Entrepreneur Mindset Pengelola Kampung Nelayan Merah Putih
Kampung Nelayan Merah Putih atau KNMP tidak dirancang hanya sebagai kawasan yang memiliki dermaga, kapal, pabrik es, cold storage, bengkel nelayan, sentra kuliner, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan, serta berbagai fasilitas produksi lainnya. KNMP harus dikembangkan sebagai ekosistem usaha kelautan dan perikanan yang terintegrasi, produktif, profesional, dan mampu menciptakan kesejahteraan bagi masyarakat pesisir.
Karena itu, keberhasilan KNMP tidak cukup ditentukan oleh tersedianya bangunan, mesin, bantuan peralatan, anggaran, ataupun program pelatihan. Seluruh fasilitas tersebut baru akan menghasilkan manfaat apabila dikelola oleh sumber daya manusia yang memiliki cara berpikir sebagai pengelola usaha.
Pengelola KNMP harus mampu melihat hubungan antara potensi sumber daya, kebutuhan pasar, proses produksi, kualitas produk, biaya operasional, risiko usaha, pelayanan pelanggan, kemitraan, serta manfaat ekonomi yang diterima masyarakat. Inilah alasan mengapa entrepreneur mindset atau pola pikir kewirausahaan harus dibangun sebelum peserta mempelajari kompetensi teknis, operasional, mutu, keuangan, dan digital. Mindset menjadi fondasi yang menentukan bagaimana seluruh pengetahuan dan fasilitas tersebut digunakan.
Tanpa pola pikir yang tepat, fasilitas hanya akan menjadi aset yang kurang produktif. Namun, apabila pola pikir kewirausahaan telah terbentuk, setiap fasilitas dapat dihubungkan menjadi sebuah sistem usaha yang menciptakan nilai tambah, membuka pasar, memperkuat pendapatan nelayan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Mindset Kewirausahaan Adalah Fondasi, Bukan Sekadar Teori
Pola pikir kewirausahaan sering disalahartikan sebagai keberanian membuka usaha sendiri. Dalam konteks KNMP, pengertiannya jauh lebih luas. Pola pikir kewirausahaan adalah kemampuan pengelola untuk:
- melihat potensi yang tersedia;
- menemukan peluang usaha;
- memahami kebutuhan pelanggan;
- menciptakan nilai tambah;
- membaca siklus usaha;
- mengelola risiko;
- merespons perubahan pasar;
- menggunakan sumber daya secara produktif;
- serta bertanggung jawab terhadap hasil.
Pengelola KNMP mungkin bukan pemilik pribadi dari seluruh fasilitas yang dikelolanya. Namun, mereka tetap harus memiliki rasa kepemilikan, kepedulian, tanggung jawab, dan orientasi hasil sebagaimana seorang wirausaha mengelola bisnisnya.
Mindset ini penting karena keberadaan fasilitas dan bantuan program tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan. Pabrik es yang tidak memiliki pelanggan akan menjadi biaya. Cold storage yang tidak memiliki aliran produk akan menjadi aset menganggur. Sentra kuliner tanpa standar produk dan promosi hanya akan ramai pada waktu tertentu. Bengkel nelayan tanpa sistem pelayanan dan pengadaan suku cadang akan sulit bertahan. Dermaga tanpa tata kelola yang baik dapat menimbulkan antrean, konflik, dan inefisiensi.
Sebaliknya, fasilitas tersebut dapat menjadi sumber pendapatan apabila pengelola mampu melihat hubungan antarfungsi. Pabrik es mendukung mutu hasil tangkapan. Cold storage memperpanjang masa simpan. Dermaga memperlancar pendaratan dan distribusi ikan. Bengkel menjaga kesiapan armada. Sentra kuliner menciptakan nilai tambah produk. Sistem pemasaran menghubungkan hasil produksi dengan pelanggan. Administrasi keuangan memastikan seluruh transaksi tercatat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Dengan demikian, mindset kewirausahaan membuat pengelola tidak berhenti pada pertanyaan, “Fasilitas apa yang tersedia?” tetapi berkembang menjadi, “Bagaimana fasilitas ini menghasilkan manfaat, pendapatan, efisiensi, dan kesejahteraan?”
Perubahan Hasil Dimulai dari Pola Pikir, Pola Diri, dan Pola Kerja
Dalam materi pelatihan dijelaskan bahwa hasil yang lebih baik diperoleh melalui perubahan terhadap tiga unsur penting, yaitu:
Pola Pikir atau Thinking + Pola Diri atau Being + Pola Kerja atau Doing = Results.
Ketiga unsur tersebut harus berubah secara bersamaan.
1. Pola Pikir: Bagaimana Pengelola Melihat Usaha
Pola pikir menentukan cara seseorang memahami situasi. Dua pengelola dapat menghadapi kondisi yang sama, tetapi menghasilkan keputusan yang berbeda karena memiliki sudut pandang yang berbeda.
Sebagai contoh, ketika produksi ikan menurun, seseorang yang hanya berorientasi pada masalah mungkin berkata, “Cuaca sedang buruk sehingga tidak ada yang dapat dilakukan.” Sementara pengelola yang memiliki entrepreneur mindset akan bertanya:
- Apakah tersedia komoditas lain?
- Apakah produk yang ada dapat diolah?
- Apakah jadwal produksi perlu disesuaikan?
- Apakah cold storage dapat digunakan untuk menjaga persediaan?
- Apakah tersedia peluang kemitraan dengan wilayah lain?
- Apakah kondisi ini dapat diprediksi dari data sebelumnya?
- Bagaimana mengurangi biaya selama produksi menurun?
Pola pikir kewirausahaan mengarahkan pengelola untuk bergerak dari problem oriented menjadi solution and opportunity oriented. Masalah tetap diakui, tetapi energi pengelola tidak berhenti pada keluhan. Masalah dianalisis, dicari akar penyebabnya, dipetakan risikonya, dan ditindaklanjuti melalui keputusan yang realistis.
2. Pola Diri: Siapa Pengelola KNMP dalam Menjalankan Tanggung Jawab
Pola diri berkaitan dengan identitas, nilai, keyakinan, sikap, kepercayaan diri, komunikasi, dan kemampuan beradaptasi. Pengelola KNMP harus melihat dirinya bukan sekadar sebagai pelaksana program atau penerima instruksi, melainkan sebagai penggerak ekosistem usaha masyarakat pesisir.
Identitas tersebut harus tercermin dalam perilaku sehari-hari. Pengelola perlu menunjukkan integritas dalam keuangan, disiplin dalam operasional, kepedulian terhadap mutu, keterbukaan terhadap anggota, keberanian mengambil keputusan, serta kesediaan mempertanggungjawabkan hasil.
Pola diri yang kuat membuat pengelola tidak mudah menyerah ketika menghadapi konflik kelompok, perubahan harga, keterbatasan modal, kerusakan fasilitas, penurunan produksi, maupun tekanan pasar. Ia memiliki keyakinan bahwa setiap persoalan dapat dipelajari, dikelola, dan diperbaiki secara bertahap.
3. Pola Kerja: Bagaimana Strategi Diwujudkan
Pola pikir yang baik tidak akan menghasilkan perubahan apabila tidak diterjemahkan menjadi pola kerja. Pengelola KNMP memerlukan tujuan, rencana, pembagian peran, prosedur, ukuran kinerja, jadwal pelaksanaan, monitoring, evaluasi, dan tindak lanjut.
Pola kerja kewirausahaan ditunjukkan melalui kebiasaan seperti:
- menetapkan target produksi dan penjualan;
- membuat rencana operasional;
- mencatat transaksi;
- memonitor stok dan arus kas;
- mengendalikan kualitas;
- mengukur pemakaian fasilitas;
- melakukan briefing;
- menindaklanjuti pelanggan;
- serta mengevaluasi hasil secara berkala.
Dengan kata lain, pola pikir memberikan arah, pola diri membentuk karakter, dan pola kerja memastikan tindakan dilakukan secara konsisten. Ketiganya menjadi sumber perubahan hasil.
Mengubah KNMP dari Program Menjadi Ekosistem Usaha
Salah satu perubahan cara pandang paling penting adalah mengubah KNMP dari sekadar program bantuan menjadi ekosistem usaha yang hidup dan saling terhubung.
Dalam pola pikir lama, pengelola mungkin lebih banyak menunggu fasilitas, bantuan, arahan, atau anggaran. Dalam pola pikir kewirausahaan, pengelola mulai memikirkan bagaimana seluruh sumber daya tersebut menghasilkan nilai ekonomi secara berkelanjutan.
Perubahan cara pandang tersebut dapat dijelaskan melalui empat pergeseran.
Dari Program Bantuan Menjadi Ekosistem Usaha
Bantuan adalah titik awal, bukan tujuan akhir. Kapal, mesin, gudang, cold storage, pabrik es, dan sarana lainnya harus dihubungkan dalam model usaha yang jelas.
Pengelola perlu mengetahui siapa yang menggunakan fasilitas, bagaimana sistem pembayarannya, berapa biaya operasionalnya, bagaimana pemeliharaannya, siapa penanggung jawabnya, serta bagaimana manfaatnya dibagikan secara adil.
Dari Aktivitas Kerja Menjadi Penciptaan Nilai
Kesibukan bukan ukuran keberhasilan. Banyak aktivitas dapat dilakukan tanpa menghasilkan manfaat ekonomi.
Pengelola perlu membedakan antara activity dan productive action. Membersihkan fasilitas, mencatat transaksi, menerima ikan, mengoperasikan mesin, dan mengadakan rapat memang penting. Namun, setiap aktivitas harus dihubungkan dengan hasil seperti peningkatan produktivitas, penurunan biaya, peningkatan mutu, pertumbuhan pelanggan, peningkatan pendapatan, atau pengurangan risiko.
Dari Orientasi Produksi Menjadi Orientasi Pasar dan Pelanggan
Produk yang tersedia belum tentu dibutuhkan pasar. Karena itu, pengelola tidak cukup hanya memastikan ikan ditangkap atau diolah. Mereka harus memahami siapa pembelinya, kualitas yang diinginkan, volume yang dibutuhkan, waktu pengiriman, harga yang dapat diterima, bentuk kemasan, serta standar pelayanan.
Produksi harus dimulai atau setidaknya dikendalikan berdasarkan informasi pasar. Dengan cara ini, KNMP tidak hanya menghasilkan barang, tetapi menghasilkan produk yang relevan dan memiliki pembeli.
Dari Menunggu Masalah Menjadi Adaptif dan Solutif
Pengelola yang reaktif baru bergerak setelah masalah menjadi besar. Pengelola yang adaptif membaca tanda-tanda perubahan lebih awal.
Perubahan cuaca, harga bahan bakar, ketersediaan ikan, kondisi mesin, permintaan pelanggan, biaya distribusi, tren produk, serta kemampuan bayar mitra harus dipantau. Dengan demikian, keputusan dapat dibuat sebelum risiko berkembang menjadi kerugian.
Perubahan cara pandang ini merupakan pintu masuk perubahan perilaku usaha. Materi pelatihan menempatkan KNMP bukan sebagai kumpulan fasilitas, melainkan sebagai sistem usaha yang perlu dikelola secara profesional, efisien, dan berorientasi hasil.
Empat Kemampuan Utama dalam Entrepreneur Mindset KNMP
Struktur pola pikir kewirausahaan bagi pengelola KNMP dapat dibangun melalui empat kemampuan utama: melihat potensi, menciptakan nilai, memahami siklus usaha, dan beradaptasi terhadap pasar.
1. Melihat Potensi Usaha
Pengelola harus mampu mengidentifikasi seluruh sumber daya yang tersedia, antara lain:
- komoditas ikan dan hasil laut;
- fasilitas produksi;
- sumber daya manusia;
- keterampilan masyarakat;
- jaringan nelayan;
- lokasi geografis;
- pasar lokal dan regional;
- pelanggan potensial;
- serta peluang kemitraan.
Potensi tidak selalu berbentuk barang. Data pelanggan, pengalaman nelayan, reputasi kampung, kedekatan dengan jalur distribusi, resep kuliner lokal, komunitas perempuan pengolah ikan, serta generasi muda yang memahami teknologi digital juga merupakan aset.
Cara berpikir kewirausahaan mengajarkan bahwa setiap potensi harus dipetakan berdasarkan kemungkinan manfaatnya. Pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya “Apa yang kita miliki?”, tetapi “Apa yang dapat kita hasilkan dari apa yang kita miliki?”
2. Menciptakan Nilai Tambah
Nilai tambah muncul ketika produk atau layanan menjadi lebih bermanfaat, lebih mudah digunakan, lebih aman, lebih menarik, lebih tahan lama, atau lebih sesuai dengan kebutuhan pelanggan.
Ikan yang dijual langsung setelah pendaratan memiliki nilai tertentu. Nilainya dapat meningkat setelah melalui proses penyortiran, pendinginan, pembersihan, pemotongan, pengemasan, pengolahan, pemberian merek, sertifikasi mutu, dan distribusi yang tepat.
Nilai tambah juga dapat diciptakan melalui pelayanan. Misalnya, kecepatan pelayanan es, kepastian stok, sistem pemesanan digital, kebersihan sentra kuliner, transparansi harga, ketepatan pengiriman, serta penanganan keluhan.
Pengelola perlu memahami bahwa pelanggan tidak hanya membeli ikan. Pelanggan membeli kualitas, kesegaran, kemudahan, kepastian, keamanan, kepercayaan, dan pengalaman pelayanan.
3. Memahami Siklus Usaha dan Risiko
Usaha kelautan dan perikanan memiliki siklus yang dipengaruhi oleh musim, cuaca, ketersediaan komoditas, biaya bahan bakar, kapasitas fasilitas, waktu penyimpanan, mutu produk, permintaan pasar, dan pola pembayaran.
Pengelola harus memahami alur dari input, proses produksi, penanganan hasil, penyimpanan, distribusi, penjualan, penagihan, penerimaan kas, hingga evaluasi usaha.
Pada setiap tahapan terdapat risiko. Di tingkat input terdapat risiko kenaikan harga dan keterlambatan pasokan. Dalam produksi terdapat risiko cuaca, kecelakaan, kerusakan mesin, dan hasil yang tidak sesuai target. Dalam penyimpanan terdapat risiko kerusakan produk dan pemborosan energi. Dalam pemasaran terdapat risiko perubahan harga, penolakan produk, serta pembayaran yang terlambat.
Entrepreneur mindset tidak berarti menghindari seluruh risiko. Pola pikir kewirausahaan berarti mengenali, mengukur, mengantisipasi, dan mengendalikan risiko agar keputusan tidak dibuat berdasarkan dugaan semata.
4. Beradaptasi terhadap Perubahan Pasar
Pasar hasil perikanan dapat berubah cepat. Harga dapat naik atau turun. Konsumen dapat menginginkan produk yang lebih praktis. Restoran dan hotel dapat meminta standar tertentu. Pedagang besar dapat mengubah volume pembelian. Pelanggan digital dapat membandingkan harga dan kualitas dengan lebih mudah.
Pengelola KNMP harus mampu membaca data permintaan, keluhan pelanggan, perubahan tren, harga pesaing, kecepatan penjualan, serta produk yang paling diminati. Informasi tersebut menjadi dasar untuk memperbaiki produk, harga, pelayanan, promosi, dan distribusi.
Adaptasi bukan berarti mengikuti seluruh perubahan secara tergesa-gesa. Adaptasi berarti mampu menilai perubahan dan meresponsnya secara cepat, tepat, dan bertanggung jawab.
SMART Entrepreneurial Mindset sebagai Kerangka Praktis
Materi pelatihan memperkenalkan pendekatan SMART Entrepreneurial Mindset sebagai kerangka sederhana untuk membantu pengelola menghubungkan cara berpikir dengan tindakan nyata.
S — See the Business Reality
Pengelola harus melihat kondisi usaha secara nyata, bukan berdasarkan asumsi.
Berapa kapasitas fasilitas yang digunakan? Berapa jumlah pelanggan aktif? Berapa biaya listrik cold storage? Berapa produk yang rusak? Berapa transaksi yang belum dibayar? Berapa pendapatan setiap unit? Apa keluhan pelanggan? Apa penyebab fasilitas tidak digunakan secara optimal?
Keberanian melihat realitas merupakan langkah pertama perbaikan. Data yang tidak menyenangkan tetap harus dibuka karena keputusan yang benar hanya dapat dibuat dari informasi yang benar.
M — Make Added Value
Setelah memahami realitas, pengelola harus mencari cara menciptakan nilai tambah melalui mutu, layanan, efisiensi, inovasi, kecepatan, kenyamanan, dan kepercayaan pelanggan.
Nilai tambah tidak selalu membutuhkan investasi besar. Perbaikan kebersihan, ketepatan timbangan, kemasan yang rapi, pencatatan pesanan, pelayanan yang cepat, serta komunikasi yang jelas dapat meningkatkan kepercayaan dan nilai produk.
A — Anticipate Cycle and Risk
Pengelola perlu mengantisipasi perubahan musim, pasokan, permintaan, biaya, kapasitas penyimpanan, serta risiko operasional.
Antisipasi dilakukan dengan pencatatan data, pemeliharaan fasilitas, perencanaan stok, penyediaan dana cadangan, pengamanan pasar, pengaturan jadwal, dan penyusunan skenario alternatif.
R — Respond to Market Change
Perubahan pasar harus direspons berdasarkan informasi, bukan kepanikan.
Ketika permintaan produk segar menurun, pengelola dapat mengembangkan produk beku atau olahan. Ketika harga komoditas tertentu turun, pengelola dapat mencari segmen pelanggan lain. Ketika pelanggan menginginkan pengiriman lebih cepat, sistem distribusi perlu diperbaiki.
Kecepatan merespons pasar menjadi salah satu pembeda antara unit usaha yang bertahan dan unit usaha yang tertinggal.
T — Take Accountable Action
Setiap analisis harus berakhir pada tindakan. Tindakan tersebut harus memiliki target, penanggung jawab, waktu pelaksanaan, sumber daya, indikator keberhasilan, dan evaluasi.
Pengelola tidak cukup mengatakan, “Pemasaran perlu diperkuat.” Pernyataan tersebut harus diubah menjadi langkah konkret, misalnya menyusun daftar calon pelanggan, menghubungi pelanggan potensial, membuat katalog digital, menetapkan target penjualan, serta mengevaluasi hasil setiap minggu.
Accountable action berarti keputusan dan tindakan dapat dijelaskan, diukur, dilaporkan, dan dipertanggungjawabkan.
Lima Disiplin Kepemimpinan Pengelola KNMP
Pengelola KNMP juga perlu membangun lima disiplin kepemimpinan agar ekosistem usaha dapat bertumbuh secara berkelanjutan.
Sustainability
Setiap unit usaha harus mempunyai strategi keberlanjutan. Pendapatan harus mampu mendukung biaya operasional, pemeliharaan, pengembangan SDM, serta perlindungan lingkungan.
Predictability
Usaha perlu memiliki tingkat kepastian yang semakin baik. Pengelola harus mampu memproyeksikan permintaan, produksi, pendapatan, biaya, arus kas, dan kapasitas fasilitas.
Stability
Organisasi memerlukan orang, peran, aturan, dan kepemimpinan yang stabil. Ketergantungan pada satu individu harus dikurangi melalui pembagian tugas, dokumentasi proses, serta pengembangan kompetensi anggota.
Consistency
Standar operasional, mutu, pencatatan, pelayanan, evaluasi, dan tindak lanjut harus dilakukan secara konsisten. Keberhasilan tidak boleh hanya muncul ketika ada pengawasan atau kunjungan pejabat.
Connection
KNMP perlu membangun hubungan dengan nelayan, koperasi, masyarakat, pembeli, industri pengolahan, lembaga pembiayaan, pemerintah daerah, perguruan tinggi, komunitas, dan pasar digital.
Kekuatan KNMP tidak hanya terletak pada fasilitasnya, tetapi juga pada jejaring dan kemitraan yang mampu dibangun.
Praktik Kontekstual:
Belajar dari Kondisi Nyata KNMP
Entrepreneur mindset tidak efektif apabila hanya diajarkan melalui ceramah. Pengelola perlu belajar dari kondisi nyata unit usaha melalui observasi lapangan, dialog, pemetaan masalah, dan aksi perbaikan.
Peserta dapat mengamati pabrik es, dermaga, cold storage, bengkel, sentra kuliner, kapal, SPBN, maupun unit usaha lainnya. Setelah itu, peserta menjawab beberapa pertanyaan penting:
- Apa fungsi dan potensi unit usaha tersebut?
- Siapa pelanggan yang dilayani?
- Nilai apa yang diberikan kepada pelanggan?
- Apa masalah atau titik kritisnya?
- Di bagian mana terjadi pemborosan waktu, biaya, mutu, atau pelayanan?
- Apa risiko yang dapat mengganggu hasil?
- Perubahan apa yang dapat segera dilakukan?
- Siapa yang bertanggung jawab?
- Bagaimana hasil perbaikan akan diukur?
Pendekatan ini membuat peserta tidak hanya menghafal definisi kewirausahaan. Mereka belajar membaca kenyataan, menemukan peluang, memahami persoalan, dan menyusun tindakan perbaikan. Materi kemudian berubah dari sekadar teori menjadi alat kerja praktis.
Output Belajar yang Harus Dihasilkan
Setelah memahami entrepreneur mindset, setiap pengelola seharusnya mampu menyusun gambaran sederhana mengenai kondisi usaha KNMP yang mencakup enam bagian.
- Pertama, potensi usaha, yaitu sumber daya, fasilitas, pelanggan, keterampilan, dan peluang yang tersedia.
- Kedua, pelanggan dan kebutuhannya, yaitu siapa yang dilayani dan masalah apa yang perlu diselesaikan.
- Ketiga, nilai tambah, yaitu manfaat tambahan yang dapat diciptakan melalui mutu, layanan, efisiensi, kemasan, kenyamanan, atau kepercayaan.
- Keempat, siklus dan risiko usaha, yaitu alur usaha serta faktor yang dapat menghambat mutu, biaya, waktu, dan hasil.
- Kelima, perubahan pasar, yaitu perkembangan harga, permintaan, persaingan, tren konsumsi, dan perilaku pelanggan.
- Keenam, tindakan awal, yaitu prioritas realistis yang dapat segera dijalankan setelah pelatihan.
Output tersebut penting agar pelatihan tidak berhenti pada pemahaman materi.
Setiap peserta harus membawa pulang rencana perbaikan yang dapat diterapkan sesuai jabatan dan kondisi wilayahnya.
Risiko Apabila Mindset Hanya Dipahami sebagai Teori
Apabila materi kewirausahaan hanya disampaikan sebagai pengetahuan, peserta mungkin mampu menjelaskan definisi potensi, nilai tambah, risiko, dan pasar. Namun, mereka belum tentu mampu membaca kondisi usaha yang sebenarnya.
Akibatnya, fasilitas tetap dikelola sebagai aset bantuan. Aktivitas operasional dilakukan sebagai rutinitas. Masalah terus berulang. Data tidak digunakan. Pelanggan tidak dipahami. Risiko baru ditangani setelah menimbulkan kerugian. Kegiatan pelatihan selesai, tetapi perilaku pengelolaan tidak berubah.
Sebaliknya, apabila mindset dijadikan fondasi mentoring, peserta akan mulai:
- melihat usaha secara menyeluruh;
- menentukan prioritas;
- menghubungkan fasilitas dengan pasar;
- memahami biaya dan manfaat;
- menemukan titik kritis;
- menciptakan nilai tambah;
- serta bertindak dengan tanggung jawab.
Karena itu, ukuran keberhasilan pelatihan bukan hanya kelulusan peserta atau selesainya penyampaian modul. Ukuran utamanya adalah perubahan cara berpikir dan perubahan perilaku dalam mengelola usaha KNMP.
Penutup: KNMP Harus Tumbuh sebagai Ekosistem Usaha yang Menyejahterakan
Entrepreneur mindset merupakan fondasi yang mengarahkan seluruh fasilitas, pengetahuan, kompetensi teknis, sistem pengelolaan, dan dukungan pemerintah agar digunakan secara produktif dan bertanggung jawab.
Pengelola KNMP harus mampu melihat peluang di balik potensi lokal, menciptakan nilai tambah dari hasil kelautan dan perikanan, memahami siklus serta risiko usaha, merespons perubahan pasar, dan mengambil tindakan yang terukur.
Pola pikir kewirausahaan bukan sekadar keberanian membuka usaha. Pola pikir kewirausahaan adalah kemampuan untuk berpikir sebagai pencipta nilai, bertindak sebagai pengelola yang bertanggung jawab, dan bekerja sebagai bagian dari ekosistem yang saling terhubung.
Pada akhirnya, KNMP tidak cukup dibangun dengan fasilitas. KNMP harus dihidupkan oleh sumber daya manusia yang mampu berpikir, mengelola, berkolaborasi, beradaptasi, dan bertindak sebagai penggerak ekonomi masyarakat pesisir.
Ketika mindset kewirausahaan dipahami dan diterapkan dengan benar, KNMP tidak hanya berjalan sebagai program pemerintah. KNMP dapat tumbuh sebagai ekosistem usaha yang produktif, mandiri, berkelanjutan, menciptakan nilai ekonomi, memperkuat kelembagaan masyarakat, dan meningkatkan kesejahteraan nelayan beserta keluarganya.
Pada Tahun 2024 saya berkesempatan mengunjungi Kampung Nelayan KALAMO di Pulau Biak Numfor, Propinsi Papua. Saya mengadakan training motivasi dan mindset yang harus dimiliki oleh para pengurus dan anggota Koperasi di Kampung Nelayan Samber Binyeri.
Yang harus benar-benar dilakukan bagi para pendamping dan penyuluh program ini adalah membangun nilai nilai OWNERSHIP, ACCOUNTABLE & RESPONSIBLE bagi seluruh Tim dan Jaringan yang terlibat dalam jalankan program ini.
Jika Anda seorang pebisnis atau profesional yang ingin menemukan potensi terbaik dan membangun Bisnis Anda menjadi lebih berkembang dari saat ini, silakan hubungi Master Coach Margetty Herwin, SBCF Admin WA 0822-4902-3902 Untuk mendapatkan sesi Business Diagnosis Gratis, dan mendapatkan info mengenai jadwal dan topik seminar kami, silakan contact via email ke: info.sbcf@gmail.com

