan perfilman maupun desain.

Rei memiliki latar belakang Chemical Engineering.

Namun perjalanan hidup kemudian mempertemukannya dengan dunia fotografi, video, desain, dan konten. Dari sinilah sebuah pelajaran bisnis penting muncul: masa depan bisnis seseorang tidak selalu ditentukan oleh jurusan yang pernah dipelajarinya, tetapi juga oleh kompetensi yang terus dibangun dan kebutuhan pasar yang mampu ia jawab.


Berawal dari Hobi, Bukan dari Rencana Membangun Perusahaan

Perjalanan Rei dalam dunia video dimulai sekitar tahun 2012. Pada waktu itu, membuat foto dan video belum dianggap sebagai sebuah bisnis. Aktivitas tersebut lebih banyak dijalankan sebagai hobi.

Rei masih bekerja sesuai dengan latar belakang teknisnya di lingkungan pabrik dan laboratorium. Fotografi, video dan desain hanyalah kegiatan yang dilakukan karena ketertarikan pribadi.

Namun keadaan kemudian berubah.

Sekitar tahun 2014–2015, ketika industri mengalami tekanan akibat kondisi harga minyak dunia, Rei terkena PHK. Kondisi tersebut tentu menjadi sebuah perubahan besar dalam perjalanan kariernya.

Tetapi justru dari situ ia mulai memberikan perhatian lebih serius kepada kemampuan yang sebelumnya hanya dianggap sebagai hobi.

Ia semakin aktif membuat konten, video, fotografi, dan desain.

Lambat laun, kemampuan tersebut mulai menghasilkan pendapatan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa sebuah gangguan dalam perjalanan hidup terkadang justru menjadi pintu menuju peluang baru.

PHK memang dapat dilihat sebagai kehilangan pekerjaan. Namun dalam perspektif entrepreneurship, kondisi tersebut juga dapat menjadi momentum seseorang mengevaluasi kembali kemampuan yang dimilikinya.

Pertanyaannya bukan hanya:

“Pekerjaan apa yang bisa saya cari berikutnya?”

Tetapi juga:

“Kemampuan apa yang saya miliki yang dapat menghasilkan value bagi orang lain?”

Dari pertanyaan kedua inilah peluang entrepreneurship sering kali mulai muncul.


Tidak Harus Menunggu Punya Peralatan yang Sempurna

Salah satu hal yang menarik dari perjalanan De Luceat adalah bagaimana usaha ini tidak dimulai dengan fasilitas produksi yang lengkap.

Kamera pertama yang digunakan Rei merupakan pemberian orang tuanya dan bahkan harus berbagi penggunaannya dengan adiknya.

Perangkat editing yang digunakan pun masih sangat terbatas. Laptop dengan spesifikasi yang relatif sederhana digunakan untuk belajar melakukan proses editing video.

Namun keterbatasan peralatan tidak menjadi alasan untuk berhenti belajar.

Rei terus berlatih.

Ia mempelajari bagaimana mengambil gambar, menyusun komposisi, memahami pencahayaan, melakukan editing, serta membangun visual yang mampu menyampaikan pesan.

Meskipun proses belajarnya banyak dilakukan secara otodidak, Rei tetap belajar dari orang-orang yang memang memiliki kompetensi di bidang film dan video production.

Di sinilah terdapat perbedaan penting antara belajar otodidak dengan belajar tanpa arah.

Belajar secara otodidak bukan berarti seseorang tidak membutuhkan dasar ilmu. Justru orang yang belajar sendiri perlu semakin aktif mencari mentor, referensi, praktik, dan feedback dari mereka yang memiliki pengalaman lebih dahulu.

Prinsip ini sangat relevan dalam bisnis saat ini.

Teknologi telah membuat pembelajaran menjadi semakin terbuka. Melalui YouTube, media sosial, komunitas, kursus online, maupun networking, seseorang dapat mempelajari banyak keterampilan yang sebelumnya hanya dapat diperoleh melalui pendidikan formal.

Karena itu, keterbatasan akses pembelajaran semakin kecil.

Tantangan terbesarnya justru berubah menjadi:

Apakah kita mau belajar dan mempraktikkannya secara konsisten?


Pelanggan Pertama Tidak Datang dari Strategi Marketing yang Rumit

Banyak pebisnis baru menghabiskan banyak waktu untuk memikirkan strategi marketing yang sangat kompleks sebelum memiliki satu pun pelanggan.

Perjalanan De Luceat justru menunjukkan pola yang lebih sederhana.

Pada awalnya, Rei mengerjakan beberapa project dengan prinsip:

yang penting mulai bekerja, menghasilkan karya, dan membuat pelanggan puas.

Salah satu pengalaman awal yang kemudian menjadi pintu masuk datang dari lingkungan keluarga sendiri.

Adiknya memiliki usaha dekorasi yang juga sedang dirintis. Ketika ada acara ulang tahun anak, Rei membuat video dari acara tersebut.

Video itu kemudian dipublikasikan melalui media sosial.

Teman-teman yang melihat hasilnya mulai tertarik.

Ada pelaku usaha dekorasi lain yang kemudian ingin mendapatkan layanan serupa.

Dari satu project sederhana mulai muncul project berikutnya.

Proses tersebut berkembang melalui pola:

Karya → Dipublikasikan → Dilihat Orang → Muncul Ketertarikan → Mendapatkan Project Baru.

Pada tahap ini, media sosial berfungsi bukan hanya sebagai sarana hiburan, tetapi sebagai etalase portfolio.

Orang dapat melihat bukti kemampuan yang dimiliki.

Bagi bisnis jasa kreatif, portfolio merupakan salah satu aset marketing yang sangat penting. Klien tidak hanya ingin mendengar bahwa seseorang mampu membuat video yang bagus. Mereka ingin melihat hasilnya.

Karena itu, bagi seseorang yang baru memulai bisnis jasa, project pertama tidak selalu harus menghasilkan keuntungan besar.

Kadang nilai terbesarnya adalah:

pengalaman, portfolio, testimonial, networking, dan kepercayaan.


Dari Mulut ke Mulut Menjadi Mesin Pertumbuhan Bisnis

Salah satu pola yang berulang dalam perjalanan De Luceat adalah kuatnya peran networking.

Rei sejak lama memiliki kebiasaan membangun relasi melalui media sosial maupun lingkungan pertemanan.

Ketika kemampuan videonya mulai berkembang, orang-orang yang sebelumnya mengenalnya kemudian mengetahui kompetensi yang dimilikinya.

Dari sinilah rekomendasi mulai muncul.

Seorang teman merekomendasikan kepada teman lainnya.

Klien yang puas menunjukkan hasil pekerjaan kepada orang lain.

Jaringan yang awalnya bersifat sosial perlahan berkembang menjadi jaringan bisnis.

Hal ini menunjukkan bahwa networking dalam bisnis bukan sekadar tentang berapa banyak orang yang kita kenal.

Networking menjadi bernilai ketika terdapat kombinasi antara:

Relationship + Competence + Trust.

Jika seseorang memiliki banyak relasi tetapi tidak memiliki kompetensi yang dapat dipercaya, peluang bisnis belum tentu muncul.

Sebaliknya, seseorang mungkin memiliki kemampuan luar biasa tetapi tidak pernah membangun hubungan atau memperlihatkan hasil kerjanya kepada siapa pun.

Maka market tidak pernah mengetahui kemampuannya.

Bisnis jasa membutuhkan keduanya.

Skill membuat kita mampu mengerjakan project.
Networking membuat orang mengetahui bahwa kita mampu mengerjakannya.
Trust membuat mereka berani memberikan project kepada kita.


Tantangan Klasik Bisnis Kreatif: “Harga Teman”

Ketika menjalankan bisnis jasa kreatif, salah satu tantangan yang dibahas Rei adalah permintaan “harga teman”.

Fenomena ini cukup umum.

Karena pekerjaan video terlihat menyenangkan dan hasil akhirnya hanya berupa video berdurasi beberapa menit, sebagian orang menganggap proses pembuatannya sederhana.

Misalnya, seorang klien melihat video berdurasi satu menit lalu mengatakan bahwa videonya “hanya sebentar”.

Padahal di balik satu menit video tersebut mungkin terdapat pekerjaan berjam-jam bahkan berhari-hari.

Ada proses memahami kebutuhan klien, menyusun konsep, membuat script, menentukan shot list, memilih lokasi, menyiapkan kamera, lighting dan audio, melakukan shooting, melakukan editing, sound design, color adjustment, revisi hingga menghasilkan output final.

Selain itu, sebuah produksi juga dapat membutuhkan keterlibatan beberapa orang.

Artinya, produk akhir memang singkat, tetapi value tidak dapat dihitung berdasarkan panjang durasi video semata.

Di sinilah seorang entrepreneur harus belajar membedakan antara tahap awal membangun pasar dengan tahap ketika bisnis sudah memiliki positioning.

Pada masa awal, seseorang mungkin bersedia menerima project dengan harga relatif rendah karena sedang membangun portfolio.

Tetapi jika pola tersebut terus dipertahankan ketika kompetensi dan pengalaman sudah meningkat, bisnis akan sulit berkembang.

Seiring meningkatnya:

Skill + Experience + Portfolio + Reputation,

maka kemampuan menentukan harga secara profesional juga harus meningkat.

Harga bukan sekadar angka.

Harga juga merupakan representasi dari value, experience, kualitas dan positioning.


Video yang Baik Dimulai dari Tujuan, Bukan dari Kamera

Salah satu insight penting dari pembicaraan mengenai video production adalah bahwa pembuatan video seharusnya tidak langsung dimulai dengan kamera.

Sebelum melakukan produksi, terlebih dahulu perlu dipahami:

Apa sebenarnya tujuan video tersebut?

Apakah video dibuat untuk menjual?

Apakah untuk membangun brand?

Apakah untuk memberikan informasi?

Apakah untuk menghibur?

Apakah untuk membangun awareness terhadap suatu destinasi?

Atau untuk membuat dokumentasi sebuah peristiwa?

Ketika objective sudah jelas, proses kreatif menjadi jauh lebih terarah.

Rei menjelaskan pentingnya menulis terlebih dahulu. Dari objective tersebut dapat dikembangkan draft, kemudian script, shot list, lokasi yang diperlukan hingga kebutuhan teknis produksi.

Prinsip ini sebenarnya tidak hanya berlaku dalam pembuatan video.

Hal yang sama berlaku dalam bisnis.

Banyak perusahaan sangat aktif menjalankan berbagai aktivitas marketing, sales maupun operasional tetapi belum memiliki objective yang jelas.

Akibatnya aktivitas menjadi banyak, tetapi outcome tidak terukur.

Maka sebelum bertanya:

“Apa yang harus kita lakukan?”

pemilik bisnis sebaiknya bertanya:

“Apa yang sebenarnya ingin kita capai?”

Objective menentukan aktivitas.

Bukan sebaliknya.


Latar Belakang Pendidikan Tidak Harus Membatasi Pilihan Bisnis

Dalam talkshow juga muncul diskusi mengenai latar belakang pendidikan yang berbeda dengan bisnis yang dijalankan.

Rei merupakan contoh yang sangat jelas.

Ia berasal dari Chemical Engineering tetapi kemudian berkembang dalam bidang video production.

Hal ini memperlihatkan bahwa pendidikan formal seharusnya tidak dipandang hanya sebagai jalur menuju satu profesi tertentu.

Pendidikan juga membentuk cara berpikir, kedisiplinan, kemampuan memecahkan masalah, dan logika seseorang.

Kompetensi tersebut dapat digunakan pada banyak bidang berbeda.

Coach Margetty mengangkat perspektif bahwa seseorang tidak selalu harus menjalani profesi persis seperti jurusannya.

Market berubah.

Teknologi berubah.

Minat seseorang dapat berkembang.

Dan kesempatan baru selalu muncul.

Karena itu, pertanyaan yang lebih relevan bukan hanya:

“Saya lulusan apa?”

Tetapi:

“Kemampuan apa yang saya kuasai, apa yang saya sukai, dan kebutuhan apa yang dapat saya bantu selesaikan?”

Ketika ketiga hal tersebut bertemu, sebuah peluang bisnis dapat terbentuk.


Jangan Hanya Mencari Apa yang Kita Suka

Ada satu pemikiran menarik yang muncul dalam diskusi mengenai passion.

Banyak orang disarankan untuk mencari pekerjaan atau bisnis yang sesuai dengan passion.

Namun masalahnya adalah tidak semua orang langsung mengetahui apa passion mereka.

Karena itu Coach Margetty memberikan perspektif berbeda:

“Sukailah apa yang Anda lakukan, bukan hanya mencari apa yang Anda suka.”

Maknanya adalah kita perlu memberikan kesempatan kepada diri sendiri untuk benar-benar mendalami suatu pekerjaan.

Ketika seseorang terus belajar, semakin memahami bidangnya, dan mulai melihat hasil dari pekerjaannya, ketertarikan dapat berkembang.

Dari proses tersebut seseorang mulai mengenali:

apa yang ia kuasai,

apa yang membuatnya bersemangat,

dan aktivitas apa yang paling memberikan value.

Jika seseorang terus berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain karena merasa belum menemukan passion, ia mungkin tidak pernah memberikan cukup waktu untuk membangun kompetensi.

Padahal kompetensi sering kali tumbuh lebih dahulu sebelum passion menjadi semakin jelas.


Masuk ke Corporate Market Melalui Kepercayaan dan Networking

Seiring berjalannya waktu, portfolio pekerjaan Rei mulai berkembang.

De Luceat tidak hanya mengerjakan dokumentasi maupun video untuk usaha kecil, tetapi mulai terlibat dalam berbagai project yang berkaitan dengan perusahaan dan institusi.

Dalam talkshow disebutkan beberapa portfolio seperti Grab, Nestlé, Pertamina, hingga produksi video promosi pariwisata Maluku Tenggara.

Yang menarik adalah bagaimana peluang tersebut muncul.

Bukan melalui advertising besar-besaran.

Banyak di antaranya datang melalui jaringan.

Misalnya, seorang teman yang bekerja di sebuah perusahaan membutuhkan videografer. Karena telah mengenal Rei dan mengetahui kemampuan yang dimilikinya, komunikasi pun terjadi.

Ini sekali lagi memperlihatkan betapa besarnya nilai relationship capital dalam bisnis jasa.

Namun networking hanya membuka pintu.

Yang menentukan apakah pelanggan akan mempercayakan project adalah kemampuan menghasilkan kualitas.

Karena itu networking dan competency tidak dapat dipisahkan.

Networking tanpa kemampuan hanya menghasilkan kesempatan sementara.

Competency yang kuat membuat kesempatan tersebut berkembang menjadi reputasi.


Dari Videografer Menjadi Director

Perubahan menarik lainnya terjadi ketika project mulai semakin besar.

Pada awal perjalanan, Rei dapat mengerjakan banyak pekerjaan sendiri.

Namun ketika project meningkat, kebutuhan produksinya juga menjadi semakin kompleks.

Tidak semua pekerjaan harus dilakukan secara pribadi.

Ia mulai membangun jaringan dengan orang-orang yang sudah memiliki frekuensi kerja yang sama.

Ada orang yang memiliki kamera.

Ada editor.

Ada kru produksi.

Ada talent.

Rei dapat berfokus pada penyusunan konsep, script, shot list serta proses directing.

Perubahan tersebut menunjukkan salah satu tahap penting dalam pertumbuhan entrepreneur:

Dari “Saya Kerjakan Semua” Menjadi “Saya Bangun Tim yang Mengerjakannya Bersama”.

Ketika sebuah bisnis masih sangat kecil, owner sering menjadi:

  • salesperson,
  • producer,
  • admin,
  • editor,
  • customer service,
  • bahkan finance sekaligus.

Namun model tersebut memiliki batas.

Jika semua pekerjaan harus dilakukan pemilik, kemampuan bisnis untuk berkembang akan selalu terbatas oleh waktu pemilik.

Karena itu, scale-up membutuhkan collaboration and delegation.


Tidak Semua Aset Harus Dimiliki Sendiri

Model bisnis De Luceat juga memperlihatkan bahwa perusahaan kreatif tidak selalu harus membeli semua peralatan sejak awal.

Untuk project tertentu, Rei dapat mengajak orang yang memiliki kamera sesuai kebutuhan.

Untuk editing, dapat bekerja sama dengan editor.

Untuk kebutuhan lain, resource dapat disesuaikan berdasarkan project.

Model seperti ini membuat bisnis menjadi lebih fleksibel.

Owner tidak harus menanggung investasi besar untuk semua aset sebelum mendapatkan pasar.

Prinsipnya adalah:

Access can sometimes be more important than ownership.

Yang lebih penting adalah bisnis memiliki akses kepada kompetensi dan resource yang diperlukan saat project datang.

Model seperti ini sangat relevan bagi startup maupun industri kreatif karena memungkinkan perusahaan bergerak dengan struktur yang lebih ringan.


Teknologi Membuat Peluang Video Production Semakin Terbuka

Pada masa awal Rei memulai, proses pembuatan video membutuhkan beberapa perangkat berbeda.

Kamera dibutuhkan untuk mengambil gambar.

Perangkat audio dibutuhkan untuk merekam suara.

Komputer diperlukan untuk editing.

Namun perkembangan teknologi membuat sebagian besar fungsi tersebut kini tersedia dalam satu perangkat smartphone.

Kamera smartphone semakin baik.

Audio semakin baik.

Aplikasi editing semakin mudah digunakan.

Distribusi video melalui media sosial pun dapat dilakukan dalam hitungan menit.

Artinya hambatan untuk masuk ke industri content creation menjadi jauh lebih rendah.

Tetapi rendahnya hambatan masuk juga menciptakan konsekuensi:

semakin banyak kompetitor.

Karena itu kemenangan tidak lagi hanya berasal dari kepemilikan alat.

Diferensiasinya bergeser kepada:

Creativity, Storytelling, Understanding the Client, Experience, Execution dan Quality.

Semua orang mungkin dapat memiliki smartphone.

Tetapi tidak semua orang mampu menghasilkan cerita yang kuat.


AI Bukan Kompetitor, tetapi Alat untuk Meningkatkan Kemampuan

Pembicaraan kemudian berkembang kepada Artificial Intelligence.

Saat ini AI sudah mampu membantu berbagai bagian produksi kreatif.

AI dapat digunakan untuk membantu memperbaiki audio yang memiliki noise.

AI dapat membantu meningkatkan kualitas gambar.

AI dapat membantu desain.

AI dapat membantu penulisan script.

AI bahkan dapat membantu mempercepat proses editing dan produksi.

Muncul kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan videografer, editor, desainer, maupun penulis.

Namun dalam pembicaraan tersebut muncul perspektif yang berbeda.

Teknologi AI tetap membutuhkan orang yang memahami pekerjaan tersebut.

Seseorang yang memahami video production akan mampu memberikan instruksi jauh lebih tepat dibandingkan orang yang tidak memahami dasarnya.

Ia mengetahui mengenai:

  • komposisi,
  • lighting,
  • script,
  • sequence,
  • angle,
  • storytelling,
  • dan outcome yang diinginkan.
  • Karena itu:

AI Bukan Pengganti Kompetensi. AI Adalah Multiplier dari Kompetensi.

Semakin kuat kemampuan dasar seseorang, semakin besar kemampuan AI membantu meningkatkan produktivitasnya.

Dalam pembicaraan bahkan muncul ungkapan menarik:

“AI itu kalau kita bodoh akan semakin bodoh. Kalau kita jago bakal semakin jago.”

Intinya bukan tentang melawan AI.

Tetapi bagaimana seorang profesional menjadikan AI sebagai partner kerja.


Ketika Bisnis Semakin Besar, Legalitas Menjadi Penting

Sebuah bisnis dapat dimulai secara informal.

Tetapi bisnis tidak dapat terus berada pada tahap informal jika ingin mengakses pasar yang semakin besar.

Hal ini juga terlihat dalam perjalanan De Luceat.

Ketika mendapatkan kesempatan menangani project perusahaan besar, muncul kebutuhan mengenai badan hukum, administrasi, perpajakan dan pembayaran resmi.

Dalam talkshow diceritakan mengenai project dengan Yandex, perusahaan teknologi asal Rusia yang menjalankan kegiatan bootcamp di Indonesia.

Salah satu persyaratan project tersebut adalah vendor harus memiliki badan usaha.

Karena pada waktu itu De Luceat belum memiliki badan hukum sendiri, Rei harus menggunakan perusahaan milik rekannya untuk menangani aspek administratifnya.

Pengalaman ini memberikan pembelajaran bisnis yang sangat penting:

Skill Membuka Pintu. Struktur Membuat Kita Mampu Memasuki Pintu yang Lebih Besar.

Pada tahap awal, pelanggan mungkin hanya melihat kualitas pekerjaan.

Tetapi corporate client juga membutuhkan:

  • legalitas,
  • kontrak,
  • invoice,
  • perpajakan,
  • administrasi,
  • serta kredibilitas organisasi.

Karena itu perjalanan sebuah usaha profesional idealnya berkembang:

Hobby → Freelancer → Professional Service → Brand → Business Entity → Team → System → Scale.


Bisnis Harus Dibangun dari Value, Bukan Hanya Keinginan Mendapatkan Uang

Dalam pembicaraan juga dibahas pertanyaan mendasar:

Lebih baik bisnis barang atau bisnis jasa?

  • Jawabannya bukan semata-mata mana yang lebih mudah atau mana yang lebih menguntungkan.
  • Coach Margetty mengajak entrepreneur kembali kepada alasan menjalankan bisnis tersebut.
  • Mengapa kita memilih bisnis ini?
  • Jika jawabannya hanya karena ingin mendapatkan uang, maka hampir semua bisnis dapat digunakan untuk mendapatkan uang.

Tetapi bisnis yang dijalankan dalam jangka panjang membutuhkan koneksi yang lebih dalam antara:

apa yang kita pahami, apa yang kita sukai, kemampuan yang kita miliki, serta value yang kita berikan kepada market.

Seorang entrepreneur tidak seharusnya membangun bisnis hanya karena melihat orang lain sukses.

Tetangga berhasil membuka kedai tidak berarti kita harus membuka kedai.

Seseorang sukses dalam bisnis digital tidak berarti semua orang harus mengikuti bisnis tersebut.

Yang dapat kita pelajari bukan sekadar apa bisnisnya, melainkan:

mengapa bisnis tersebut dijalankan, bagaimana market-nya, bagaimana model bisnisnya, dan bagaimana entrepreneur tersebut membangun value.


Jangan Selamanya Menganggap Bisnis sebagai Sampingan

Pada bagian penutup talkshow, muncul pesan yang sangat penting.
Banyak orang memulai usaha sebagai bisnis sampingan.
Hal tersebut tidak salah sebagai tahap awal.
Namun masalah muncul ketika bertahun-tahun bisnis tetap diperlakukan sebagai aktivitas sampingan.

Jika bisnis hanya mendapatkan sisa waktu, sisa tenaga dan sisa perhatian, maka sangat sulit mengharapkan bisnis tersebut berkembang menjadi sesuatu yang besar.

Coach Margetty menekankan bahwa setelah kita memilih sebuah bisnis, kita harus mulai menjalankannya secara serius.

  • Bukan hanya membuat rencana.
  • Bukan hanya membicarakan ide.
  • Tetapi melakukan.
  • Kemudian mengukur.
  • Belajar dari hasil.
  • Memperbaiki.
  • Dan melakukan scale-up secara bertahap.

Formulanya sederhana:

DO → MEASURE → LEARN → IMPROVE → SCALE.

  • Tidak ada bisnis yang langsung sempurna.
  • Kesalahan adalah bagian dari pembelajaran.
  • Customer memberikan feedback.
  • Project memberikan pengalaman.
  • Kompetitor memberikan benchmark.
  • Market memberikan signal.
  • Tugas entrepreneur adalah belajar dari semua informasi tersebut.

Pelajaran Besar dari Perjalanan De Luceat

Kisah De Luceat sebenarnya bukan hanya cerita tentang bisnis video production.

Ini adalah cerita tentang bagaimana sebuah kompetensi dapat berubah menjadi bisnis.

Seseorang dapat memulai dari peralatan sederhana.

  • Ia dapat belajar secara otodidak.
  • Ia dapat mengambil pekerjaan kecil.
  • Ia dapat menggunakan media sosial untuk memperlihatkan portfolio.
  • Dari portfolio muncul kepercayaan.
  • Dari kepercayaan muncul networking.
  • Dari networking muncul project.
  • Dari project tumbuh experience.
  • Dari experience tumbuh positioning.

Kemudian bisnis membutuhkan team, system, struktur dan legalitas untuk naik ke tingkat berikutnya.

Jika dirangkum, perjalanan tersebut membentuk sebuah pola:

HOBBY
↓
SKILL
↓
PORTFOLIO
↓
NETWORKING
↓
TRUST
↓
PROFESSIONAL VALUE
↓
TEAM
↓
SYSTEM
↓
SCALE UP

Inilah perjalanan yang sangat banyak terjadi dalam bisnis jasa.

Yang membedakan mereka yang berhenti sebagai hobi dengan mereka yang membangun bisnis adalah keseriusan mengelolanya.


Inspirasi untuk Para Pebisnis

Ada sebuah pertanyaan yang layak kita ajukan kepada diri sendiri setelah memahami perjalanan ini:

Kemampuan apa yang sebenarnya sudah saya miliki hari ini tetapi belum pernah saya lihat sebagai sebuah peluang bisnis?

  • Mungkin kemampuan tersebut adalah membuat desain.
  • Mungkin fotografi.
  • Mungkin memasak.
  • Mungkin berkomunikasi.
  • Mungkin mengajar.
  • Mungkin memperbaiki mesin.
  • Mungkin mengorganisasi event.
  • Mungkin menjual.
  • Mungkin kemampuan menggunakan teknologi tertentu.

Jangan langsung bertanya apakah kemampuan tersebut bisa menjadi perusahaan besar.

Mulailah dengan pertanyaan lebih sederhana:

“Apakah ada seseorang yang bersedia membayar karena kemampuan saya membantu menyelesaikan masalah mereka?”

Jika jawabannya iya, di sanalah sebuah kemungkinan bisnis mulai muncul.

  1. Tidak harus sempurna.
  2. Tidak harus langsung besar.
  3. Tidak harus memiliki semua aset.
  4. Tetapi harus dimulai.

Closing Business Insight

Perjalanan De Luceat memberikan satu pembelajaran besar bahwa entrepreneurship bukan selalu tentang menemukan ide bisnis yang belum pernah dibuat orang lain.

Entrepreneurship sering kali justru dimulai dari kemampuan sederhana yang dikembangkan secara serius.

  • Hobi menjadi skill.
  • Skill menghasilkan karya.
  • Karya membentuk portfolio.
  • Portfolio menghasilkan kepercayaan.
  • Kepercayaan menciptakan pelanggan.
  • Pelanggan membangun pengalaman.
  • Pengalaman membentuk reputasi.

Dan reputasi, ketika didukung dengan sistem bisnis yang profesional, dapat menghasilkan pertumbuhan.

Karena itu, jangan terlalu lama menunggu semua kondisi sempurna.

START.

Kemudian:

Do It.
Measure It.
Learn From It.
Improve It.
Systemize It.
Scale It.

Karena bisnis tidak tumbuh hanya dari sebuah ide.

Bisnis tumbuh ketika ide tersebut terus dijalankan, dipelajari dan diperbaiki secara konsisten.

Silakan Klik Link DE LUCEATS di bawah ini:

Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin  menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

Margetty Herwin is a Certified Master Coach of: Life Coach, Executive Coach, Business and Money Coach, NLP Coach, Time Line Therapy, Green Belt Six Sigma Coach, Master Trainer STRATEGYZER Business Model

Related Posts

Fidelio Soundworks Hobi Menjadi Bisnis Premium

Dari Hobi Membuat Speaker Menjadi Bisnis Premium yang Menjual Kualitas dan Eksklusivitas

Read more

Paguyuban Pedagang Pasar Prawirotaman Yogyakarta Kereen

Pasar rakyat bukan sekadar tempat bertemunya penjual dan pembeli. Di dalamnya terdapat aktivitas ekonomi, hubungan sosial, budaya gotong royong, serta mata pencaharian ribuan keluarga.

Read more

Dian Arifin dari Mantan Atlet Gymnastics jadi Pengusaha

Di balik keberhasilan seorang atlet yang tampil di kejuaraan nasional maupun internasional, terdapat perjalanan panjang yang dimulai dari pengenalan olahraga, dan pembentukan kemampuan dasar

Read more

Joe Matter School of Music Membangun Sekolah Musik Favorit

Sekolah musik sering dipahami hanya sebagai tempat anak belajar bermain piano, gitar, drum, biola, atau teknik vokal.

Read more

Leave a Reply